(B. Pertanian) Pemanfaatan, Pengembangan, Eksplorasi, Inventarisasi, Penyandraan dan Pemuliaan Tanaman Ganyong (Canna Edulis Ker.) dalam Penyediaan Bahan Baku Bioetanol

Yuniastuti, Endang and Djoar, Djati Waluyo (2012) (B. Pertanian) Pemanfaatan, Pengembangan, Eksplorasi, Inventarisasi, Penyandraan dan Pemuliaan Tanaman Ganyong (Canna Edulis Ker.) dalam Penyediaan Bahan Baku Bioetanol. .

[img] Microsoft Word - Published Version
Download (40Kb)

    Abstract

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang cukup padat, sehingga kebutuhan energi juga cukup tinggi. Kebutuhan energi yang meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan persediaan energi semakin berkurang. Keadaan yang demikian mendorong manusia mencari sumber energi yang baru. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan tumbuhan, memiliki potensi yang besar dalam mencari energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, sudah saatnya mengembangkan sumber energi alternatif dengan memanfaatkan sumber daya alam dan tumbuhan yang ada sebagai energi alternatif yang berwawasan lingkungan. Pemerintah melalui peraturan yang dikeluarkan mendorong untuk mendapatkan sumber energi baru yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Inpres nomor 1 tahun 2006 menyatakan tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar alternatif dan Perpres nomor 5 tahun 2006 tentang energi nasional bahwa pemanfaatan biofuel tahun 2010 sebesar 1,7 juta kilo liter (kl), tahun 2015 sebesar 4,0 juta kl, tahun 2025 sebesar 22,0 juta kl. Apabila kita menengok negara-negara lain juga telah mempersiapkan pemakaian energi alternatif dengan penggunaan biofuel yang ramah linhkungan antara lain yaitu: bioetanol (pengganti premium), biodisel (pengganti solar) dan bio-oil (pengganti minyak bakar). Beberapa negara yang telah mencoba dan menggunakan energi alternatif antara lain: Amerika Serikat, Brasil, Cina dan India. Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan untuk menghasilkan 7,5 billion gallon biofuel pada tahun 2012 dan diharapkan mampu menjadi negara produsen dan konsumen biofuel terbesar kedua. Demikian juga dengan negara Jepang pada tahun 2010 berusahan menghasilkan Gasohol E10 (etanol 10%). Salah satu negara di Amerika Latin, Brasil mentargetkan pada tahun 2015 diharapkan telah melakukan penanaman tebu sampai 10 juta hektar. Dari penanaman tebu bertujuan untuk menghasilkan 18 miliar liter etanol per tahun. Cina telah mempersiapkan dengan membangun pabrik etanol dengan kapasitas 1,5 miliar liter per tahun. India yang merupakan negara berkembang dan kondisi iklimnya yang kering mempunyai program pengembangan tanaman jarak pagar untuk biodisel di areal yang disediakan seluas 30 juta hektar. Dibandingkan negara-negara yang tersebut di atas, Indonesia produksi etanol masih rendah baru mencapai 200 juta liter per tahun. Namun demikian Indonesia memiliki potensi yang cukup tinggi untuk mengembangkan energi alternatif. Untuk mewujudkan hal itu, perlu keseriusan bersama karena pencarian sumber energi baru dengan memanfaatkan sumber daya alam dan tumbuhan belum optimal. Serealia dan umbi-umbian banyak tumbuh di Indonesia. Produksi serealia terutama beras sebagai bahan pangan pokok dan umbi-umbian cukup tinggi. Begitu pula dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan serealia dan umbi-umbian sebagai sumber energi pun terus meningkat. Serealia dan umbi-umbian sering dihidangkan dalam bentuk segar, rebusan atau kukusan, hal ini tergantung dari selera. Usaha penganekaragaman pangan sangat penting artinya sebagai usaha untuk mengatasi masalah ketergantungan pada satu bahan pangan pokok saja. Misalnya dengan mengolah serealia dan umbi-umbian menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan tahan lama disimpan. Bentuk olahan tersebut berupa tepung, gaplek, tapai, keripik dan lainya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah khususnya dalam mengatasi masalah kebutuhan bahan pangan, terutama non-beras. Informasi dan publikasi mengenai tanaman ganyong masih terbatas karena masyarakat belum begitu melirik tanaman ini sebagai sumber karbohidrat penting di luar padi dan gandum. Dengan progtam pemerintah yang mencanangkan adanya diversifikasi pangan selain padi dan gandung dalam menunjang ketahanan pangan nasional. Ganyong memiliki kelebihan sebagai sumber karbohidrat dibandingkan jenis umbi lainnya karena adanya rasa manis pada umbio yangdihasilkannya. Tepung yang diekstrak dari umbi ganyong memilki tekstur yang halus sehingga cocok untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan bayi. Selain kandungan karbohidrat, juga mengandung gizi, vitamin dan mineral yang diperlukan oleh tubuh manusia. Dari setiap 100 gram ganyong mengandung gizi, misalkan karbohidratnya 22,6 gram, protein 1,0 gram, lemak 0,1 gram, vitamin B 0,1 gram, Vit C 10 gram, dan lainnya. Ganyong (Canna discolor L. Atau. C. Edulis Ker.) adalah sejenis tumbuhan penghasil umbi yang cukup populer namun kelestariannya semakin terancam karena tidak banyak orang yang menanam dan mengonsumsinya. Ganyong adalah tanaman yang cukup potensial sebagai sumber karbohidrat, maka sudah sepatutnya dikembangkan. Umbi ganyong mengandung pati. Hasilnya selain dapat digunakan untuk penganekaragaman menu makanan, juga mempunyai aspek yang penting sebagai bahan dasar industri. Pati gayong dibuat dari ganyong yang sudah tua, sehingga diperoleh pati yang halus, dengan rasa seperti tepung hunkwe. Pati ganyong dapat dimasak sebagai campuran dalam pembuatan makanan. Ganyong (Canna edulis Ker.) merupakan tanaman herba yang berasal dari Amerika Selatan. Rhizoma atau umbinya bila sudah dewasa dapat dimakan dengan mengolahnya terlebih dahulu, atau untuk diambil patinya. Saat panen umbi, sangat tergantung dari daerah tempat menanamnya. Di dataran rendah sudah bisa dipanen pada umur 6 - 8 bulan, sedang di daerah yang hujannya sepanjang tahun, waktu panennya lebih lama, yaitu pada umur 15 – 18 bulan. Dewasanya umbi biasanya ditandai dengan menguningnya batang dan daun tanaman. Strategi pemuliaan tanaman ganyong untuk meningkatkan produktivitas tanaman, saat ini lebih banyak diarahkan untuk produksi umbinya karena tepung ganyong diekstrak dari umbinya. Sedangkan, untuk melakukan pemuliaan dan perbanyakannya belum banyak dilakukan karena masih mengandalkan tradisi lama yaitu tanaman membentuk anakan (stolon). Jarang sekali orang melakukan budidaya dengan optimal, sehingga hasil yang diperoleh juga kurang atau jauh dari harapan. Selain dari umbi yang membentuk tunas anakan, ganyong juga dapat diperbanyak secara generatif yaitu dengan biji. Strategi pemuliaan lebih lanjut belum dilakukan secara optimal dan terpadu. Informasi genetik secara fenotipik dan genotipik masih terbatas, sehingga dalam pengembangannya masih jauh dari yang diharapkan. Apabila dilakukan pemuliaan yang lebih serius akan menghasilkan suatu jenis yang lebih unggul dan menarik yang dapat dibedakan tanaman ganyong yang potensi untuk bahan baku bio-ethanol dan ganyong yang digunkan untuk konsumsi. Dengan mengetahui informasi genetik baik secara fenotipik atau genotipik membuka wawasan dalam pemuliaan tanaman ganyong, sehingga akan dihasilkan jenis-jenis baru yang mempunyai sifat unggul dan menarik. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendapatkan informasi genetik secara lengkap dan akurat serta universal berdasarkan penyandraan morfologi, sitologi dan molekuler; (2) untuk meningkatkan produksi tepung ganyong melalui metode pemuliaan tanaman ganyong dengan meningkatkan jumlah umbi ganyong dan daya hasil untuk bahan baku bio-ethanol; (3) untuk mendapatkan metode ekstraksi tepung ganyong, (4) analisis bio-ethanol yang dihasilkan dari ganyong sebagai bahan baku energoi alternatif pengganti bensin.

    Item Type: Article
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Miranda Nur Q. A.
    Date Deposited: 03 May 2014 22:01
    Last Modified: 03 May 2014 22:01
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/14839

    Actions (login required)

    View Item