EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN TIPE STAD YANG DIMODIFIKASI PADA MATERI LOGIKA MATEMATIKA TERHADAP HASIL PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KREATIVITAS BELAJAR SISWA MADRASAH ALIYAH DI KABUPATEN NGAWI

Harmono, (2009) EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN TIPE STAD YANG DIMODIFIKASI PADA MATERI LOGIKA MATEMATIKA TERHADAP HASIL PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KREATIVITAS BELAJAR SISWA MADRASAH ALIYAH DI KABUPATEN NGAWI. Masters thesis, Universtas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (382Kb)

    Abstract

    Dalam menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan perkembangan IPTEK yang begitu pesat, maka peningkatan mutu pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia mempunyai posisi yang strategis bagi keberhasilan dan kelanjutan pembangunan Nasional. Tuntutan perubahan dan kebutuhan dunia pendidikan di Indonesia tersebut ditandai dengan perubahan kurikulum.. Dalam rangka melakukan pembaharuan sistem pendidikan tersebut, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sedang melakukan penyempurnaan kurikulum nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Misalnya dari Kurikulum 1994 ke KBK 2004, kemudian KTSP 2006. Perubahan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 merupakan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. KTSP 2006 yang dikeluarkan pemerintah ini adalah penyempurnaan dari Kurikulum 2004 yang harus dilaksanakan oleh satuan pendidikan mulai tahun pelajaran 2007. Sistem pelaksanaan diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). BSNP telah menyelesaikan standar isi dan standar kelulusan yang kemudian ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 , 23 dan 24 Tahun 2006 tentang ketentuan pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi kelulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Upaya penyempurnaan kurikulum ini merupakan respon atas berbagai kritik dan tanggapan terhadap konsep dan implementasi kurikulum 1994 yang dianggap memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan, baik dari segi substansi maupun pendekatan dan organisasi kurikulum. Perubahan kurikulum ini juga paralel dengan diterapkannya otonomi pendidikan di tingkat kabupaten dan kota, serta pendekatan manajemen berbasis sekolah (school-based management) dan pendidikan berbasis masyarakat (community-based education). Perubahan kurikulum kali ini hendaknya dipahami tidak hanya sekedar penyesuaian substansi materi dan format kurikulum dengan tuntutan perkembangan, tetapi pergeseran paradigma (paradigm shift) dari pendekatan pendidikan yang berorientasi masukan (input-oriented education) ke pendekatan pendidikan berorientasi hasil atau standard (coutcome-based eduation). Secara lebih sederhana, apa yang harus ditetapkan sebagai kebijakan kurikuler secara nasional oleh Depdiknas bergeser dari pertanyaan tentang apa yang harus diajarkan (kurikulum) ke pertanyaan tentang apa yang harus dikuasai anak (standard kompetensi) pada tingkatan dan jenjang pendidikan tertentu. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 mengisyaratkan bahwa salah satu tugas guru agar menjadikan belajar itu bermakna adalah, mempersiapkan materi yang diajarkan secara terprogram, memilih dan menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan dan mengadakan evaluasi hasil belajar. Proses pendidikan sekarang tidak hanya bertujuan mempersiapkan anak didik untuk suatu pekerjaan tetapi jauh lebih luas yaitu memberikan kemampuan/kecerdasan, baik intelektual, emosional dan spiritual sehingga dapat menjadi pribadi sosial yang sukses dalam hidup (Sri Kurnia Dwi, 2006) Melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran matematika, anak didik diharapkan mengembangkan kemampuan untuk menemukan, memeriksa, menggunakan dan dapat membuat generalisasi, meskipun kita menyadari bahwa anak didik memerlukan waktu untuk menyelidiki lalu menemukan berbagai pola dan hubungan. Hal ini berarti pengembangan konsep, ketepatan istilah dan penggunaannya serta penekanan pada struktur matematika dan hubungannya antara pokok bahasan, harus diperhatikan dengan teliti oleh guru dalam proses pendidikan dan pengajaran. Mempersiapkan anak didik agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, krisis, cermat, kreatif, jujur dan efektif serta disiplin, dengan kata lain mereka mempunyai kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, misalnya cerdas bermasyarakat, sabar dan tetap optimis menuju masa depan yang diharapkan. Harapan ini tidak dapat dicapai dalam waktu yang singkat, tetapi perlu waktu panjang dan terus menerus berksinambungan dalam suatu proses pendidikan yang dijalani dalam beberapa tahap/jenjang pendidikan. Mengingat peran guru sangat penting dalam proses pendidikan dan perkembangan anak didik, maka kita sebagai guru juga perlu untuk terus meningkatkan wawasan pengetahuan melalui pelatihan, diskusi antar guru untuk saling berbagi pengalaman, dan rajin membaca untuk menambah wawasan. Selain itu juga perlu meningkatkan sikap cerdas baik intelektual, emosional dan spiritual, karena kita juga adalah pribadi sosial yang dihadapkan pada situasi kondisi kehidupan yang selalu berkembang di samping mempunyai tugas sebagai pendidik. Matematika berbeda dengan ilmu lain, materi matematika bersifat hirarkis (berurutan dan berhubungan). Dalam mempelajarinya matematika harus kontinyu, rajin latihan dan disiplin. Seorang siswa sekolah Dasar yang menguasai matematika SD dengan baik dapat dengan mudah mencerna matematika SMP dan SMU atau sebaliknya, siswa Sekolah Dasar yang tidak menguasai dasar-dasar berhitung (matematika) SD akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar matematika SMP dan SMU. Kelalaian menguasai dasar-dasar berhitung membuat orang mengalami kesulitan pada pelajaran selanjutnya. Matematika sebagai salah satu komponen dari serangkaian mata pelajaran di sekolah mempunyai peranan penting. Matematika tidak hanya sebagai ilmu tetapi juga sebagai dasar logika penalaran dan penyelesaian kuantitatif yang dipergunakan dalam idang ilmu lain. Sehingga tidak heran matematika diberikan di hampir semua jenjang pendidikan bahkan termasuk dalam pelajaran yang diujikan secara nasional pada setiap akhir jenjang pendidikan. Pendidikan memiliki tiga proses yang saling kait mengait dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Pertama, sebagai proses pembentukan kebiasaan (habit formation). Kedua, sebagai proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan ketiga adalah sebagai proses keteladanan yang dilakukan oleh para guru (role model) ( Suyanto, dalam Pembukaan Diklat Integrasi Imtaq, 2 Agustus 2005). Di samping itu guru dituntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, kreatif dan menyenangkan. Keberhasilan proses belajar mengajar salah satunya ditentukan oleh kemampuan guru dalam memainkan fungsinya sebagai pemimpin, fasilitator, dinamisator, sekaligus sebagai pelayanan. Tingkat kemampuan IQ siswa di Madrasah Aliyah dengan SLTA di kabupaten Ngawi berbeda. Siswa yang melanjutkan di MA di kabupaten Ngawi rata-rata alternatif pilihan ke 2 setelah SMAN 1 dan SMAN 2 Ngawi. Dengan demikian tingkat kemampuan IQ dapat perkirakan bahwa siswa- siswi Madrasah Aliyah lebih rendah dari pada di SLTA sekitar. Hal ini dapat dilihat dengan NEM siswa-siswi yang diterima di MA dan SLTA. Di MA nilai NEM terendah yang diterima 22,34 dan tertinggi 28,89, sedang di kedua SLTA tersebut terendah 28, 25 dan tertinggi 38,55. Mendasar hasil mid semester gasal mata pelajaran matematika tahun pelajaran 2008/2009 kelas X MAN Ngawi. Dari 6 kelas dengan jumlah siswa 221 siswa, jumlah siswa laki-laki 88 siswa dan jumlah siswa perempuan 133 dengan nilai terendah 42, nilai tertinggi 75 dan rata- rata 5,67. Di tinjau dari KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata pelajaran matematika adalah 63 maka nilai matematika tersebut rata-ratanya masih cukup rendah. Di samping tingkat kemampuan yang berbeda adalah mata pelajaran di Madrasah jauh lebih banyak dari pada di SLTA. Di Madrasah mata pelajaran agama lebih banyak dari SLTA umum. Mata pelajaran agama satu minggu 12 jam sedang di SLTA umum 2 jam pelajaran. Perbedaan jumlah mata pelajaran dan alokasi waktu di Madrasah dapat mengurangi proses pemahaman dan pendalaman materi pelajaran umum. Dengan demikian siswa madrasah kusunya di Madrasah Aliyah kabupaten Ngawi sedikit unggul dalam bidang agama dan masih kurang di bidang umum. Usaha mengejar ketertinggalan dengan SLTA umum adalah dengan memaksimalkan alokasi waktu dan meningkatkan proses pembelajaran. Peningkatan proses pembelajaran adalah dengan mengembangkan model pembelajaran . Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa, baik berada di sekolah maupun di luar sekolah . Sehingga dengan adanya belajar maka akan terbentuk pendidikan. Pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah atau madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara formal, nonformal maupun informal bahkan dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self – intruction) ( Muhibbin Syah, 2004 ) Kemampuan anak yang berbeda baik intelektual maupun kreativitas memerlukan bimbingan dari pihak lain (orang dewasa) agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai hamba Tuhan, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai individu mandiri atau yang disebut peserta didik adalah unsur utama dalam pendidikan. Orang dewasa ini adalah orang tua, guru maupun tokoh masyarakat. Di sekolah guru sebagai orang tua harus memahami kemampuan dan kreativitas peserta didiknya Di atas sudah disinggung bahwa salah satu komponen yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah adalah guru. Peran guru sebagai ujung tombak proses pendidikan di sekolah harus dapat meningkatkan kinerjanya dan meningkatkan mutu pelajaran. Kreativitas guru dalam proses pendidikan sangat diperlukan di samping upaya-upaya menumbuhkan aspek intelektual, emosional dan spiritual harus tetap dilakukan dalam setiap pengajaran termasuk dalam pengajaran matematika. Hendaklah guru dapat memberikan pengalaman-pengalaman yang baik dalam proses pendidikan sehingga anak didik tumbuh minatnya dan termotivasi, jangan sampai anak didik beranggapan matematika itu menjemukan padahal yang lebih mereka tidak sukai adalah pengalaman mereka ketika mengikuti pelajaran matematika itu di sekolah daripada matematika itu sendiri. Dalam mengajar sebuah konsep guru dapat mencari cara yang menarik agar anak didik berminat, bersemangat dan termotivasi dalam mempelajari matematika. Salah satu cara meningkatkan prestasi belajar adalah dengan menerapkan proses model pembelajaraan yang menarik . Model pembelajaran yang menarik adalah model yang dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa dalam belajar. Model pembelajaran yang menarik adalah mengembangkan model pembelajaran yang pernah digunakan dan sudah ada sebelumnya. Jika pendidikan berhasil dengan baik sejumlah orang kreatif akan lahir karena tugas utama pendidikan adalah menciptakan orang-orang yang mampu melakukan sesuatu yang baru, tidak hanya mengulang apa yang telah dikerjakan oleh generasi lain. Mereka adalah orang kreatif, menemukan sesuatu yang baik yang belum ada maupun yang sebenarnya sudah ada. (E. Mulyasa, 2004). Mengacu pernyataan E . Mulyasa dan memperhatikan data – data diatas, maka penulis akan mengadakan penelitian di Madrasah Aliyah kabupaten Ngawi dengan mengembangkan proses pembelajaran matematika dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimodifikasi. Pengembangkan penelitian pembelajaran tipe STAD tetap berdasar pada teori tpe STAD yang sudah ada. (Robert E. Slavin, 2008) STAD terdiri dari sebuah siklus instruksi kegiatan reguler yaitu mengajar (menyampaikan pelajaran), belajar tim (para siswa bekerja dengan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai materi), tes (para siswa mengerjakan kuis-kuis individual), rekognisi tim (skor tim berdasarkan skor kemajuan). Pada penelitian ini penulis akan memodifikasi tipe STAD dengan mengembangkan presentasi kelas. Langkah-langkah pembelajaran tipe STAD modifikasi adalah belajar dengan modul ( dipelajari sendiri dirumah), latihan bersama( penguasaan materi), belajar tim (para siswa bekerja dengan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai materi), tes (para siswa mengerjakan kuis-kuis individual), rekognisi tim (skor tim berdasarkan skor kemajuan). Peran guru pada tipe STAD modifikasi keterlibatan siswa pada proses pembelajaran lebih dominan dan sebaliknya peran guru dalam proses pembelajaran hanya sebagai motivator dan fasilitator. Dengan model pengembangan ini setiap siswa dituntut untuk aktif dan kreatif memahami materi pelajaran. Persiapan guru pada model ini adalah menyiapkan materi sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan kreativitas belajar setiap siswa. Dengan model ini maka keaktifan dan kreativitas siswa diharapkan dapat meningkatkan prestas belajar belajar. Kreativitas bisa dikembangkan dengan penciptaan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan kreativitasnya. Dengan bertitik tolak pada tujuan pembelajaran kooperatif yang menekankan pada keaktifan siswa baik individu maupun kelompok dalam proses belajar, maka penulis mengembangkan metode STAD yang dimodifikasi. Untuk mendapatkan hasil yang baik kreativitas siswa pada model pembelajaran menjadi ukuran. Diharapkan pengembangan model pembelajaran ini dapat memacu hasil prestasi matematika.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Pasca Sarjana
    Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Matematika - S2
    Depositing User: BP Mahardika
    Date Deposited: 12 Jul 2013 00:14
    Last Modified: 12 Jul 2013 00:14
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2208

    Actions (login required)

    View Item