DAMPAK LIMBAH CAIR PABRIK TEKSTIL PT KENARIA TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI WINONG SEBAGAI IRIGASI PERTANIAN DI DESA PURWOSUMAN KECAMATAN SIDOHARJO KABUPATEN SRAGEN 2010

Muzamil, M. Agus (2010) DAMPAK LIMBAH CAIR PABRIK TEKSTIL PT KENARIA TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI WINONG SEBAGAI IRIGASI PERTANIAN DI DESA PURWOSUMAN KECAMATAN SIDOHARJO KABUPATEN SRAGEN 2010. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1055Kb)

    Abstract

    Air merupakan salah satu kebutuhan yang mutlak bagi kehidupan manusia baik untuk kebutuhan domestik pertanian maupun industri. Air adalah sumberdaya yang amat penting akan tetapi ketersediaan baik kualitas maupun kuantitasnya terbatas, sehingga perlu di pikirkan kelestariannya. Air juga merupakan sumberdaya alam yang memenuhi kebutuhan hidup orang banyak sehingga perlu dilindungi agar tetap bermanfaat bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya ( PP No. 20, Tahun1990 ) . Penggunaan air di Indonesia meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk dan perkembangan usaha-usaha yang memerlukan air. Biasanya peningkatan jumlah kebutuhan air disertai peningkatan jumlah pencemaran karena sebagian air yang dibutuhkan dipakai untuk usaha buangan air berupa air kotor ( tercemar ) . Air dikatakan tercemar, bila pembebasan akan bahan buangan ( kontaminan ) sampai pada suatu tingkat keadaan tertentu dapat membahayakan fungsi dari badan air tersebut ( Slamet Ryadi, 1984: 10 ) Air sebagai komponen lingkungan hidup akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh komponen lainnya. Air yang kualitasnya buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya. Dari penduduk dunia dewasa ini, hanya 30% yang memperoleh air bersih, 70% sisanya tergantung pada sumur dan sumber air yang sudah tercemar ( Anonim, dalam Susanto, 2004:1 ) . Pada dasarnya pencemaran lingkungan perairan telah terjadi bertahuntahun. Namun kondisi tersebut belum menjadi persoalan yang serius, karena tingkatnya dianggap belum membahayakan. Bahkan sebagian orang menganggap hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari pembangunan. Namun dengan semakin meningkatnya kebutuhan manusia akan air bersih menjadikan pencemaran tersebut sebagai persoalan yang semakin serius dan memerlukan penanganan secara tepat dan cepat,karena ketersediaan sumberdaya alam termasuk air jumlahnya terbatas dan tidak merata, baik dalamkualitas maupun kuantitiasnya. Apabila pemanfaatan sumberdaya alam yang ada tidak seimbang dengan ketersediaanya menyebabkan pencemaran lingkungan hidup. Pencemaran lingkungan membawa dampak rusaknya struktur dan fungsi dasar sebagai penunjang kehidupan ( Hadi, 2001:1 ) Banyak pabrik yang didirikan di sekitar sumber air berkaitan dengan pemanfaatan air dalam proses produksi. Di Indonesia masih banyak pabrik yang membuang limbah baik yang sudah diolah atau belum, secara langsung atau tidak langsung ke perairan. Limbah yang dibuang ke dalam lingkungan perairan inilah yang menyebabkan pencemaran air atau perairan yang selanjutnya akan menimbulkan banyak masalah yang berkenaan dengan kesehatan, pada kenyataanya masyarakat Indonesia yang bermukim di sekitar sungai memanfaatkan air tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air dalam industri digunakan untuk proses produksi maupun sebagai sarana pengangkut limbah yang dihasilkan. Menurut Walton ( 1970 ) dalam ( Toni Kurniawan 2004: 2 ) , bahwa penggunaan air dalam industri selama proses produksi dapat sebagai pendingin, media pengolahan, pencuci, penguapan maupun sanitasi. Pada pasca produksi air digunakan sebagai sarana pengangkut sisa-sisa produksi atau disebut limbah. Pencemaran sungai terjadi karena perubahan kualitas air sungai sebagai akibat masuknya limbah secara berlebihan oleh berbagai kegiatan pada daerah pengalirannya. Salah satu limbah yang dihasilkan oleh industri adalah logamlogam yang berbahaya bila mencemari lingkungan air adalah logam berat. Logam berat yaitu logam yang mempunyai massa atom diatas 40 seperti besi ( Fe ) , nikel ( Ni ) , timbal ( Pb ) , seng ( Zn ) , tembaga ( Cu ) , cadmium ( Cd ) , air raksa ( Hg ) , dan krom ( Cr ) . Kelarutan logam-logam tersebut dalam air limbah cukup besar, lebih besar dibandingkan dengan kelarutan logam tersebut secara normal ( Anonim, dalam Susanto, 2004:3 ) Penyebab logam berat menjadi bahan pencemar yang berbahaya karena logam berat tidak dapat dihancurkan ( nondegradable ) oleh organisme hidup dan terakumulasi ke lingkungan, terutama mengendap di dasar perairan membantu senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik secara absorbsi dan kombinasi. Logam-logam berat tersebut akan menimbulkan masalah lingkungan karena unsur-unsur itu tidak terurai selamanya ( Syarifah, dalam Susanto, 2004:2 ) . Air tercemar ditandai dengan adanya perubahan suhu air, pH, warna, bau air dan rasa air, timbulnya endapan, koloidal dan bahan terlarut. Adanya mikroorganisme, dan meningkatnya radioaktifitas lingkungan air ( Wardhana, 2001:74 ) .lmbah yang dibuang ke sungai telah menimbulkan pencemaran air dan mengganggu kehidupan akuatik. Pencemaran oleh limbah industri tekstil tersebut tampak pada kondisi fisik disekitar air permukaan, berupa perubahan warna, kekeruhan air, bau yang kurang sedap, rusaknya tanah pertanian serta menurunnya hasil pertaniandi sekitar daerah aliran sungai. Pencemaran oleh limbah industri tekstil yang berupa perubahan warna dapat diamati dari warna merah kecoklatan, kelabu, dan biru kehitaman di lingkungan air sungai. Perubahan warna tersebut berganti-ganti sesuai dengan waktu pembuangan limbah. Selain perubahan warna juga terjadi kekeruhan pada air sungai. Kekeruhan tersebut disebabkan limbah mnegandung endapan kelabu sehingga membuat air menjadi tampak keruh. Kondisi fisik selanjutnya yang dsitimbulkan dari limbah industri tekstil yaitu bau. Bau tercium menyengat pada puncak musim kemarau. Hal tersebut terjadi karena air sungai sabagaian besar mndapat aliran dari limbah. Dampak selanjutnya yaitu mengganggu kehidupan organisme akuatik. Kehidupan akuatik semakin jarang ditemui di lingkungan perairan. Hal ini ditandai dengan jarangnya komunitas ikan-ikan kecil maupn organisme akuatik lainnya. Hal ini ditandai denggan jarangnya komunitas ikanikan kecil maupun organism akuatik lainnya. Dampak yang lain yaitu menurunnya produksi pertanian. Penurunan produksi pertanian disebabkan oleh penggunaan air sungai yang telah tercemar oleh limbah industri tekstil. Kualitas air sungai pada umumnya memenuhi syarat untuk irigasi kecuali sungai-sungai yang telah melewati daerah industri dimana yang sering terpolusi oleh limbah industri yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Pemberian air irigasi dengan kualitas yang baik dapat memperbaiki tanah, karena kandungan kalsium dalam air dan keuntungan dari proses pencucian kelebihan garam dalam tanah ( Toni Kurniawan, 2004: 2 ) . Di Desa Purwosuman terdapat beberapa industri tekstil antara lain PT. BATI, PT. Kenaria, PT. Sabatek, PT. Sulismatek. Dari berbagai industri tersebut yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah industri Tekstil PT. Kenaria. Areal yang industri yang cukup luas dan berkapasitas produksi yang cukup besar sehingga memerlukan kebutuhan air yang cukup besar pula untuk proses produksinya. Buangan yang dihasilkan berupa limbah padat, cair dan gas. Hasil buangan yang utama yaitu limbah cair. Hal tersebut disebabkan kegiatan produksi menggunakan air cukup besar untuk air proses, air pendingin, air pemanas dan air sanitasi. Keberadaan industri tekstil PT. Kenaria membawa dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yaitu tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sedang dampak negatifnya yaitu menimbulkan pencemaran air. Limbah yang dibuang ke air permukaan ( Sungai Winong ) dapat mencemari dan menurunkna kualitas air. Limbah yang dibuang ke air permukaan tersebut dalam jumlah sedikit itdak akan mengganggu lingkungan. Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan air sungai menetralisir limbah dalam jumlah sedikit. Limbah yang berkualitas banyak dan kontinyu dapat mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan, karena keterbatasan kemampuan air sungai untuk memperbaiki sendiri/self purification. Industri tekstil PT. Kenaria telah membuang limbahnya ke Sungai Winong yang berada di belakang pabrik. Limbah industri tekstil tersebut sebelum di buang ke Sungai Winong diolah dahulu di instalasi pengolahan air limbah ( IPAL ) kemudian disalurkan melalui saluran semi permanen menuju ke kolam pengendapan setelah proses tersebut air limbah di buang ke Sungai Winong. Sungai Winong yang telah tercemar limbah industri tekstil PT Kenaria merupakan salah satu anak Bengawan Solo yang melintasi Desa Purwosuman. Sungai Winong menurut kontinuitas alirannya termasuk jenis sungai perennial yaitu sungai yang selalu mengalirkan air pada musim penghujan maupun musim kemarau dengan debit yang lebih tinggi pada musim penghujan, sungai ini mempunyai penampang yang relatif sempit dan debit air yang kecil, sehingga meskipun Sungai Winong secara alami mempunyai daya purifikasi ( Self purification ) namun daya tersebut dapat menurun atau bahkan hilang apabila limbah industri yang masuk terlampau banyak dan belum diolah secara baik. Dengan masuknya air limbah industri tersebut membuat kualitas air sungai mengalami penurunan. Hal ini ditandai dengan berubahnya warna fisik air sungai menjadi keruh, terdapat kotoran yang mengambang dan adanya lapisan minyak di permukaan air sungai Winong itu, padahal sungai tersebut telah dimanfaatkan penduduk untuk air irigasi pertanian di Desa Purwosuman. Dengan kondisi sungai tersebut menimbulkan gangguan-gangguan pada tanaman pertanian berupa pertumbuhan yang terhambat dan berdaun sempit dan ada beberapa yang gagal panen.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Geografi
    Depositing User: Ardhi Permana Lukas
    Date Deposited: 12 Jul 2013 00:49
    Last Modified: 12 Jul 2013 00:49
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2372

    Actions (login required)

    View Item