REVITALISASI BALUWARTI SEBAGAI CAGAR BUDAYA KOTA SURAKARTA

Wiratmo, Widyo (2013) REVITALISASI BALUWARTI SEBAGAI CAGAR BUDAYA KOTA SURAKARTA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF
Download (297Kb) | Preview

    Abstract

    ABSTRAK Widyo Wiratmo. REVITALISASI BALUWARTI SEBAGAI CAGAR BUDAYA KOTA SURAKARTA. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. September 2013. Tujuan penelitian ini adalah u ntuk mendiskripsikan: (1) sejarah Baluwarti di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta, (2) potensi Baluwarti di kawasan Keraton Surakarta, (3) usaha - usaha revitalisasi Baluwarti sebagai cagar budaya di kota Surakarta , (4) hasil dan dampak yang ditimbulkan ole h proses revitalisasi Baluwarti Keraton Surakarta sebagai cagar budaya kota Surakarta. Bentuk penelitian ini deskriptif kualitatif yaitu suatu cara dalam meneliti peristiwa pada masa sekarang dengan menghasilkan data - data deskriptif yang berupa kata - kata t ertulis atau lisan dari orang - orang tertentu atau perilaku yang dapat diamati dengan menggunakan langkah - langkah tertentu. Dalam penelitian ini digunakan strategi studi kasus terpancang tunggal yaitu sasaran yang akan diteliti sudah dibatasi dan ditentukan serta terpusat pada satu lokasi yang mempunyai karakteristik tersendiri. Sumber data yang digunakan adalah sumber benda, tempat, peristiwa, informan, dan dokumen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Tehnik sampling y ang digunakan adalah purposive dan snowball sampling . Penelitian ini, untuk mencari validitas data digunakan dua teknik trianggulasi yaitu trianggulasi data dan trianggulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif, yaitu pros es analisis yang bergerak diantara tiga komponen yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Baluwarti awalnya bernama baluarte (bahasa Portugis) yang berarti benteng. Letaknya berada pada luar tembok Kedhaton (tembok yang mengelilingi Keraton) dan digunakan sebagai kediaman para pengeran, kerabat keraton, para abdi dalem pria dan wanita. Wilayah ini terdapat dua pintu, yakni Kori Brajanala (Gapit) Utara dan Kori Brajan ala (Gapit) Selatan (Kori berarti pintu) yang keduanya dihubungkan dengan jalan yang sejajar dengan tembok Kedhaton. Pada perkembangan setelahnya akhirnya Paku Buwana X memperluas wilayah Baluwarti dengan menambahkan buah pintu butulan yang letaknya di seb elah barat daya dan tenggara. Dan memungkinkan masyarakat Baluwarti dapat dengan bebas berhubungan dengan dunia luar yang ada di luar kompleks Kedhaton. (2) Usaha - usaha untuk merevitalisasi kawasan Baluwarti sebagai cagar budaya kota Surakarta dilakukan ol eh berbagai pihak yakni Dinas Tata Ruang Kota Surakarta yang mengacu pada UU Nomor 11 tahun 2010, pihak Keraton Kasunanan Surakarata sebagai pendukung dan masyarakat kawasan Baluwarti sebagai pelaku utama kegiatan revitalisasi (3) Revitalisasi kawasan Balu warti membawa pengaruh bagi masyarakat Baluwarti, yaitu adanya pengaruh sosial, misalnya menambah hubungan baik antar warga masyarakat dan memberikan rasa ikut memiliki di kalangan masyarakat terhadap warisan budaya yang terdapat di kawasan Baluwarti. Peng aruh dalam bidang ekonomi yaitu mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Baluwarti. Kata kunci : revitalisasi, cagar budaya

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Sejarah
    Depositing User: Azinudin Achzab
    Date Deposited: 05 Oct 2015 14:36
    Last Modified: 05 Oct 2015 14:36
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/20533

    Actions (login required)

    View Item