PERKEMBANGAN PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA SEMARANG TAHUN 1980-2006

Rindarjono, Moh. Gamal (2010) PERKEMBANGAN PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA SEMARANG TAHUN 1980-2006. PhD thesis, Pascasarjana UGM.

[img] Microsoft Word - Published Version
Download (818Kb)

    Abstract

    Menurut proyeksi World Population Data Sheet (2005), Indonesia sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan sangat cepat (1,5%-2% per tahun), peningkatan jumlah penduduk yang tinggi ini akan berdampak pada aspek kehidupan yang luas. Diantaranya adalah tuntutan kebutuhan dasar manusia akan pangan dan papan. Tuntutan kebutuhan dasar tersebut tidak lepas dari ketersediaan akan lahan, lahan baik di perdesaan maupun lahan di perkotaan. Peningkatan kebutuhan akan lahan, khususnya di daerah perkotaan semakin nampak terutama lahan sebagai wadah untuk menampung kegiatan manusia maupun sebagai wadah untuk bermukim. Peningkatan jumlah penduduk di perkotaan tidak hanya dipengaruihi oleh pertumbuhan penduduk alami semata, tetapi juga dipengaruhi oleh banyaknya pendatang baru baik dari daerah perdesaan maupun dari daerah perkotaan di sekitarnya, seiring dengan pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh faktor alamiah maupun adanya migarasi penduduk ke daerah perkotaan, permintaan akan lahan untuk permukiman juga semakin meningkat, sementara luas lahan kota secara administratif tetap, konsekuensi ekonomis yang harus disandang adalah harga lahan semakin meningkat, akibat yang muncul terutama bagi migran dan juga penduduk kota yang status ekonominya lemah, adalah rendahnya kemampuan untuk memiliki rumah. Dampak yang terjadi selanjutnya adalah terjadinya pemadatan bangunan (densifikasi) permukiman, yang berakibat menurunnya kualitas permukiman, dengan demikian di daerah perkotaan akan timbul daerah-daerah permukiman yang kurang layak huni yang sangat padat, dan hal ini akan membawa suatu akibat pada kondisi lingkungan permukiman yang buruk, yang selanjutnya disebut sebagai daerah kumuh (slum area). Penelitian ini dilaksanakan di Kota Semarang, dengan tujuan: (1) Mengkaji pola perkembangan permukiman kumuh dari penyebab perkembangan yang terjadi dan sebaran spatialnya selama kurun waktu 1980-2006;(2) Mengkaji proses perkembangan permukiman kumuh dan faktor-faktor yang mempengaruhinya; dan (3) Mengkaji dampak yang menyertai serta sesudah adanya perkembangan permukiman kumuh. Penelitian ini menggunakan metode survey, sampel penelitian di lakukan di daerah pusat kota, selaput inti kota, dan pinggiran kota perbukitan, pinggiran kota dataran rendah dan pinggiran kota yang terletak di pantai. Kelima daerah tersebut adalah Kelurahan Pekunden, Kelurahan Mrican, Jatingaleh, Kuburan Cina, dan Kelurahan Bandarharjo. Analsis menggunakan analisis keruangan yang dibantu dengan menggunakan program Geographyc Information System (GIS) dan SPSS dengan metode analisis kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini menemukan, perkembangan permukiman kumuh di Kota Semarang memperlihatkan kondisi kualitas lingkungan yang semakin menurun atau terjadi deteriorisasi, secara umum hal ini dapat diamati berdasarkan hal sebagai berikut: (1) Fasilitas umum yang kondisinya dari tahun ke tahun semakin berkurang atau bahkan sudah tidak memadai lagi; (2) Kualitas lingkungan yang semakin menurun, hal ini dicerminkan dengan tingginya wabah penyakit serta tingginya frekwensi wabah penyakit yang terjadi, umumnya adalah DB (demam berdarah), diare, dan penyakit kulit; (3) Sifat extended family pada sebagian besar pemukim permukiman kumuh mengakibatkan dampak pada pemanfaatan ruang yang sangat semrwut di dalam rumah, untuk menampung penambahan jumlah anggota keluarga maka dibuat penambahan-penambahan ruang serta bangunan yang asal jadi, akibatnya kondisi rumah secara fisik semakin terlihat awut-awutan; (4) Proses penuaan memiliki dampak semakin terlihatnya permukiman kumuh bertambah kusam dalam performanya, hal ini nampak secara visual dari kondisi partisi dinding bangunan yang ada serta atap yang kualitasnya semakin menurun; (5) Di dalam proses densifikasi di permukiman kumuh akan diikuti oleh infilling process dan dampak selanjutnya akan terjadi involusi permukiman, yakni permintaan lahan akan permukiman yang semakin meningkat sementara ketersediaan lahan yang cenderung tidak bertambah. Meskipun pada proses ini terjadi pada lahan yang legal secara hukum, namun lebih lanjut akan terjadi adanya proses taudifikasi, yaitu seluruh proses yang mengarah pada kekumuhan sehingga akan mengarah pada death point, yakni titik dimana seluruh ruang sudah terisi oleh permukiman dan tidak ada lagi ruang untuk berbagai fasilitas lainnya; (6) Proses inundasi dalam proses perkembangan permukiman kumuh di daerah penelitian memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap percepatan laju perkembangan permukiman kumuh, dampak dari adanya inundasi memperlihatkan fenomena yang sangat spesial, dampak ini dapat diglongkan ke dalam dampak fisik dan sosial.

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Depositing User: Dyah Pratiwi
    Date Deposited: 11 Jul 2013 21:05
    Last Modified: 11 Jul 2013 21:05
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/1974

    Actions (login required)

    View Item