PERBEDAAN TREATMENT PROCESS DAN CLINICAL OUTCOME PADA PENATALAKSANAAN ARTHROGRYPOSIS MULTIPLE CONGENITA CLUBFOOT DAN IDIOPATHIC CLUBFOOT DENGAN METODE PONSETI DI KLINIK CLUBFOOT RS ORTOPEDI PROF.DR.R.SOEHARSO SURAKARTA

Wibawa, Hirman (2015) PERBEDAAN TREATMENT PROCESS DAN CLINICAL OUTCOME PADA PENATALAKSANAAN ARTHROGRYPOSIS MULTIPLE CONGENITA CLUBFOOT DAN IDIOPATHIC CLUBFOOT DENGAN METODE PONSETI DI KLINIK CLUBFOOT RS ORTOPEDI PROF.DR.R.SOEHARSO SURAKARTA. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF
Download (500Kb) | Preview

    Abstract

    Latar belakang:. Clubfoot pada Arthrogryposis sangat rigid, sehingga sulit untuk dikoreksi dan mudah terjadi relaps. Hasil pembedahanpun ternyata juga menunjukkan angka kegagalan yang tinggi dan mengalami banyak komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan metode Ponseti untuk penanganan Clubfoot pada AMC dan Idiopatik Clubfoot. Metode : Penelitian dilakukan di klinik Clubfoot RS Ortopedi Prof.Dr.R. Soeharso Surakarta, sejak Maret 2013 sampai Agustus 2013. Evaluasi penanganan dengan metode Ponseti ada 2 hal: (1) proses terapi (jumlah pengegipan saja atau pengegipan dengan pembedahan (2) hasil terapi (dievaluasi dengan derajat gerakan pasif pada dorsifleksi, heel varus valgus dan forefoot inversi eversi pada kunjungan terakhir lalu dinilai dengan Functional Rating System for Clubfoot, dibandingkan pada AMC dan Idiopatik Clubfoot,lalu diuji statistik). Hasil : Telah dievaluasi pasien AMC Clubfoot sebanyak 23 pasien (41 kaki). Didapatkan rata-rata pengegipan sebanyak 6,95 kali. Ada 6 kaki (14,63%) hanya dengan pengegipan saja, 23 kaki (56,09%) diikuti dengan percutaneus ATL, 2 kaki (4,87%) diikuti dengan open ATL, dan 10 kaki (24,39%) diikuti dengan Posterior Release (ATL + Dosal Capsulotomy). Telah dievaluasi pasien Idiopatik Clubfoot sebanyak 30 pasien (41 kaki). Didapatkan rata-rata pengegipan sebanyak 5,51 kali. Ada 6 kaki (14,63%) hanya dengan pengegipan saja, 22 kaki (54,70%) diikuti dengan percutaneus ATL, 10 kaki (24,31%) diikuti dengan open ATL, dan 3 kaki (7,42%) diikuti dengan Posterior Release . Proses treatment pada Idiopatik lebih cepat dibandingkan pada AMC dan bermakna secara statistik. Clinical outcome semuanya memberikan hasil yang memuaskan,akan tetapi pada Idiopatik memberi hasil yang lebih baik dibandingkan pada AMC dan bermakna secara statistik. Kesimpulan : Metode Ponseti sebagai terapi AMC clubfoot dan Idiopatik Clubfoot di Rumah Sakit Orthopaedi Soeharso Surakarta memberikan hasil yang memuaskan. Kami menganjurkan metode Ponseti sebagai terapi lini pertama untuk AMC club foot dan Idiopatik Clubfoot pada anak. Kata kunci : Metode Ponseti, AMC Clubfoot, Idiopatik Clubfoot, Rumah Sakit Ortopedi Soeharso Surakarta, Indonesia

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Magister Kedokteran Keluarga
    Depositing User: Rizqy Pratama Putra
    Date Deposited: 02 Sep 2015 10:50
    Last Modified: 02 Sep 2015 10:50
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/17427

    Actions (login required)

    View Item