EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CORE (CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI BANGUN DATAR SEGITIGA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA KELAS VII SMP NEGERI 3 SURAKARTA SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Suciati, Irna (2015) EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CORE (CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI BANGUN DATAR SEGITIGA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA KELAS VII SMP NEGERI 3 SURAKARTA SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2013/2014. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF
Download (680Kb) | Preview

    Abstract

    Irna Suciati. EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CORE (CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI BANGUN DATAR SEGITIGA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA KELAS VII SMP NEGERI 3 SURAKARTA SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2013/2014. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Januari 2015. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) apakah model pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) dapat menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional pada materi bangun datar segitiga (2) apakah semakin tinggi kemampuan awal siswa akan menghasilkan kemampuan pemecahann masalah yang lebih baik dalam pembelajaran materi bangun datar segitiga (3) pada masing-masing tingkat kemampuan awal, apakah penerapan model pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) dapat menghasilkan kemampuan pemecahan masalah lebih baik dari pada penerapan model pembelajaran konvensional (4) pada masing-masing penerapan model pembelajaran, apakah semakin tinggi kemampuan awal siswa dapat menghasilkan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 3 Surakarta tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari sembilan kelas. Sampel yang digunakan yaitu dua kelas dengan jumlah total siswa kedua kelas tersebut 60 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan cluster random sampling. Uji coba instrumen dilaksanakan di SMP Negeri 5 Surakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi untuk mengumpulkan data berupa nilai ulangan harian pada materi sebelumnya, metode tes untuk mengumpulkan data trkait kemampuan awal siswa dan kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi luas daerah dan keliling bangun datar segitiga. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Sebagai persyaratan uji analisis variansi yaitu populasi berdistribusi normal menggunakan uji Lilliefors dan populasi mempunyai variansi yang sama (homogen) menggunakan metode Bartlett. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) model pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi bangun datar segitiga (2) tingkat kemampuan awal yang dimiliki siswa memberikan pengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi bangun datar segitiga. Siswa dengan kemampuan awal tinggi memilki kemampuan pemecahan memiliki kemampuan awal sedang, sedangkan siswa dengan kemampuan awal tinggi memilki kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik dari pada siswa dengan kemampuan awal rendah, serta siswa dengan kemampuan awal sedang juga memilki kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik dari pada siswa dengan kemampuan awal rendah (3) pada masing-masing tingkat kemampuan awal, siswa yang mengikuti model pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik daripada siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional (4) pada masing-masing model pembelajaran baik CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) maupun konvensional, siswa dengan kemampuan awal tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik daripada siswa dengan kemampuan awal sedang dan rendah, serta siswa dengan kemampuan awal sedang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika lebih baik dari pada siswa dengan kemampuan awal rendah. Kata kunci : pembelajaran CORE, kemampuan awal, kemampuan pemecahan masalah.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Q Science > QA Mathematics
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Matematika
    Depositing User: Rizqy Pratama Putra
    Date Deposited: 06 Sep 2015 23:00
    Last Modified: 06 Sep 2015 23:00
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/18066

    Actions (login required)

    View Item