STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SUHU SINTERING TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK KOMPOSIT PLASTIK (HDPE-PET)-KARET BAN BEKAS

DESTYANTO , FENDY (2007) STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SUHU SINTERING TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK KOMPOSIT PLASTIK (HDPE-PET)-KARET BAN BEKAS. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1409Kb)

    Abstract

    Kondisi limbah bahan plastik di Indonesia sudah sangat memprihatinkan, dan secara tidak langsung mengancam kehidupan umat manusia. Data Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag) terungkap volume impor barang-barang plastik tahun 2003 mencapai 108.070 ton dengan peningkatan rata-rata sekitar 11,1% per tahun dari tahun sebelumnya. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah mengingat semakin meningkatnya penggunaan produk dari plastik. Jumlah ini akan terus terakumulasi disebabkan sifat plastik yang tidak membusuk, tidak terurai secara alami, tidak menyerap air, maupun tidak berkarat, dan pada akhirnya menimbulkan masalah bagi lingkungan (YBP, 1986). Data urut-urutan jenis plastik yang paling besar pemakaiannya yaitu; HDPE (High-density polyethylene) yaitu 62%, kemudian disusul dengan PET (Polyethylene terephthalate) 23%, PVC (Polyvinyl chloride) 6%, LDPE (Low- density polyethylene) 4%, PP (Polypropylene) 4%, PS (Polystyrene) 1% (The Public Bottle Institute, 2005). Selain plastik, jenis limbah lain yang sering menimbulkan masalah adalah ban bekas. Di Eropa, setiap tahunnya menghasilkan ban bekas sebanyak 2,2 juta ton yang 34,4% diantaranya tak termanfaatkan (globaltechnoscan.com). Di Amerika Serikat hampir 300 juta ban mobil bekas dibuang tiap tahunnya. Upaya pemusnahan dengan cara pembakaran yang biasa dilakukan oleh masyarakat ternyata menghasilkan dampak polusi yang lebih berbahaya, disamping asapnya yang hitam juga kandungan karet, karbon, dan unsur kimia lainnya yang berpengaruh buruk pada kesehatan manusia. (Hasballah, 2003). Selain menimbulkan masalah, sampah plastik maupun karet dapat juga dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Setyawati (2003) menyebutkan sejak tahun 1990 di Jepang dan Amerika penggunaan sampah plastik bersama serbuk kayu untuk pembuatan wood plastic composite (WPC) berkembang pesat. Keunggulan material WPC antara lain murah, bahan bakunya melimpah, fleksibel dalam proses pembuatannya, kerapatannya rendah, serta lebih bersifat biodegradable. Beberapa contoh penggunaan produk ini antara lain sebagai komponen interior kendaraan (mobil, kereta), perabot rumah tangga, maupun komponen bangunan (jendela, pintu, dinding, lantai, pintu). Haiar ( 2000) menuliskan dalam laporan penelitiannya bahwa WPC dari plastik PVC mempunyai kekuatan yang tinggi dan mampu memenuhi persyaratan sebagai material struktur deck. Struktur deck ini mampu menahan beban dari forklift seberat 16000 lbs. Material ini terbuat dari campuran 50 % massaPVC dan 50 % massa serbuk kayu. Pemanfaatan lain dari sampah plastik yang di Amerika adalah untuk bantalan rel kereta api. Komposit ini terdiri dari serbuk HDPE dengan recycle polysterene. Bahan ini mempunyai modulus elastisitas 250.000 psi dan pada pembebanan kereta dengan berat kotor totol 500 juta ton tidak mengalami kerusakan ataupun adanya gejala penurunan sifat (degradation) ataupun keausan. (CERL, 1994) Beberapa upaya pemanfaatan ban bekas telah dilakukan. Di negara maju, ban bekas dimanfaatkan sebagai campuran aspal pelapis jalan setelah dihancurkan atau digunakan sebagai bahan bakar tambahan bagi batubara di pusat pembangkit listrik (Amari et.al, 2000). Ban bekas juga dikembangkan sebagai bahan campuran dalam mortar (Raghavan et.al, 1998). Penambahan karet pada mortar akan memperkuat ketahanan retak, mengurangi penyusutan plastis, serta meningkatkan peredaman suara (Raghavan dan Ferraris, 1998) Penerapan teknologi serbuk diharapkan dapat dipakai sebagai sarana untuk menekan jumlah sampah, khususnya sampah plastik dan ban bekas. Teknologi serbuk, khususnya metalurgi serbuk, telah lama dikembangkan terutama untuk membentuk produk dengan bentuk yang rumit dan berukuran kecil atau menghasilkan produk dari bahan yang tidak dapat dikenai permesinan (seperti karbida dan keramik). Teknologi ini mensyaratkan bahan dasarnya berbentuk serbuk dengan melalui tahap proses: pencampuran, pengepresan (kompaksi), dan sintering. Parameter yang sangat menentukan dalam proses sintering diantaranya adalah pengontrolan suhu sintering. Morrin dan Farris (2000) melakukan sintering serbuk karet ban bekas dengan proses sintering tekan panas (hot isostated pressure sintering). Hasilnya menunjukkan bahwa, pengaruh suhu sintering terhadap sifat mekanik cukup signifikan hingga 200 o C. Peningkatan suhu lebih lanjut tidak menghasilkan perbaikan sifat material yang signifikan. German (1994) menyebutkan bahwa pada sintering campuran antara serbuk tembaga dan timah didapatkan korelasi bahwa, dengan naiknya suhu sintering akan memperbaiki sifat fisik hasil pada batas nilai tertentu. Pada suhu 232 o C, hanya akan meninggalkan sedikit pori, akan tetapi pada suhu diatas 600 o C pori yang ditingglkan relatif lebih besar. Hal ini disebabkan karena perbedaan diffusifitas antar kedua bahan, sehingga akan meninggalkan pori yang lebih besar. Berdasarkan uraian diatas, memungkinkan untuk membuat komposit plastik dengan karet. Pengaturan suhu sintering saat proses pembuatan komposit sangat menentukan sifat-sifat komposit yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan menaikkan suhu sintering belum tentu meningkatkan sifat-sifat yang dihasilkan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh suhu sintering terhadap sifat fisik dan mekanik komposit plastik (HDPE, PET) – karet ban bekas.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > TP Chemical technology
    Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Mesin
    Depositing User: Saputro Bagus
    Date Deposited: 12 Jul 2013 05:40
    Last Modified: 12 Jul 2013 05:40
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2471

    Actions (login required)

    View Item