Wacana Karikatur Indonesia Perspektif Kajian Pragmatik Perspektif Kajian Pragmatik

Suyitno, (2010) Wacana Karikatur Indonesia Perspektif Kajian Pragmatik Perspektif Kajian Pragmatik. UNS Press. ISBN 979-498-420-5

[img]
Preview
PDF
Download (31Kb) | Preview

    Abstract

    Karikatur adalah gambar yang mempunyai fungsi sebagai media kritik dan hiburan/humor. Hal itu diperkuat berdasarkan pemahaman karikaturis dan pembaca karikatur tentang fungsi kemasyarakatan yang terkandung di dalam karikatur. Karikatur-karikatur ciptaan G.M. Sudarta yang terdiri atas gambar dan teks telah memiliki keterkaitan dengan keduanya, yaitu antara tema, aspek kebahasaan, citra, dan gambar. Karya karikatur G.M. Sudarta sudah koheren dan memiliki kesatuan makna, dan tampil utuh sebagai karya karikatur. Untuk mendukung kesatuan makna, aspek kebahasaan yang dimanfaatkan di dalam karikatur adalah jenis tindak tutur komisif, ekspresif, verdiktif, asertif, direktif dan performatif. Jenis tindak tutur fatis dalam teks pendukung tidak dimanfaatkan oleh karikaturis karena tidak sesuai dengan karakteristik sebagai jenis tuturan yang mengandung kritik. Sedangkan jenis tindak tutur yang mendominasi aspek kebahasaan dalam karikatur G.M. Sudarta adalah jenis tindak tutur direktif. Berdasarkan analisis dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa karikatur adalah gambar yang memiliki fungsi utama melakukan kritik demi perbaikan dan fungsi hiburan/humor. Karikatur G.M. Sudarta yang terdiri dari gambar dan teks sudah memiliki keterkaitan dengan keduanya, yaitu antara tema, aspek kebahasaan, citra, dan gambar. Keduanya sudah koheren dan memiliki satu kesatuan makna dalam bingkai konteks ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, dan pendidikan. Di dalam aspek kebahasaan teks karikatur, karikaturis melanggar prinsip kerja sama maksim kuantitas, kualitas, relevansi, dan maksim pelaksanaan/cara. Pelanggaran maksim- maksim dalam wacana karikatur Wacana Karikatur Indonesia Perspektif Kajian Pragmatik semata-mata bukan untuk membingungkan atau mempersulit pemahaman pembaca, melainkan demi tujuan kritik kepada sasaran kritik melalui tuturan yang melanggar kaidah prinsip kerja sama agar lebih bernuansa humor dan menghibur. Sedangkan prinsip kesopanan yang diterapkan dalam w acana karikatur G.M. Sudarta meliputi maksim kebijaksanaan, kecocokan, kesimpatian, dan maksim kerendahan hati. Maksim- maksim tersebut diterapkan oleh karikaturis berdasarkan konteks situasi, sosial, dan budaya sasaran kritik maupun pembaca. Prinsip kesopanan maksim kedermawanan dan maksim penerimaan tidak dimanfaatkan dalam wacana karikatur G.M. Sudarta karena karakter karikatur itu sendiri. Dengan demikian wacana/teks yang ada di dalam karikatur mampu memperjelas dan menyatukan teks dan gambar dalam satu makna yang utuh. Dalam memahami fungsi kemasyarakatan sebuah karikatur, antara karikaturis dan pembaca terdapat sedikit perbedaan pemahaman dalam menafsirkan makna yang terkandung dalam teks dan gambar karikatur, yaitu dalam hal fungsi saran. Dari pemahaman karikatur yang dikemukakan informan penelitian di atas, sebenarnya karikatur sebagai opini yang berwujud kritik yang diterbitkan oleh surat kabar mampu membangkitkan emosi pembaca, mampu membangun semangat solidaritas masyarakat, dan dapat membangkitkan amarah dari pihak sasaran kritiknya. Implikasi dari hal tersebut adalah karikaturis dalam mencipta sebuah karikatur harus benar-benar memperhatikan aspek-aspek bahasa, budaya, sosial, masyarakat pembacanya. Seorang karikatur dalam menciptakan opini melalui media karikatur tidak dibenarkan bila hanya mementingkan segi ekspresi karikaturis semata, namun harus juga memperhatikan etika dan budaya sasaran kritiknya. Misalnya dalam mengkritik tokoh nasional yang sangat dihormati suatu oleh suatu bangsa dan umat beragama, karikaturis harus mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkan oleh karikatur yang diciptakannya tersebut dan tidak hanya berpikir dengan logika semata. Karikatur juga mampu membangkitkan selera humor dengan perantara tokoh-tokoh yang didistorsi menjadi bentuk yang lucu dan menggelikan. Fungsi humor tersebut dapat dijadikan sarana pelipur lara bagi pembaca. Hal ini sepadan dengan pendapat Wijana (2004) yang mengutip pendapat Danandjaja bahwa humor dapat melonggarkan ketegangan syaraf otak manusia. Dengan humor, pembaca dapat meredakan ketegangan pikirannya dan dapat me- refresh pikiran dan

    Item Type: Book
    Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
    Depositing User: mr azis r
    Date Deposited: 25 Jun 2014 18:38
    Last Modified: 25 Jun 2014 18:38
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/16305

    Actions (login required)

    View Item