POLA KOMUNIKASI KELUARGA DALAM MENGENALKAN DAN MENANAMKAN NILAI BUDAYA KEPADA ANAK (STUDI DESKRIPTIF PENERAPAN POLA KOMUNIKASI PENGENALAN NILAI BUDAYA SUNDA PADA KELUARGA KETURUNAN KERAJAAN SUMEDANG LARANG)

ROSTIASIH, HAFIZAH SIDI (2015) POLA KOMUNIKASI KELUARGA DALAM MENGENALKAN DAN MENANAMKAN NILAI BUDAYA KEPADA ANAK (STUDI DESKRIPTIF PENERAPAN POLA KOMUNIKASI PENGENALAN NILAI BUDAYA SUNDA PADA KELUARGA KETURUNAN KERAJAAN SUMEDANG LARANG). Other thesis, UNIVERSITAS SEBELAS MARET.

[img]
Preview
PDF
Download (828Kb) | Preview

    Abstract

    Di era globalisasi, budaya lokal yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit ditemukan, sementara itu budaya global lebih mudah merasuk. Salah satu budaya lokal yang kini dianggap mulai luntur adalah budaya Sunda. Bahasa Sunda yang menjadi bahasa daerah Jawa Barat kini sudah jarang dipakai, padahal penutur bahasa Sunda berkisar 27 juta orang. Namun ada salah satu daerah yang masih melestarikan budaya Sunda, yaitu Sumedang. Kabupaten yang berada di provinsi Jawa Barat ini bahkan menjuluki dirinya sebagai pusat budaya Sunda. Alo Liliweri berpendapat bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan. Segala kegiatan dan pikiran manusia menghasilkan kebudayaan. Sementara itu, Samovar menyebutkan bahwa salah satu karakteristik budaya adalah budaya itu dipelajari dan ditransmisikan dari generasi ke generasi. Berdasarkan pernyataan kedua ahli ini, dibuatlah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi keluarga dalam mengenalkan dan menanamkan nilai budaya Sunda dalam keluarga keturunan kerajaan Sumedang Larang. Untuk menganalisis masalah tersebut, metode yang digunakan adalah analisis data model interaktif. Data penelitian ini dapat diperoleh dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Dari hasil analisis yang dilakukan ternyata dalam keluarga keturunan kerajaan Sumedang Larang anak telah dikenalkan kepada budaya Sunda sejak dini. Budaya Sunda yang diperkenalkan kepada anak adalah falsafah hidup orang Sunda yaitu cageur (sehat secara rohani dan fisik), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas) dan juga filosofi Kasumedangan yang mengatakan bahwa manusia sebagai mahluk yang sempurna dengan akal dan perasaannya harus senantiasa berbuat baik, santun dan arif-bijaksana. Nilai filosofi Sunda dan Kasumedangan ini terkandung dalam tujuh unsur budaya universal menurut Koentjaraningrat dengan beragam metode. Pengenalan dan penanaman nilai budaya sejak dini membuat anak lebih paham terhadap budaya Sunda sehingga mereka dapat mengimplementasikan nilai budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari sejak dini, sekarang, hingga nanti.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    H Social Sciences > HE Transportation and Communications
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Mohamad Ghulam Hirbatul Azis
    Date Deposited: 30 Sep 2015 00:04
    Last Modified: 30 Sep 2015 00:04
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/19760

    Actions (login required)

    View Item