ANALISIS KETAHANAN PANGAN PADA RUMAH TANGGA MISKIN DI KECAMATAN NGARINGAN KABUPATEN GROBOGAN

Helbawanti, Octaviana (2013) ANALISIS KETAHANAN PANGAN PADA RUMAH TANGGA MISKIN DI KECAMATAN NGARINGAN KABUPATEN GROBOGAN. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (140Kb) | Preview

    Abstract

    This study is aimed to describe proportion of food expenditure to total expenditure of the poor households in District Ngaringan Grobogan Regency; to describe the consumption of energy and protein the poor households in District Ngaringan Grobogan Regency; to analyze the relation between proportion of food expenditure with Energy Consumption Level of the poor households in District Ngaringan Grobogan Regency; andto describe food security condition of the poor households in District Ngaringan Grobogan Regency based on indicator of the proportion of food expenditure and energy consumption level. The method used in this study is descriptive method with survey research techniques. The method of the determination respondents used the purposive sampling method. The data used are the primary data and secondary data. The data collection methode used observation, interviews, written data and Recall at twice 24 hours. The result of this research showed that (1) the average proportion of food expenditure of the poor households is 79,86% or Rp 526.273,33/month and the average proportion of non food expenditure of the poor household is 20,14% or Rp 132.727,00./month (2) The average of Energy Consumption Level is 3.203,10 kkal/household/day or 66,03% and The Average of Protein Consumption Level is 87,02 gram/household/day 66,63% (3) Relation between Proportion of food expenditure with Energy Consumption Level -0,23 has low relation and contradictory, meaning if proportion of food expenditure is high, the Energy Consumption Level will be low. (4) Condition of food security of the poor household in District Ngaringan Grobogan Regency consists of food insecurity 76,67% or 23 poor households and vulnerable food category is 23,33%, or just 7 poor household. The advice recommended are (1) Formation and empowerment of women groups in the Bandungsari and given training by the Grobogan Regency Food Security Agency to process local food, such as corn, green beans, and soy, which can increase the added value of local food and increase revenue (2) Yard the land of the poor household for planting food or horticultural commodities, so that they can produce their own food, increase the diversity of consumption, and reduce food expenditure. (3) Socialization by the Health Department on a diverse array of food and nutritionally balanced on the types and functions of nutrients for the body. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan, mengetahui konsumsi energi dan protein pada rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan, menganalisis hubungan antara proporsi pengeluaran pangan dengan Tingkat Konsumsi Energi (TKE) rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan, dan mengetahui kondisi ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan berdasarkan indikator proporsi pengeluaran pangan dan tingkat konsumsi energi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik penelitian survei. Metode penentuan sampel menggunakan metode purposive. Jenis data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, pencatatan, dokumentasi, dan Recall dua kali 24 jam. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa : (1) Rata-rata proporsi pengeluaran konsumsi pangan rumah tangga miskin adalah sebesar 79,86% atau Rp 526.273,33/bulan dan rata-rata proporsi untuk pengeluaran non pangan sebesar 20,14% atau Rp 132.727,00/bulan. (2) Rata-rata konsumsi energi rumah tangga miskin adalah 3.203,10 kkal/rumah tangga/hari atau 66,03% dan rata-rata konsumsi protein rumah tangga miskin 87,02 gram/rumah tangga/hari atau 66,63%. (3) Koefisien korelasi hubungan antara proporsi pengeluaran pangan dengan Tingkat Konsumsi Energi sebesar -0,23, artinya memiliki keeratan hubungan yang rendah dan berlawanan yaitu jika proporsi pengeluaran pangan meningkat maka Tingkat Konsumsi Energi rendah dan sebaliknya. (4) Kondisi Ketahanan pangan rumah tangga miskin adalah 23 rumah tangga miskin atau 76,67% dengan status rawan pangan dan 7 rumah tangga miskin atau 23,33% dengan status rentan pangan. Dari hasil penelitian maka disarankan (1) Pembentukan dan pemberdayaan kelompok wanita di Desa Bandungsari Kecamatan Ngaringan yang didampingi dan diberi pelatihan oleh Badan Ketahanan Pangan untuk mengolah pangan lokal unggulan, yaitu jagung, kacang hijau, dan kacang kedelai, yang dapat meningkatkan nilai tambah pangan lokal dan menambah pendapatan. (2) Pemanfaatan lahan pekarangan rumah tangga miskin untuk ditanami komoditas bahan pangan maupun hortikultura, sehingga mampu memproduksi sendiri bahan pangan, menambah keberagaman konsumsi, dan mengurangi pengeluaran pangan. (3) Sosialisasi oleh Dinas Kesehatan tentang susunan bahan pangan yang beragam dan bergizi seimbang mengenai jenis bahan pangan yang perlu dikonsumsi, jenis dan fungsi zat gizi yang dikandung bahan pangan meliputi energi, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral bagi tubuh.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Fakultas Pertanian
    Depositing User: Prima Adi Pradana
    Date Deposited: 10 May 2014 19:17
    Last Modified: 10 May 2014 19:17
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/15996

    Actions (login required)

    View Item