KARAKTERISTIK BERPIKIR MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) GEMOLONG DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL (SPLDV) DITINJAU DARI KEMAMPUAN PENALARAN SISWA DAN GENDER

SUPRIYANTO, AGUS (2015) KARAKTERISTIK BERPIKIR MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) GEMOLONG DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL (SPLDV) DITINJAU DARI KEMAMPUAN PENALARAN SISWA DAN GENDER. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (654Kb) | Preview

    Abstract

    Agus Supriyanto. S851302005. Karakteristik Berpikir Matematis Siswa SMP Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Gemolong dalam Memecahkan Masalah Matematika pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) Ditinjau dari Kemampuan Penalaran Siswa dan Gender. Pembimbing I: Dr. Mardiyana, M.Si. Pembimbing II: Dr. Sri Subanti, M.Si. Tesis : Program Studi Magister Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2014. ABSTRAK Tujuan penelitian untuk mengetahui dan mendeskripsikan karakteristik berpikir matematis siswa kelas VIII SMP MTA Gemolong dalam memecahkan masalah matematika pada materi sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) ditinjau dari kemampuan penalaran dan gender pada kategori: (1) siswa laki-laki dengan kemampuan tinggi, (2) siswa perempuan dengan kemampuan tinggi, (3) siswa laki-laki dengan kemampuan sedang, (4) siswa perempuan dengan kemampuan sedang, (5) siswa lakilaki dengan kemampuan rendah, dan (6) siswa perempuan dengan kemampuan rendah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatifeksploratif. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak enam subjek penelitian, yaitu siswa laki-laki dan siswa perempuan dengan kemampuan penalaran tinggi, siswa laki-laki dan siswa perempuan dengan kemampuan penalaran sedang, siswa laki-laki dan siswa perempuan dengan kemampuan penalaran rendah. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah pengelompokan kemampuan penalaran, tes pemecahan masalah, dan pedoman wawancara. Uji validasi data yang digunakan adalah uji triangulasi waktu. Hasil penelitian menunjukkan: (1) karakteristik berpikir matematis siswa lakilaki dengan kemampuan penalaran tinggi dalam memecahkan masalah memenuhi fase berpikir matematis, yaitu fase reproduksi, fase koneksi dan fase analisis. Namun pada fase analisis, siswa tidak dapat memenuhi tahap mengembangkan penyelesaian sendiri. (2) Karakteristik berpikir matematis siswa perempuan dengan kemampuan penalaran tinggi dalam memecahkan masalah memenuhi fase berpikir matematis, yaitu fase reproduksi, fase koneksi dan fase analisis. Namun pada fase analisis, siswa tidak dapat memenuhi tahap mengembangkan penyelesaian sendiri. (3) Karakteristik berpikir matematis siswa laki-laki dengan kemampuan penalaran sedang dalam memecahkan masalah memenuhi fase berpikir matematis, yaitu fase reproduksi, fase koneksi dan fase analisis. Namun pada fase analisis, siswa tidak dapat memenuhi tahap melakukan interpretasi dan tahap mengembangkan penyelesaian sendiri. (4) Karakteristik berpikir matematis siswa perempuan dengan kemampuan penalaran sedang dalam memecahkan masalah memenuhi fase berpikir matematis, yaitu fase reproduksi, fase koneksi dan fase analisis. Namun pada fase analisis, siswa tidak dapat memenuhi tahap melakukan analisis, melakukan interpretasi dan tahap membuat generalisasi. (5) Karakteristik berpikir matematis siswa laki-laki dengan kemampuan penalaran rendah dalam memecahkan masalah memenuhi fase berpikir matematis, yaitu fase reproduksi, fase koneksi dan fase analisis. Namun pada fase koneksi siswa tidak dapat mengintegrasikan informasi dan memecahkan masalah tidak rutin, selain itu siswa tidak memenuhi fase berpikir matematis pada fase analisis. (6) Karakteristik berpikir matematis siswa lakilaki dengan kemampuan penalaran rendah dalam memecahkan masalah memenuhi 3 fase berpikir matematis, yaitu fase reproduksi, fase koneksi dan fase analisis. Namun pada fase koneksi, siswa hanya memenuhi satu tahap, yaitu menetapkan rumus (tools) yang akan digunakan, sedangkan pada fase analisis siswa memenuhi dua fase, yaitu mematematisasi situasi, dan melakukan analisis. Kata kunci: berpikir matematis, memecahkan masalah, kemampuan penalaran, gender.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > LB Theory and practice of education
    L Education > LB Theory and practice of education > LB1603 Secondary Education. High schools
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Matematika - S2
    Depositing User: Ihwan Ali
    Date Deposited: 30 Aug 2015 10:35
    Last Modified: 30 Aug 2015 10:35
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/16772

    Actions (login required)

    View Item