Pemanfaatan pelepah pisang Pada kain tenun atbm sebagai tirai

Handayani, Sri (2007) Pemanfaatan pelepah pisang Pada kain tenun atbm sebagai tirai. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (215Kb)

    Abstract

    Indonesia termasuk penghasil pisang terbesar di Asia, karena sekitar 50% produksi pisang Asia berasal dari Indonesia. Sentra produksi pisang di Indonesia adalah Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan NTB. (Suyanti Satuhu dan Ahmad Supriyadi, 2006: 4) Pisang tidak hanya di konsumsi tetapi juga menjadi bagian dari sesaji yang menyertai upacara adat istiadat di Indonesia. Tanaman pisang banyak ditanam penduduk Indonesia, ternyata tidak semua orang bisa memahami kultur pohon pisang sepenuhnya. Sebagian besar petani pisang atau masyarakat masih menganggap budidaya tanaman pisang hanya dipanen buahnya saja, sedangkan daun, pelepah batang hingga akarnya tidak dianggap penting. Berbagai manfaat dari bagian – bagian tanaman pisang adalah sebagai berikut: - Bunga pisang disebut juga jantung pisang, biasanya dimanfaatkan untuk dibuat sayur (acar, lalapan dan manisan) - Daun pisang digunakan sebagai pembungkus makanan. - Buah pisang digunakan sebagai makanan baik mentah maupun di olah dahulu. - Bonggol pisang merupakan batang tanaman pisang yang berupa umbi batang dan yang masih muda dapat dimanfaatkan untuk sayur. Batang pisang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat misalnya untuk membuat lubang pada bangunan, alas memandikan mayat, menutup saluran air pada waktu irigasi, untuk tancapan wayang, dan untuk tali industri pengolahan tembakau (dikeringkan terlebih dahulu). Pohon pisang bisa dikatakan tanaman multifungsi, karena mulai buah, pelepah, daun sampai akarnya bermanfaat dan bernilai. Kejalian dan kreatifitas dalam menangkap ide cemerlang untuk memanfaatkan pelepah pisang menjadi bahan pokok dalam pembuatan beragam keterampilan atau kreasi seni, seperti tas, kotak tissue, dan hantaran pernikahan, hiasan dinding, rangkaian bunga, dan bros. Pelepah piasang dapat pula ditenun menjadi selembar kain untuk dijadikan pakaian dan tirai. Tirai adalah salah satu elemen interior yang perlu mendapat perhatuan besar dalam penataan rumah tinggal, dan memiliki fungsi yang cukup dominan. Tirai berperan penting sebagai penutup dan pengatur masuknya sinar matahari serta menentukan pembentukan dekorasi rumah. Jenis – jenis bahan tirai juga sangat beragam, seperti satin, lace, tenun, belacu dan batik. Bahan tekstil dari tenunan memiliki sifat kasar dan alami sehingga banyak dipilih untuk dijadikan tirai rumah, karena tampilannya yang kasual. Kain tenun cenderung lebih tebal dan berat daripada kain buatan pabrik.(Imelda Akmal, 2006: 1) Bahan tirai dari tenunan antara lain: katun, dan serat alam. Bahan dari serat alam yang dapat ditenun menjadi tirai misalnya: serat nanas, bambu, mendong dan serat pelepah pisang. Ragam kain tenun cukup banyak, salah satunya untuk bahan soft furnising untuk tirai.(Imelda Akmal, 2006:30) Pada masa modern seperti sekarang penerapan tekstil tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sandang saja, tetapi sudah mencakup banyak hal. Tekstil Interior merupakan yang sering diterapkan dan juga merupakan sebagai suatu pengungkapan status sosial. Tekstil sebagai pengungkapan status sosial dapat dilihat dari merk dan penggunaan bahan kain. Keluwesan yang diberikan tekstil interior pada suatu ruang untuk memudahkan dalam pemakaian dan pemasangan. Rumah tinggal merupakan tempat dari sekumpulan ruang pribadi yang dilengkapi dengan ruang pemersatu. Suatu bangunan meliputi berbagai ruang yang merupakan suatu organisasi tersendiri. Dalam satu bangunan diusahakan adanya ciri khas dan gaya yang sama. Pada umumnya rumah tinggal setidak-tidaknya memiliki ruang tamu, ruang teras, dapur, kamar tidur, kamar mandi, dan kloset harus ada. Kecuali jika tanahnya cukup luas dapat ditambah kolam renang, garasi, taman, maupun ruang kerja. Mengenal macam-macam ruang bertujuan untuk menentukan dekorasi yang sesuai dengan ruang sehingga dapat mewujudkan suasana yang beda dan karakter. Penerapan pelengkap tekstil interior tidak boleh dirancang lebih menonjol dari ruang itu sendiri beserta perabotnya. ( Fritz Wilkening, 1996: 129 )

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: UNSPECIFIED
    Depositing User: Saputro Bagus
    Date Deposited: 12 Jul 2013 05:02
    Last Modified: 12 Jul 2013 05:02
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2465

    Actions (login required)

    View Item