ANALISIS TERJEMAHAN KALIMAT YANG MEREPRESENTASIKAN TUTURAN PENOLAKAN DAN RANGKAIANNYA (REFUSAL SET) PADA NOVEL ‘THE DECEPTION POINT’ DAN DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS TERJEMAHAN

RUSJAYANTI, ANITA (2015) ANALISIS TERJEMAHAN KALIMAT YANG MEREPRESENTASIKAN TUTURAN PENOLAKAN DAN RANGKAIANNYA (REFUSAL SET) PADA NOVEL ‘THE DECEPTION POINT’ DAN DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS TERJEMAHAN. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF
Download (933Kb) | Preview

    Abstract

    Penelitian ini terfokus pada terjemahan kalimat yang merepresentasikan tuturan penolakan dan rangkaiannya (refusal set) dalam novel yang berjudul The Deception Point karya Dan Brown yang diterjemahkan oleh Isma B. Koesalamwardi dan Hendry M. Tanaja dalam novel ‘Titik Muslihat’. Tujuan penelitian ini adalah: (a) mendeskripsikan jenis strategi penolakan yang digunakan dalam novel ‘The Deception Point’, (b) mendeskripsikan jenis tindak tutur berilokusi penolakan dalam novel ‘The Deception Point’, (c) menemukan teknik-teknik penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan kalimat tuturan yang mengandung rangkaian penolakan dalam novel ‘The Deception Point’, (d) menjelaskan dampak ada tidaknya pergeseran jenis tuturan penolakan terhadap kualitas terjemahan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Terdapat 225 jumlah data dalam penelitian ini. Data tersebut adalah berupa kalimat yang merepresentasikan tuturan penolakan. Data tuturan penolakan tersebut diklasifikasikan berdasarkan jenis penolakan, strategi penolakan, dan tindak tutur penolakan. Data tersebut kemudian disusun menjadi kuesioner untuk dinilai kualitas terjemahannya dalam aspek keakuratan, keberterimaan, dan keterbacaan. Sementara itu, hasil penilaian kualitas terjemahan diperoleh dari Rater dan Responden. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (a) Strategi penolakan diwujudkan dalam tiga jenis, yaitu strategi penolakan langsung, strategi penolakan tidak langsung, dan kombinasi strategi penolakan langsung dan tidak langsung. Strategi penolakan tidak langsung (baik tunggal maupun dua sampai enam kombinasi) mendominasi tuturan penolakan dalam penelitian ini karena tokoh-tokoh novel sebagai penutur dipaksa melakukan keinginan mitra tuturnya sehingga penutur melakukan penolakan tidak langsung agar penolakan bisa diterima mitra tuturnya dan agar bisa mempertahankan pendiriannya untuk tidak melakukan keinginan mitra tutur. (b) Tindak tutur yang berilokusi penolakan yang ditemukan berjumlah lima jenis, yakni tindak tutur asertif, yang berupa tuturan menjelaskan, beralasan, dan berfilosofi; tindak tutur direktif, yang berupa tuturan menantang, mengajak, menyarankan, menenangkan, memerintah, meminta syarat, memohon, dan memanggil; tindak tutur komisif, yang berupa tuturan mengabulkan sebenarnya menolak, menolak langsung, berprinsip, berjanji, dan menawari; tindak tutur ekspresif, yang berupa tuturan mengkritik, mengulang pernyataan, mengelak, membela diri, menyatakan kekecewaan, mengandaikan, mengubah topik, menyatakan dampak negatif, mengeluh, meminta maaf, menyindir, dan bergurau; dan tindak tutur deklaratif, yang berupa tuturan menunda dan memutuskan. Sementara itu, tuturan menjelaskan paling sering digunakan karena mayoritas berfungsi sebagai penjelas dari penolakan inti (main refusal) sedangkan tuturan mengkritik dan beralasan paling sering digunakan sebagai penolakan inti (main refusal) jika dibandingkan dengan tuturan lainnya. (c) Teknik-teknik penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan tuturan penolakan berupa teknik penerjemahan tunggal, teknik penerjemahan kuplet, teknik penerjemahan triplet, dan teknik penerjemahan kuartet. Teknik Penerjemahan tunggal dan kuplet dominan digunakan Penerjemah karena konstruksi kalimat tuturan penolakan yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, varian teknik penerjemahan yang paling sering digunakan adalah kesepadanan lazim, variasi, amplifikasi, dan reduksi. (d) Dalam penelitian ini ditemukan lima data yang mengalami pergeseran. Pergeseran tersebut diakibatkan oleh penggunaan teknik kreasi diskursif, modulasi, dan reduksi dalam menerjemahkan. Hal ini mengakibatkan terjemahan menjadi kurang atau tetap akurat tetapi masih berterima dan terbaca di bahasa sasaran, tergantung ada tidaknya pergeseran strategi penolakan dan fungsi penolakannya. Berdasarkan hasil temuan, dapat disimpulkan bahwa terjemahan novel ‘The Deception Point’ sudah sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil akhir penghitungan pembobotan ketiga kualitas terjemahan (keakuratan, keberterimaan, keterbacaan), yaitu sebesar 2,92. Dengan kata lain, Penerjemah mampu mentransfer pesan terjemahan kalimat yang merepresentasikan tuturan penolakan dan rangkaiannya (refusal set) dengan baik, meskipun ditemukan adanya lima data mengalami pergeseran jenis tuturan penolakan ataupun strategi penolakannya. Pergeseran dalam tuturan penolakan boleh dilakukan asalkan tidak mengubah strategi penolakan yang digunakan dalam bahasa sumber dan tidak menghilangkan penolakan inti (main refusal). Namun, temuan pergeseran yang relatif kecil tersebut tidak sebanding dengan tingginya derajat kualitas terjemahan yang dihasilkan oleh Penerjemah sehingga terjemahan bisa dikatakan berkualitas sangat baik. Kata kunci : tuturan penolakan, rangkaian penolakan (refusal set), strategi penolakan, tindak tutur, pergeseran, penerjemahan, teknik penerjemahan, kualitas terjemahan

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Linguistik - S2
    Depositing User: faizah sarah yasarah
    Date Deposited: 01 Oct 2015 08:43
    Last Modified: 01 Oct 2015 08:43
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/19843

    Actions (login required)

    View Item