PEMBUATAN KITOSAN DARI KITIN CANGKANG BEKICOT SEBAGAI BAHAN PENGAWET IKAN

WIDURI , HASRI and DINASTUTI , RIA (2013) PEMBUATAN KITOSAN DARI KITIN CANGKANG BEKICOT SEBAGAI BAHAN PENGAWET IKAN. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (985Kb) | Preview

    Abstract

    Fish is a food that contains high Nutrients but Rapidly decay process, Because a low shelf life of fish here, formalin (formaldehyde) is Often used to extend the shelf life of fish. Formalin is toxic and Harmful to human health, so it is not feasible to use as a food preservative. Final task aims Looking conditions of the process of making chitosan snail shells, snail shells made of chitosan and chitosan products applying the results to preserve fish and measure the results of the physical properties of fish preservation. Snail shells have not been used so far to increase of the economic value, the shell can be used as raw material for making the chitosan. Chitosan can be found in the shells of snails from the preparation of chitin (Achatina fullica). Chitosan can be applied in various ways, such as a food preservative. Manufacture of chitosan from waste snail shells deproteinasi Carried by four phases. The first stage is Aimed at Eliminating the protein content in the second shell is snail. Demineralization phase that aims to Eliminate the mineral content in the snail shell depigmentation. Third stage is Aimed at enlightening the color white Becomes chitosan. third stage of the product Obtained in the form of chitin. The last stage is the process of making chitosan deacetylation, the removal of acetyl groups on chitin products. The process of deacetylation Carried out by varying the temperature at 70oC, 80oC, 90oC, 100oC and the concentration of NaOH with a variation of 50%, 60%, 70% and 80% to Obtain the product chitosan optimums can be seen from the degree of deacetylation of chitosan produced. With the optimum degree of deacetylation of chitosan, applied as a fish preservative. Chitosan is produced in the form of powder which was pure white crystals and odorless, with a degree of deacetylation of 84.54% at 100 o C warming and 50% NaOH concentration, has a water content of 0.2%, ash content of 17.36%, protein content of 7%, and a molecular weight of 0.936 kDa. Yield at trial amounted to 31.43%. Organoleptic results indicate that the use of chitosan to increase of the fish is preserved with 1.5% concentration and immersion time 15 min. Ikan merupakan bahan pangan yang mengandung zat gizi yang tinggi namun cepat mengalami proses pembusukan, karena umur simpan ikan yang rendah inilah, formalin (formaldehide) sering digunakan untuk memperpanjang umur simpan ikan.Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia, sehingga tidak layak digunakan sebagai bahan pengawet makanan.Tugas akhir ini bertujuan Mencari kondisi proses pembuatan kitosan dari cangkang bekicot, membuat kitosan dari cangkang bekicot dan mengaplikasikan produk kitosan hasil proses untuk mengawetkan ikan dan mengukur hasil pengawetan terhadap sifat fisik ikan. Cangkang bekicot belum banyak dimanfaatkan selama ini untuk meningkatkan nilai ekonominya, cangkang tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kitosan. Kitosan bisa ditemukan dalam cangkang bekicot dari hasil preparasi kitin (Achatina fullica). Kitosan dapat diaplikasikan dalam berbagai hal, misalnya sebagai pengawet makanan. Pembuatan kitosan dari limbah cangkang bekicot dilakukan dengan empat tahap. Tahap pertama adalah deproteinasi yang bertujuan menghilangkan kandungan protein pada cangkang bekicot. Tahap kedua adalah demineralisasi yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan mineral pada cangkang bekicot. Tahap ketiga adalah depigmentasi yang bertujuan mencerahkan warna kitosan menjadi lebih putih. Dari ketiga tahap ini diperoleh produk berupa kitin. Tahap terakhir pembuatan kitosan adalah proses deasetilasi, yaitu penghilangan gugus asetil pada produk kitin. Proses deasetilasi dilakukan dengan memvariasikan suhu pada 70oC, 80oC, 90oC, 100oC dan konsentrasi NaOH dengan variasi 50%, 60%, 70% dan 80% untuk memperoleh produk kitosan yang optimums yang dapat dilihat dari derajat deasetilasi kitosan yang dihasilkan. Kitosan dengan derajat deasetilasi optimum, diaplikasikan sebagai bahan pengawet ikan. Kitosan yang dihasilkan berupa serbuk Kristal yang berwarna putih kecoklatan dan tidak berbau, dengan derajat deasetilasi 84,54% pada pemanasan 100oC dan konsentrasi NaOH 50%, mempunyai kadar air 0,2%, kadar abu 17,36%, kadar protein 7%, dan berat molekul 0,936kDa. Rendemen pada percobaan adalah sebesar 31,43%. Hasil organoleptik menunjukkan bahwa penggunaan kitosan untuk menambah daya awet ikan adalah dengan konsentrasi 1,5% dan lama perendaman 15 menit.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > T Technology (General)
    Divisions: Fakultas Teknik > D3 - Teknik Kimia
    Depositing User: Prima Adi Pradana
    Date Deposited: 05 May 2014 21:11
    Last Modified: 05 May 2014 21:11
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/14951

    Actions (login required)

    View Item