UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATERI LOGARITMA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN METAPHORMING DENGAN STRATEGI ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, SATISFACTION (ARIAS) DI KELAS X SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015

Handayani, Hesti (2015) UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATERI LOGARITMA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN METAPHORMING DENGAN STRATEGI ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, SATISFACTION (ARIAS) DI KELAS X SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015. UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATERI LOGARITMA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN METAPHORMING DENGAN STRATEGI ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, SATISFACTION (ARIAS) DI KELAS X SMA AL ISLAM 1 .

[img]
Preview
PDF - Submitted Version
Download (134Kb) | Preview

    Abstract

    Akhir-akhir ini teknologi semakin berkembang dengan pesatnya seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Untuk itulah seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan yang tinggi agar mampu menghadapi tantangan zaman, baik kemampuan berupa hardskill maupun softskill. Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan tersebut yaitu melalui pendidikan di sekolah. Betapa pentingnya pendidikan sekolah karena disini anak akan mendapat semua bekal ilmu pengetahuan untuk nantinya dapat berkompetisi di dunia kerja. Hal yang sangat berkaitan erat dengan pendidikan yaitu proses pembelajaran. Karena dari proses pembelajaran yang tepat nantinya akan menghasilkan generasi yang memiliki kompetensi tinggi sehingga mampu bersaing di dunia global. Salah satu proses pembelajaran di sekolah yaitu berupa proses pembelajaran mata pelajaran Matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai peran besar dalam proses pendidikan karena banyak cabang ilmu lain yang memanfaatkan ilmu Matematika. Oleh karena itu setiap lulusan SMA/sederajat diwajibkan untuk menguasai Matematika yang sesuai dengan jenjangnya yang ditandai dengan kelulusan yaitu mendapat nilai diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Namun demikian tuntutan penguasaan Matematika belum sejalan dengan kenyataan yang terjadi. Berdasarkan data dari Balitbang Kemdikbud, rerata nasional UN murni untuk Matematika pada Ujian Nasional tahun 2012/2013 adalah 5,78 untuk SMP dan jumlah siswa SMA yang hampir tidak lulus dikarenakan nilai matematika UN murni dibawah standar yaitu 5,5 mencapai 12,13%. Hasil tersebut tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan hasil UN mata pelajaran lain. Masalah yang sama juga terdapat di SMA Al Islam 1 Surakarta. Menurut hasil wawancara peneliti dengan Sugiharti S.Pd, guru kelas X mata pelajaran Matematika di SMA Al Islam 1 Surakarta, rata-rata nilai UN Matematika merupakan nilai terendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Beliau mengatakan bahwa pada mata pelajaran Matematika masih banyak siswa yang mengalami kesulitan, terutama pada pokok bahasan aljabar pada materi logaritma. Pada kelas X tahun ajaran 2013/2014, kurang dari 40% siswa yang dikatakan tuntas untuk pokok bahasan ini. Materi logaritma merupakan materi yang sangat penting karena termasuk dalam salah satu pokok bahasan yang diujikan pada Ujian Nasional. Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh penulis, rendahnya nilai pada materi ini disebabkan siswa kurang termotivasi dalam mengikuti mata pelajaran Matematika, kebanyakan siswa tidak memperhatikan saat guru menerangkan materi dan ketika diberi PR (Pekerjaan Rumah) hanya sebagian kecil siswa yang mengerjakan. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi siswa dalam belajar matematika masih rendah. Berdasarkan hasil observasi peneliti, masalah yang dihadapi disebabkan oleh kurang tepatnya pemilihan model pembelajaran untuk mengajarkan materi logaritma. Pada proses pembelajaran, terdapat beberapa kelemahan yaitu materi logaritma langsung diberikan kepada siswa tanpa diberitahu konsepnya, sehingga siswa hanya tahu penggunaannya tanpa tahu konsep dasarnya, sehingga saat diberikan soal yang agak rumit siswa menjadi bingung untuk menyelesaikannya. Selain itu guru tidak mengaitkan materi dengan kehidupan nyata, padahal pengaitan materi dengan kehidupan nyata sangat penting, karena dengan mengetahui penerapan logaritma pada kehidupan nyata, misalnya pada perhitungan suku bunga bank, siswa menjadi tertarik untuk mempelajari logaritma. Saat proses pembelajaran, banyak siswa yang tidak memperhatikan materi yang diajarkan oleh guru, hal ini terjadi karena guru kurang melibatkan siswa secara aktif. Guru mendominasi pembelajaran sehingga siswa merasa jenuh dan kurang termotivasi dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran seperti ini tidak memberikan pengalaman secara langsung kepada siswa untuk menemukan sendiri hal-hal baru yang sebelumnya tidak diperoleh siswa misalnya pembuktian sifat-sifat logaritma. Model pembelajaran seperti ini akan membuat proses belajar menjadi kurang bermakna. Materi logaritma merupakan materi yang abstrak, sehingga dibutuhkan pemahaman konsep yang baik dan motivasi belajar yang tinggi untuk bisa menguasainya. Sehingga pembelajaran yang lebih bermakna, yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep sendiri diharapkan dapat membuat penyampaian materi logaritma menjadi maksimal. Salah satu model pembelajaran yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna yaitu model pembelajaran metaphorming. Kata metaphorming berasal dari bahasa Yunani yaitu meta dan phora yang memiliki makna tindakan yang mengubah sesuatu yang bermakna. Ini diawali dengan mengasosiasikan beberapa ide menjadi suatu ide yang baru. Pemikiran inilah yang akan membawa siswa menuju percepatan dalam berpikir, berkreasi, menemukan suatu hal yang baru, dan menghubungkan semua hal yang terlihat tidak berhubungan menjadi hal yang saling terkait dan pada akhirnya bermuara pada penyelesaian masalah. Model pembelajaran ini menekankan pada pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Secara garis besar dapat kita katakan bahwa model pembelajaran metaphorming adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered). Model metaphorming terdiri dari 4 tahapan yaitu connection, discovery, invention dan application. Pada tahap connection, Pada tahap ini guru melibatkan siswa mencari informasi tentang materi yang akan dipelajari serta menggunakan analogi, cerita atau soal untuk menghubungkan hal yang sudah diketahui siswa dengan materi yang akan dipelajari, bisa juga berupa kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, kaitannya dengan mata pelajaran lain, atau analogi materi dengan suatu hal. Dengan begini, siswa menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk mempelajari Matematika karena siswa mengetahui tujuan mempelajari Matematika. Pada tahapan discovery, siswa dituntut untuk memanfaatkan pancaindranya untuk dapat menemukan sesuatu, siswa diajak untuk berpikir dan memiliki pengalaman sendiri pada proses pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Untuk dapat mengatasi masalah rendahnya motivasi, maka Model pembelajaran metaphorming akan dimodifikasi dengan strategi ARIAS. Strategi pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari strategi pembelajaran ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction). Strategi pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen yaitu Assurance, Relevance, Interest, Assessment dan Satisfaction. Strategi ini terutama bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Motivasi siswa dapat tumbuh sejak awal kegiatan dengan cara penyampaian materi Matematika dilakukan secara sistematis, dari yang mudah ke yang sukar, dari yang kongkret ke abstrak. Penyajian materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri dan motivasi pada siswa. Model pembelajaran metaphorming dan strategi ARIAS telah dijelaskan dalam beberapa penelitian, diantaranya penelitian Johar Maknun (2013) tentang pembelajaran metaphorming diperoleh kesimpulan bahwa model pembelajaran metaphorming dapat mengembangkan kreativitas siswa Sekolah Menengah Kejuruan(SMK). Selain itu, terdapat pula penelitian yang terkait dengan penggunaan strategi ARIAS dalam proses pembelajaran, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Novi Prayekti (2011) diperoleh kesimpulan bahwa penerapan strategi ARIAS dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa di SMP Negeri 2 Asembagus. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti tersebut, maka peneliti berharap penerapan model metaphorming dengan strategi ARIAS dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika dan motivasi belajar siswa kelas X MIA-1 SMA Al Islam 1 Surakarta pada materi logaritma.

    Item Type: Article
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Matematika
    Depositing User: rifqi imaduddin
    Date Deposited: 07 May 2015 17:56
    Last Modified: 17 Mar 2017 11:12
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/16411

    Actions (login required)

    View Item