PENGARUH RANGSANG ELEKTROAKUPUNKTUR TERHADAP MEMORI KERJA TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS) YANG DIPAPAR STRES KRONIK

Syaifullah, Muhammad (2010) PENGARUH RANGSANG ELEKTROAKUPUNKTUR TERHADAP MEMORI KERJA TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS) YANG DIPAPAR STRES KRONIK. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1986Kb)

    Abstract

    Muhammad Syaifullah, G0006121, 2009, Pengaruh Rangsang Elektroakupunktur terhadap Memori Kerja Tikus Putih (Rattus novergicus) yang Dipapar Stres Kronik. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Latar belakang: Stres kronik dapat menyebabkan terjadinya perubahan morfologis disertai penurunan fungsi memori pada hippocampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rangsang elektroakupunktur (EA) terhadap memori kerja tikus putih (Rattus norvegicus) yang dipapar stres kronik. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan rancangan pretest-postest control group design. Subjek penelitian terdiri dari 24 ekor tikus, dibagi secara random menjadi 4 kelompok, yakni kelompok kontrol (K), kelompok stres (P1), kelompok akupunktur (P2), dan kelompok akupunktur dan stres (P3). Selama 21 hari kelompok P1 diinduksi stres kronik berupa restraint stress selama dua jam setiap hari, kelompok P2 selama 14 hari diberi rangsang EA pada titik Bai-hui (DU 20) dan Zusanli (ST 36) dengan gelombang kontinyu dan frekwensi 2 Hz selama 15 menit setiap hari, dan kelompok P3 diinduksi stres kronik berupa restraint stress dan diberi rangsang EA. Memori kerja dinilai dengan maze radial 8 lengan berdasarkan jumlah lengan yang dimasuki dan kesalahan tipe A. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji statistik anova searah dan dilanjutkan dengan uji post-hoc. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan tidak ada perbedaan yang bermakna antar kelompok sebelum perlakuan (p>0,05). Setelah diberi perlakuan, terjadi penurunan memori kerja pada kelompok P1 ditandai dengan jumlah lengan yang dimasuki dan kesalahan tipe A lebih tinggi daripada kelompok K (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok P2 dibandingkan dengan kelompok K (p>0,05). Kelompok P3 memiliki memori kerja yang lebih baik daripada kelompok P1, dimana kelompok P3 menunjukan jumlah lengan yang dimasuki maupun kesalahan tipe A yang lebih sedikit daripada kelompok P1 (p<0,05). Simpulan: Disimpulkan bahwa restraint stress kronik menyebabkan penurunan memori kerja tikus. Pemberian rangsang EA pada titik DU 20 dan ST 36 dapat memperbaiki penurunan memori kerja pada tikus akibat stres kronik. Sedangkan pemberian rangsang EA dalam kondisi tanpa stres dapat meningkatkan memori kerja tikus, namun secara statistik kurang bermakna.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran > Pendidikan Kedokteran
    Depositing User: Users 848 not found.
    Date Deposited: 11 Jul 2013 23:57
    Last Modified: 11 Jul 2013 23:57
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2131

    Actions (login required)

    View Item