Representasi Represi Orde Baru terhadap Buruh (Studi Saluran Komunikasi Modern Christian Metz dalam Film Marsinah (Cry Justice))

Florina, Ike Desi (2014) Representasi Represi Orde Baru terhadap Buruh (Studi Saluran Komunikasi Modern Christian Metz dalam Film Marsinah (Cry Justice)). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

Full text not available from this repository.

Abstract

Setiap tahunnya ratusan ribu buruh melakukan aksi unjuk rasa buruh yang dilakukan serempak, dilakukan karena pemerintah dianggap belum bisa mensejahterakan kaum buruh. Mereka menuntut kenaikan Upah Minimum Propinsi/Upah Minimum Regional (UMR), perbaikan kesejahteraan, penghapusan sistem alih daya, hingga peraturan/kebijakan pemerintah yang tidak mendukung masyarakat miskin dan kaum buruh. Perlawanan buruh terhadap kekuasaan dan segala bentuk represi yang dilakukan pada masa Orde Baru, yang paling besar dan diingat hingga sekarang yakni sekitar 21 tahun lalu. Pada saat terjadi aksi unjuk rasa buruh di Sidoarjo yang mengakibatkan kematian buruh bernama Marsinah, yang akhirnya Ia mendapat sebutan Pahlawan Buruh. Sosok dan perjuangannya dalam memperjuangkan nasib kaum buruh yang begitu besar, pada 2001 oleh Sutradara Slamet Rahardjo kemudian dibuat film berjudul Marsinah (Cry Justice). Penelitian ini berusaha mengungkapkan Bagaimana film Marsinah (Cry Justice) merepresentasikan represi Orde Baru terhadap buruh melalui struktur filmis yang khas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan metode analisis semiologi Christian Metz, atau semiotika film. Penggunaan semiotika film ini menekankan hubungan antar tanda yang membentuk makna. Bagaimana pemetaan delapan macam teknik analisis Metz digunakan untuk membongkar struktur film yang khas dan menemukan hubungan antar tanda yang mengungkapkan representasi represi Orde Baru terhadap buruh dalam film Marsinah (Cry Justice). Melalui kategorisasi represi kekerasan fisik dan kekerasan simbolik sebagai tanda. Penulis mengungkapkan bahwa representasi represi Orde Baru terhadap buruh ditunjukkan dalam bentuk : (1) Teror, direpresentasikan berupa ; Analisis autonomous shot, Slamet Rahardjo melihat bahwa militer melakukan teror sebagai bagian dari ‘perintah atau tugas’ kepada sang penguasa ; alternate syntagma, tergambarkan sutradara menciptakan sebuah kekejaman ‘pihak yang diduga militer’ terhadap Marsinah terlihat tidak manusiawi ; episodic sequence, menghasilkan temuan rezim Orde Baru melanggengkan kekuasaannya melalui sebuah hagemoni sekaligus represi. Slamet Rahardjo ingin menunjukan kekejaman represi fisik dan simbolik (penyiksaan) rezim terhadap para buruh, memiliki kesamaan dan merupakan peniruan apa yang di klaim oleh mereka sebagai tragedi G30 S/PKI ; bracket syntagma dimana pemilihan Mutiari sebagai sosok pendukung utama karena ia memiliki karakter dan prinsip kuat dan teguh dalam menghadapi persoalan militer-buruh-penguasa ; kesemua teror adalah pelanggaran HAM, bertujuan akhir membawa kepatuhan bagi masyarakatnya. (2) Intimidasi, direpresentasikan berupa ; autonomous shot , terlihat kekerasan simbolik yang terlihat dari narasi (verbal) dan bahasa tubuh (non verbal) ; Scene, pemeran utama Marsinah digambarkan sebagai sosok pahlawan buruh yang kritis, pemberani, bertanggungjawab, serta memperjuangkan kebenaran dan keadilan dan adanya melalui alternate syntagma terungkap hak-hak buruh untuk memperoleh kehidupan layak dengan kenaikan upah dan peningkatan taraf hidup layak menjadi sulit terpenuhi karena adanya tindakan membungkam oleh pengusahapemerintah kepada para buruh. Serta pelanggaran hak-hak dasar manusia : hak sipil, hak politik, hak sosial yakni kebijakan pemerintah tidak memihak sehingga kesejahteraan buruh kurang, upah di bawah UMR, serikat pekerja tidak bekerja maksimal dan tuntutan buruh tidak dipenuhi ; episodic sequence, adalah labelisasi PKI kepada buruh terduga provokator sehingga menimbulkan efek trauma psikologis terhadap masing-masing individu ; ordinary sequence dan descriptve syntagma terungkap sebuah catatan hitam bagi lembaga peradilan dan hukum di negeri tercinta ini. Sebuah peradilan yang memihak kepada siapa yang berkuasa, bukan yang benar. Kata kunci : Semiotika Film, Represi buruh, Orde Baru

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
H Social Sciences > HE Transportation and Communications
Divisions: Pasca Sarjana
Pasca Sarjana > Magister
Depositing User: Nilam Rikamukti
Date Deposited: 31 Oct 2015 07:45
Last Modified: 31 Oct 2015 07:45
URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/21171

Actions (login required)

View Item