REFLEKS FONEM-FONEM PROTO-AUSTRONESIA PADA BAHASA JAWA DIALEK BANYUMAS DAN TENGGER: KAJIAN DIALEKTOLOGI DIAKRONIS

PURWANTO, (2015) REFLEKS FONEM-FONEM PROTO-AUSTRONESIA PADA BAHASA JAWA DIALEK BANYUMAS DAN TENGGER: KAJIAN DIALEKTOLOGI DIAKRONIS. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (401Kb)

    Abstract

    Penelitian ini mengkaji perubahan fonem dan leksikal yang terjadi pada BJDB dan Tengger dari proto-Austronesia. Penelitian ini juga disebut sebagai rekonstruksi internal bahasa Jawa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan refleks fonem-fonem proto- Austronesia pada bahasa Jawa dialek Banyumas (BJDB) dan Tengger (BJDT), mendeskripsikan cerminan leksikon pra-bahasa Jawa sebagai indikasi mezobahasa pada dialek Banyumas dan Tengger, dan mendeskripsikan bukti kuantitatif yang mendukung bukti kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis hubungan historis berdasarkan bukti fonologis. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan relasi historis bahasa- bahasa tersebut secara leksikal. Berdasarkan pendekatan kualitatif, fonem vokal proto-Austronesia yang diwariskan secara linier pada BJDB adalah: */a/, */u/, */i/, *//, *//. Vokal proto- Austronesia yang diwariskan secara linier pada BJDT adalah: */a/, */u/, */i/, *//. Konsonan proto Austronesia yang diwariskan secara linier pada BJDB dan BJDT ditemukan sama: */p/, */b/, */t/, */d/, *//, *//, */c/, */j/, */k/, *//, */g/, */m/, *//, *//, */n/, */h/, */l/, */r/, */s/, */w/, *y/. Fonem- fonem tersebut selain mengalami retensi juga mengalami inovasi menjadi beberapa fonem berbeda dengan kaidah yang jelas. Inovasi vokal proto-Austronesia, meliputi: */a/ menjadi /u/, /e/, //, //, // pada BJDB dan menjadi /U/, //, //, // pada BJDT; */u/ menjadi /U/, /a/, //, /o/, // pada BJDB dan BJDT; */i/ menjadi /e/, // pada BJDB dan menjadi /I/, /e/, //, // pada BJDT; *// menjadi /a/, /u/ pada BJDB dan menjadi /a/, /i/, /U/ pada BJDT; */e/ menjadi //, /u/, // pada BJDB dan BJDT; */o/ menjadi /u/ pada BJDB dan BJDT. Inovasi diftong proto-Austronesia, meliputi: */aw/ menjadi /u/, /o/ pada BJDB dan BJDT; */iw/ menjadi /u/ pada BJDB dan BJDT; */ay/ menjadi /i/, /e/, // pada BJDB dan menjadi /i/, /e/ pada BJDT; */ey/ menjadi /i/ pada BJDB dan BJDT; */uy/ menjadi /i/ pada BJDB dan menjadi /I/ pada BJDT. Inovasi konsonan proto-Austronesia, meliputi: */p/ menjadi /b/, // pada BJDB dan menjadi // pada BJDT; */b/ menjadi /d/, /g/, /m/, /p/, /w/, // pada BJDB dan BJDT; */t/ menjadi /g/, //, /m/, /r/, /s/ pada BJDB dan menjadi /b/, /d/, /g/, /k/, /m/, /r/ /s/ pada BJDT; */d/ menjadi /b/, //, /j/, /k/, /p/, /r/, /s/, // pada BJDB dan menjadi /b/, //, /n/, /p/, /r/, /s/, // pada BJDT; *// menjadi /d/, /m/ pada BJDB dan menjadi /d/, /m/, /s/ pada BJDT; *// menjadi /b/, /d/, /r/ pada BJDB dan BJDT; */j/ menjadi /r/ pada BJDB dan BJDT; */k/ menjadi fonem /c/, /g/, //, //, /p/, /t/, // pada BJDB , dan menjadi /c/, /g/, //, /, /t/, // pada BJDT; *// menjadi /k/, // pada BJDB dan BJDT; */g/ menjadi /j/, // pada BJDB dan menjadi // pada BJDT; *// menjadi /m/ pada BJDB dan BJDT; */n/ menjadi //, /t/, // pada BJDB dan BJDT; */h/ menjadi //, //, /t, /s/, /y/, // pada BJDB dan menjadi //, //, /t/, /y/, // pada BJDT; */l/ menjadi /r/ pada BJDB dan BJDT; */q/ menjadi /h/, /k/, //, //, /r/, /s/, // pada BJDB dan BJDT; */r/ menjadi /b/, /d/, //, /p/, /s/, /y/, // pada BJDB dan menjadi /b/, /d/, /s/, /y/, // pada BJDT; */R/ menjadi /r/, //, // pada BJDB dan menjadi /r/, // pada BJDT; * /z/ menjadi fonem /d/, /j/ pada BJDB dan BJDT. Pendekatan kualitatif juga menjelaskan tipe-tipe perubahan fonem. Perubahan dalam kaidah primer meliputi split, partial split, dan merger. Perubahan dalam kaidah sekunder meliputi delesi, haplologi, penambahan bunyi, metatesis, asimilasi, dan monoftongisasi. Berdasarkan pendekatan kualitatif dirumuskan karakteristik mezobahasa Jawa, meliputi: Leksikon dengan fonem depan /h/, leksikon dengan fonem /w/ yang melekat pada konsonan, leksikon dengan diftong pada akhir kata. Berdasarkan pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan kaidah leksikostatistik diperoleh kesimpulan bahwa BJDB dan BJDT merupakan bahasa Jawa pada tataran beda wicara, bukan dialek, dengan temuan persentase perbedaan leksikon 29%. Kata kunci: refleks fonem, kaidah primer, kaidah sekunder, metode kuantitatif, metode kualitatif, retensi dan inovasi.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Linguistik - S2
    Depositing User: Igor M. Farhan
    Date Deposited: 09 Sep 2015 18:14
    Last Modified: 09 Sep 2015 18:14
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/18469

    Actions (login required)

    View Item