Budi daya jamur kuping ( auricularia auricula judae)

Angriawan, Teddy (2006) Budi daya jamur kuping ( auricularia auricula judae). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (142Kb)

    Abstract

    Diawal musim penghujan sering ditemukan berbagai jenis jamur yang tumbuh ditanah pekarangan dan atau kayu yang telah mulai lapuk. Budidaya tanaman pertanian di Indonesia, memiliki potensi serta prospek yang baik di masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang. Hal ini di karenakan Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, serta memiliki kondisi geografi dan keadaan lingkungan yang mampu menunjang serta mendukung para petani Indonesia untuk membudidayakan berbagai macam jenis tanaman pertanian. Beberapa jenis tanaman pertanian yang banyak di budidayakan oleh para petani antara lain, tanaman pangan dan juga beberapa jenis tanaman hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan). Disamping itu, tidak sedikit juga yang mencoba membudidayakan jenis tanaman lain, salah satunya yang akhir-akhir ini banyak di budidayakan adalah jamur. Jamur merupakan organisme yang tidak berklorofil sehingga tidak dapat menyediakan makanan sendiri dengan cara fotosintesis. Oleh karena itu di dalam pertumbuhannya jamur memerlukan zat-zat makanan yang siap untuk digunakan atau diserapnya. Di alam zat-zat nutrisi tersebut biasanya telah tersedia dari proses pelapukan oleh aktivitas mikroorganisme. Pada jamur yang dibudidayakan, zat-zat hara tersebut harus disediakan sedemikian rupa sehingga siap digunakan oleh tanaman jamur (Muchroji, 1999). Dalam kehidupan manusia, jamur dapat mendatangkan manfaat maupun kerugian. Manfaatnya, ada beberapa jenis jamur yang dapat dijadikan bahan makanan, serta menjadi bagian di dalam pembuatan obat-obatan tradisional maupun obat-obatan modern. Sedangkan kerugiannya, ada beberapa jenis jamur sebagai penyebab penyakit bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan. Sejalan dengan kebutuhan manusia terhadap kebutuhan jamur untuk konsumsi ataupun untuk bahan obat maka kalau hanya tergantung pada alam sulit untuk terpenuhi mengingat jamur tidak dapat menyediakan makan Diawal musim penghujan sering ditemukan berbagai jenis jamur yang tumbuh ditanah pekarangan dan atau kayu yang telah mulai lapuk. Budidaya tanaman pertanian di Indonesia, memiliki potensi serta prospek yang baik di masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang. Hal ini di karenakan Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, serta memiliki kondisi geografi dan keadaan lingkungan yang mampu menunjang serta mendukung para petani Indonesia untuk membudidayakan berbagai macam jenis tanaman pertanian. Beberapa jenis tanaman pertanian yang banyak di budidayakan oleh para petani antara lain, tanaman pangan dan juga beberapa jenis tanaman hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan). Disamping itu, tidak sedikit juga yang mencoba membudidayakan jenis tanaman lain, salah satunya yang akhir-akhir ini banyak di budidayakan adalah jamur. Jamur merupakan organisme yang tidak berklorofil sehingga tidak dapat menyediakan makanan sendiri dengan cara fotosintesis. Oleh karena itu di dalam pertumbuhannya jamur memerlukan zat-zat makanan yang siap untuk digunakan atau diserapnya. Di alam zat-zat nutrisi tersebut biasanya telah tersedia dari proses pelapukan oleh aktivitas mikroorganisme. Pada jamur yang dibudidayakan, zat-zat hara tersebut harus disediakan sedemikian rupa sehingga siap digunakan oleh tanaman jamur (Muchroji, 1999). Dalam kehidupan manusia, jamur dapat mendatangkan manfaat maupun kerugian. Manfaatnya, ada beberapa jenis jamur yang dapat dijadikan bahan makanan, serta menjadi bagian di dalam pembuatan obat-obatan tradisional maupun obat-obatan modern. Sedangkan kerugiannya, ada beberapa jenis jamur sebagai penyebab penyakit bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan. Sejalan dengan kebutuhan manusia terhadap kebutuhan jamur untuk konsumsi ataupun untuk bahan obat maka kalau hanya tergantung pada alam sulit untuk terpenuhi mengingat jamur tidak dapat menyediakan makan sendiri, oleh karena itu, beberapa jenis jamur yang bermanfaat bagi manusia mulai dibudidayakan. Menurut Muchroji (1999), berdasarkan tempat tumbuhnya, dikenal 2 golongan besar jamur konsumsi, yaitu jamur kompos dan jamur kayu. Kedua jenis golongan jamur tersebut banyak ditemukan di Indonesia. Masing-masing jenis jamur tersebut mempunyai ciri-ciri dan kandungan gizi yang berbeda-beda. Salah satu jenis jamur kayu yang dapat dimakan dan cukup di kenal di Indonesia adalah jamur kuping (Auricularia auricula. J.). Di alam jamur kuping biasanya tumbuh pada batang-batang kayu yang sudah lapuk. Seperti halnya jamur jenis lain, secara umum ciri jamur kuping ini adalah berdaging lunak seperti agar-agar, sedikit elastis, tembus cahaya, mudah pecah jika dikeringkan dan tidak berbau atau beraroma. Warnanya tergantung dari jenisnya, yaitu putih, kemerah-merahan, kecoklatan, keunguan sampai hitam. Bila dikeringkan jamur kuping cenderung berubah warna menjadi coklat kehitaman. Secara umum jamur kuping dapat ditanam di daerah beriklim dingin sampai panas. Di daerah yang memiliki 4 musim, jamur kuping dapat tumbuh pada semua musim. Jamur ini dapat hidup direntang suhu yang cukup panjang, yaitu antara 12-35ºC, tetapi optimum tumbuh pada suhu 20-30ºC, kelembaban ideal yang dibutuhkan jamur kuping berkisar antara 80-90%. Proses budidaya jamur kuping tidak terlalu sulit dan tidak menuntut persyaratan yang rumit. Proses budidaya terbagi dalam 2 kategori besar yaitu pembuatan bag log/polibag dan pemeliharaan. Dalam proses pembuatan baglog kunci pokok keberhasilan adalah: kualitas bibit, sterilitas bahan serta sarana dan prasarananya serta formulasi nutrisi tambahan. Sedangkan pada proses (pembentukan badan buah jamur) sangat tergantung pada kondisi lingkungan, oleh karena itu pengaturan iklim mikro harus benar-benar diperhatikan. Tanpa mengabaikan kondisi lingkungan diantaranya adalah suhu, kelembaban serta intensitas sinar matahari. Melihat gambaran diatas mahasiswa mencoba untuk mempelajari serta menerapkan teori yang ada dengan prakteknya di lapangan. Dengan magang pada perusahaan yang terkait akan sangat membantu mahasiswa untuk menerapkan teori yang telah ada dengan fakta di lapangan, dan apabila dalam pelaksanaan magang dijumpai kesenjangan antara teori dengan praktek. Maka hal tersebut merupakan permasalahan dalam kenyataan yang harus diselesaikan. Penyelesaian masalah tersebut menuntut adanya kemampuan dalam menerapkan teori yang telah dikuasai, kemampuan ini hanya dapat dicapai bila mahasiswa telah cukup menguasai teori, mendapatkan pengalaman dan pelatihan. Berawal dari sini diharapkan mahasiswa dapat belajar untuk mengelola dan mengembangkan suatu usaha dibidang Agribisnis terutama budidaya jamur kuping (Auricularia auricula J.), dimasa sekarang dan masa yang akan datang.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: S Agriculture > SB Plant culture
    Divisions: Fakultas Pertanian > Agribisnis
    Depositing User: Users 834 not found.
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:22
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:22
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2278

    Actions (login required)

    View Item