HUBUNGAN MODAL FINANSIAL DAN MODAL SOSIAL IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS MIRI KABUPATEN SRAGEN

Suwarto, (2010) HUBUNGAN MODAL FINANSIAL DAN MODAL SOSIAL IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS MIRI KABUPATEN SRAGEN. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1427Kb)

    Abstract

    Salah satu masalah nasional yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah di bidang kependudukan yakni rendahnya kualitas hidup sebagian besar penduduk. Pada era globalisasi ini. Untuk itu perencanaan pembangunan ke depan harus menekankan perlunya pengembangan sumber daya manusia. Kebijaksanaan kependudukan di Indonesia ( UU No. 10 tahun 1992 ) diarahkan pada pembangunan penduduk sebagai sumber daya manusia yang merupakan pembangunan bangsa yang efektif dalam rangka mewujudkan kehidupan keluarga dan masyarakat yang berkualitas ( DepKes RI, 1998 ) . Salah satu indikator yang menunjukkan kualitas suatu bangsa adalah erpeliharanya derajad kesehatan keluarga sejak dini. Sedangkan indikator derajad kesehatan suatu bangsa ditunjukkan dengan umur harapan hidup waktu lahir, Angka Kematian Bayi ( AKB ) , Angka Kematian Balita ( AKABA ) , Angka Kematian Ibu ( AKI ) dan Angka Kematian Kasar ( DepKes RI, 2001 ) . Sistem Kesehatan Nasional ( SKN) merupakan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mencapai kesehatan yang optimal. Tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat masyarakat yang optimal tanpa membedakan status sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut pembangunan kesehatan diarahkan pada : a. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan. b. Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. c. Peningkatan status gizi masyarakat. d. Pengurangan kesakitan dan kematian. e. Pengembangan Keluarga Sejahtera termasuk meningkatkan jumlah keluarga kecil bahagia dan sejahtera ( DepKes RI, 2001 ) . Krisis ekonomi dan kesenjangan sosial yang timbul, mengakibatkan rendahnya status kesehatan dan pendidikan, meningkatnya kemiskinan, buruknya nutrisi, kualitas pelayanan kesehatan yang kurang memadai serta kurangnya akses keperawatan sebelum dan sesudah kelahiran. Beberapa kondisi tersebut secara tidak langsung berdampak pada tingginya AKI ( Angka Kematian Ibu ) dan AKB ( Angka Kematian Bayi ) ( Parawansa, 2001 ) . Krisis moneter yang dimulai tahun 1997 lalu memberi dampak berupa penurunan kualitas hidup keluarga yang menyebabkan rendahnya daya beli sehingga jumlah keluarga miskin dan anak-anak kekurangan gizi bertambah. Masalah kekurangan gizi dapat terjadi akibat faktor di luar dan di dalam keluarga sendiri. Mengenai faktor di dalam keluarga sendiri, selain ketersediaan pangan yang rendah , juga distribusi makanan antar anggota keluarga yang sering tidak seimbang, terutama bagi bayi dan anak. Keterbatasan kemampuan bayi dan anak membuat mereka tidak mempunyai akses langsung terhadap makanan, sehingga kecukupan pangannya tergantung pada perhatian anggota keluarga, terutama ibu ( Bunaya, 2003 ) . Masalah kekurangan pangan, kerawanan gizi dan kemiskinan selalu berkaitan. Kemiskinan dan kekurangan pangan adalah faktor utama dalam siklus masalah gizi, masing-masing sebagai penyebab dan pendorong satu sama lain. Keadaan gizi masyarakat lebih dihubungkan dengan tingkat sosial ekonomi yaitu bahwa gizi kurang dihubungkan dengan kemiskinan dan gizi lebih dihubungkan dengan kemakmuran. Pada masa pertumbuhan dini manusia memerlukan perhatian terhadap pangan yang memadai. Status gizi merupakan penentu dari kualitas generasi mendatang. Kekhilafan untuk menjamin kebutuhan gizi mereka akan merupakan kesalahan yang tidak dapat diperbaiki lagi ( Bunaya, dkk, 2003 ) . Status gizi anak ditentukan oleh keseimbangan antara kebutuhan zat gizi dan asupan gizi. Pada anak yang sehat diasumsikan terjadi keseimbangan antara kebutuhan zat gizi dan asupan gizi. KEP ( Kurang Energi Protein ) balita sebagai salah satu sisi dari masalah gizi, sampai sekarang masih sering ditemukan di masyarakat pedesaan maupun perkotaan. Kondisi tersebut diperparah oleh adanya krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia, sehingga di beberapa daerah terjadi penurunan status gizi ( Bunaya, dkk, 2003 ) . KEP ( Kurang Energi Protein ) berat memberi gambaran klinis yang khas, misalnya bentuk kwashiorkor, marasmus atau bentuk campuran kwashiorkor marasmik. Pada kenyataannya Kurang Energi Protein jauh lebih banyak terdapat dalam bentuk ringan. Berdasar hasil penelitian di 254 desa di seluruh Indonesia, 30% anak-anak balita menderita gizi kurang dan 3% anak balita menderita gizi buruk. Hasil pengukuran secara antropometri pada anak balita dari 642 desa menunjukkan angka 119.463 anak balita yang diukur terdapat status gizi baik 57,1%, gizi kurang 35,9% dan gizi buruk 5,9%. Akan lebih prihatin lagi jika kita melihat hasil pengukuran di beberapa Propinsi pada tahun 1997 prevalensi gizi buruk di perkotaan 0,8% dan di pedesaan 1,4%. Angka kematian tertinggi pada anak-anak balita dengan penyebab utama penyakit infeksi, terutama pada anak balita yang sedang menderita malnutrisi. ( Gibson,2005 ) Kabupaten Sragen termasuk wilayah Propinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah 941,55 km2. Kabupaten Sragen terdiri dari 20 kecamatan dan 207 desa. Pada tahun 2009, jumlah penduduk Kabupaten Sragen mencapai 893.451 jiwa dengan jumlah kepala keluarga miskin sebanyak 95.934 KK. Geografis Kabupaten Sragen di sebelah utara Sungai Bengawan Solo bersifat kering dengan tanah kapur, sedangkan di sebelah selatan Sungai Bengawan Solo merupakan areal tanah yang subur. Status gizi masyarakat di wilayah Kabupaten Sragen tahun 2009 ialah terdapat 91,10 % gizi baik, 7,00 % gizi kurang dan 1,10% gizi buruk. Kecamatan Miri merupakan salah satu Kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Boyolali dengan jumlah 2024 anak balita terdapat 92.01 % gizi baik, 5,01 % gizi kurang, dan 0,10 % gizi buruk. ( DKK Sragen, 2009 ) . Status gizi buruk anak balita masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di kabupaten Sragen. Teori Grossman mengemukakan bahwa pendidikan meningkatkan efisien produksi kesehatan, sehingga orang berpendidikan tinggi akan lebih sehat daripada pendidikan rendah. Demikian juga Bolin et al mengatakan bahwa modal sosial meningkatkan efisiensi produksi kesehatan. Beberapa tahun terakhir perhatian besar diberikan kepada modal sosial dan hubungannya dengan kesehatan. Modal sosial memberikan dampak bagi kesehatan dan nutrisi melalui berbagai cara tetapi intinya perilaku interpersonal dan antara kelompok di tingkat makro, yang pada gilirannya meningkatkan atau menurunkan sumber-sumber daya dan tingkat kesehatan yang ada di tingkat individu ( mikro ) . Melalui kepercayaan dan jaringan sosial, modal sosial membantu orang-orang untuk mengakses informasi dan pendidikan kesehatan, merancang sistem penyediaan pelayanan kesehatan, melakukan tindakan kolektif untuk membangun dan memperbaiki infra struktur, membahas norma-norma budaya yang menguntungkan maupun merugikan serta upaya-upaya preventif . Dengan demikian, menurut teori dapat diduga bahwa modal sosial ibu mungkin merupakan faktor yang berhubungan terhadap status gizi balita. Hubungan antara modal finansial dan status gizi balita melewati faktor struktural, bukan sekedar persepsi tentang kesenjangan pendapatan. Faktor struktural tersebut, yaitu proses ekonomi dan keputusan politik mengkondisikan tersedianya sumber-sumber daya bagi individu-individu, dan membentuk infrastruktur publik seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, transportasi, kontrol lingkungan, ketersediaan makanan, kualitas perumahan, regulasi kesehatan kerja yang membentuk matriks “neo-materialis” tentang kehidupan kontemporer .Pengaruh kesenjangan pendapatan terhadap kesehatan mencerminkan tidak hanya ketiadaan atau kekurangan sumberdaya yang dihadapi individu-individu, tetapi juga rendahnya investasi pada berbagai infrastruktur komunitas. Pada level mikro, kesenjangan modal finansial individu berimplikasi kepada sedikitnya sumberdaya ekonomi yang dimiliki orang-orang miskin, sehingga menyebabkan rendahnya kemampuan mereka dalam menghindari risiko, status gizi rendah pada balitanya. Pada level makro, kesenjangan modal finansial menyebabkan rendahnya investasi sosial dan lingkungan ( perumahan sehat dan aman, sekolah yang baik, dan sebagainya ) yang diperlukan untuk meningkatkan kesehatan di antara orang-orang miskin. Namun sejauh pengetahuan peneliti belum ada penelitian empiris di Indonesia yang mendukung teori tersebut.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Ekonomi > D3 - Akuntansi Perpajakan
    Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Magister > Magister Kedokteran Keluarga
    Depositing User: Ardhi Permana Lukas
    Date Deposited: 12 Jul 2013 00:38
    Last Modified: 12 Jul 2013 00:38
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2328

    Actions (login required)

    View Item