RESPON MASYARAKAT PETANI HUTAN RAKYAT TERHADAP ADANYA SERTIFIKASI HUTAN DAN DAMPAK EKONOMI, SOSIAL DAN EKOLOGI DI DESA KALIMENDONG, KECAMATAN LEKSONO, KABUPATEN WONOSOBO

Listiyaningrum, Kartika (2013) RESPON MASYARAKAT PETANI HUTAN RAKYAT TERHADAP ADANYA SERTIFIKASI HUTAN DAN DAMPAK EKONOMI, SOSIAL DAN EKOLOGI DI DESA KALIMENDONG, KECAMATAN LEKSONO, KABUPATEN WONOSOBO. Other thesis, UNIVERSITAS SEBELAS MARET.

[img]
Preview
PDF
Download (597Kb) | Preview

    Abstract

    Kartika Listiyaningrum. 2013. RESPON MASYARAKAT PETANI HUTAN RAKYAT TERHADAP ADANYA SERTIFIKASI HUTAN DAN DAMPAK EKONOMI, SOSIAL DAN EKOLOGI DI DESA KALIMENDONG, KECAMATAN LEKSONO, KABUPATEN WONOSOBO. Skripsi. Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon masyarakat terhadap kebijakan dari pemerintah mengenai sertifikasi hutan dan harapan dari masyarakat terhadap sertifikasi tersebut di masa mendatang. Penelitian ini menggunakan teori fungsional struktural, tokoh yang membawa teori ini adalah Talcot Parsons. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori fungsional sturktural yang menitikberatkan pada tindakan sosial yang terjadi di suatu masyarakat dan lingkungan hidup. Parsons membaginya menjadi empat fungsional sistem “tindakan”, yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan pemeliharaan pola. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif adapun pendekatannya adalah menggunakan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi secara langsung dan wawancara mendalam. Untuk teknik pengambilan sampel yaitu dengan purposive sampling. Sedangkan untuk teknik analisis data, penelitian ini menggunakan analisis interaktif, serta untuk menguji validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masyarakat yang muncul merupakan bentuk tindakan sosial. Secara tidak langsung terjadi ketegangan antara kelompok tani/pengurus APHR Wonosobo dengan masyarakat desa hutan, yaitu kelompok tani meyakini ada manfaat bagi ekonomi, sosial serta ekologi hutan tetap lestari. Sedangkan masyarakat memiliki pemikiran lain, yaitu tanpa sertifikasi hasil hutan tetap bisa dijual, sertifikasi memiliki aturan dalam penanaman dan penebangan padahal masyarakat tidak ingin pekerjaan mereka terganggu dengan adanya sertifikasi. Awalnya masyarakat mengharapkan adanya manfaat dari sertifikasi berupa premium price. Tetapi sampai saat ini masyarakat masih belum merasakan adanya manfaat tersebut. Sehingga ada ketegangan yang muncul yaitu premium price belum bisa dirasakan masyarakat tetapi masyarakat harus mengikuti sertifikasi sesuai dengan keputusan yang diambil dari tokoh masyarakat. Serta dampak yang dirasakan dengan adanya sertifikasi dalam aspek ekonomi, sosial dan ekologi tidak begitu signifikan. Untuk aspek ekonomi dan sosial dipengaruhi dengan hasil penjualan tanaman bawah tegakan yaitu salak dan luas lahan milik. Sedangkan aspek ekologi masih kurang diperhatikan masyarakat karena masyarakat masih menganut sistem “tebang butuh”. Kata kunci: sertifikasi hutan, tindakan sosial, premium price Kartika Listiyaningrum. 2013. RESPONSE OF FOREST FARMERS FOR FOREST CERTIFICATION AND THE IMPACT OF ECONOMIC, SOCIAL AND ECOLOGICAL IN DESA KALIMENDONG, KECAMATAN LEKSONO, KABUPATEN WONOSOBO . Thesis. Sociology Department, Faculty of Politics and Social Sciences, University of Sebelas Maret. The aim of this study was to determine the public responses to the policies of the government regarding forest certification and the expectations of society for certification in the future. This study used a structural functional theory from Talcot Parsons. Structural functional theory that focuses on social action in the society and the environment. Parsons divided into four functional system of “action” are adaptation, goal maintenance, integration and latent pattern maintenance. This study used qualitative methods, as for the approach is to used case studies. The data was collected using observation and in-depth interviews. The data were collected by employing a purposive sampling technique. In this study, technical analysis uses the interactive models, and the data analysis is to verify the validity of the data using triangulation of sources. This study show that community response that appears is a social action. Indirectly between farmer groups/APHR Wonosobo with the villagers, farmer groups believe there are benefits for economic, social and ecological forest remain sustainable. The community has a different idea, that without certification of forest products can still be sold, certification has rules in planting and harvesting when people do not want their work disrupted by the certification. Initially the community expects the benefits of certification in the form of a premium price. But until now, people still do not feel any benefits. So there are tensions emerges which is premium price not yet perceived society but society must follow the certification in accordance with the decision taken from community leaders. As well as the perceived impact of certification in the aspect of economic, social and ecological not so significant. For the economic and social aspects influenced the results of the sale of the plants under the stands of salak and land area belongs to. Whereas the ecological aspects are still poorly cared for society because society still has a "slash need". Keywords: forest certification, social action, the premium price

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HM Sociology
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
    Depositing User: Satria Nur Fauzi
    Date Deposited: 08 May 2014 03:52
    Last Modified: 08 May 2014 03:52
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/15335

    Actions (login required)

    View Item