PERANCANGAN MODEL SIMULASI SHOP FLOOR LAYOUT PADA UNIT SIGARET KRETEK MESIN (SKM) PT. DJITOE INDONESIAN TOBACCO COY SURAKARTA

Puspa Dewanti, Ardini Mita (2010) PERANCANGAN MODEL SIMULASI SHOP FLOOR LAYOUT PADA UNIT SIGARET KRETEK MESIN (SKM) PT. DJITOE INDONESIAN TOBACCO COY SURAKARTA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (5Mb)

    Abstract

    PT. Djitoe ITC Surakarta adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan daerah pemasaran hingga luar pulau Jawa. PT Djitoe ITC Surakarta memiliki dua unit lantai produksi yaitu unit SKM dan unit SKT. SKM yang disebut juga rokok filter merupakan rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin. Secara garis besar pada proses produksi SKM, material rokok dimasukkan ke dalam mesin linting dan mesin filter yang akan menghasilkan rokok berupa rokok batangan. Selanjutnya diproses lagi dengan mesin High Leight Packing (HLP) untuk memproduksi kotak rokok dan membungkus rokok batangan sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok batangan namun dalam bentuk kotak. Kemudian dilakukan proses press packing untuk menghasilkan rokok dalam bentuk pack dan proses assembly press untuk mendapatkan finish product berupa 1 bols rokok yang berisikan 20 pack rokok. Perusahaan ini memproduksi beberapa jenis SKM diantaranya adalah Djitoe Slim, King Size Biru dan Golden Exclusive. Pada penelitian Wati (2010) di unit SKM PT Djitoe ITC Surakarta ditemukan banyak waste pada lantai produksi unit SKM. Waste tersebut antara lain dalam bentuk produksi berlebih, transportasi berlebih (excessive transportation), persediaan bahan baku yang berlebih, gerakan tidak perlu (unnecessary motion), lama waktu menunggu (waiting), proses tidak sesuai dan banyaknya produk cacat. Ketujuh waste yang telah ditemukan tersebut memiliki sumber penyebab waste yang berbeda-beda, sebagai contoh waste transportasi berlebih memiliki sumber penyebab waste dalam bentuk pengambilan bak dan kardus pada stasiun kerja lain, terjadinya arus balik antar stasiun kerja (back tracking), serta letak stasiun kerja srapping yang kurang tepat, dan waste gerakan tidak perlu memiliki sumber penyebab waste dalam bentuk perbaikan mesin, membuka pak rokok yang rusak, serta pengumpulan dan penyortiran rokok yang rusak. Berdasarkan pengolahan data Wati (2010) diperoleh waste berdasarkan bobot banyaknya kejadiaan waste pada setiap lini produksi. Rangking waste tertinggi hingga terendah adalah transportasi berlebih, gerakan tidak perlu, menunggu, kecacatan produk, produksi berlebih, proses tidak sesuai, dan persediaan bahan baku berlebih. Waste rangking 1 sampai 3, yaitu waste transportasi berlebih, gerakan tidak perlu, dan menunggu, penyebab utamanya adalah tata letak yang kurang baik, dan kurangnya sumber daya produksi. Hal ini yang mendorong Wati (2010) melalukan perancangan layout ulang untuk lantai produksi unit SKM. Khusus waste menunggu perbaikan tidak berkorelasi langsung dengan perancangan layout ulang. Hal tersebut lebih tepat apabila dilakukan realokasi sumber daya produksi unit SKM. Perancangan ulang shop floor layout pada lantai produksi SKM yang telah dilakukan oleh Wati (2010) telah memberikan penghematan jarak material handling sebesar 31,03% dan penurunan ongkos material handling sebesar 28,54%. Namun demikian perancangan ulang shop floor layout pada lantai produksi SKM yang dilakukan Wati (2010) belum dapat menggambarkan dengan detail aliran material dalam sistem, waktu tunggu, jumlah antrian dalam sistem, dan kebutuhan sumber daya yang seharusnya ada di lantai produksi unit SKM. Penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki kekurangan yang ada di penelitian Wati (2010). Kekurangan tersebut dapat diperbaiki dengan merancang model simulasi shop floor layout yang bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya produksi, meminimalisasi jumlah antrian, menimimasi work in process (WIP), dan maksimasi output produk yang dihasilkan dalam sistem. Di dalam model simulasi ini dapat dilakukan realokasi sumber daya produksi yang tidak dapat dilakukan pada perancangan ulang shop floor layout sehingga dapat mempermudah dalam perbaikan waste menunggu. Simulasi dapat digunakan ketika model-model matematis tidak memberikan solusi yang cukup baik terhadap persoalan kesisteman (Arifin, 2009). Simulasi dapat menggambarkan kejadian stokastik seperti terjadinya downtime mesin, waktu proses suatu komponen, dan jumlah antrian yang ada dalam sistem. Metode simulasi dapat menggambarkan sistem lebih detail dan nyata dibandingkan dengan metode analitik. Simulasi sebagai suatu teknik dalam pembuatan suatu model dari sistem nyata atau usulan sistem sedemikian sehingga perilaku dari sistem tersebut pada kondisi tertentu dapat dipelajari (Arifin, 2009). Dengan simulasi dimungkinkan untuk mengambil kesimpulan tentang sistem baru tanpa harus membangunnya terlebih dulu, atau melakukan perubahan pada sistem yang ada tanpa mengganggu kegiatan yang sedang berjalan. Simulasi dipakai untuk memberikan penyelesaian dikarenakan simulasi akan mengurangi biaya, waktu, dan tenaga serta tidak merusak alam karena proses trial and error, simulasi lebih mampu memberikan kapabilitas dan akurasi dari penilaian performance pada sistem kompleks, serta simulasi dapat digunakan sebagai alat pengambil keputusan. Oleh karena itu, diperlukan suatu model simulasi terhadap hasil rancangan ulang shop floor layout yang telah dibuat.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    Divisions: Fakultas Teknik
    Fakultas Teknik > Teknik Industri
    Depositing User: Budhi Kusumawardana Julio
    Date Deposited: 12 Jul 2013 00:09
    Last Modified: 12 Jul 2013 00:09
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2198

    Actions (login required)

    View Item