TRANSFORMASI MASYARAKAT HUTAN DI WILAYAH KPH NGAWI TAHUN 1966-1998

Putri, Nugrahaningdyah Martina Susilo (2013) TRANSFORMASI MASYARAKAT HUTAN DI WILAYAH KPH NGAWI TAHUN 1966-1998. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (634Kb) | Preview

    Abstract

    Nugrahaningdyah Martina Susilo Putri. C.0508039. 2013. Transforming Community Forests in Region KPH Ngawi Year 1966-1998. Script: Department of History of the Faculty of Literature and Fine Arts Sebelas March University. This study titled Transforming Community Forests in Region KPH Ngawi Year 1966-1998. This study aimed to determine: (1). Socio-economic transformation that occurred in the territory of Ngawi KPH. (2). Socio-cultural transformation of forest communities in the region Ngawi KPH. (3). Dynamics of changes in the farmers pesanggem Ngawi KPH. This study is historical, so the steps in this research include heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Data collection techniques used is the study of documents, literature, and interviews with several informants as a secondary source. The data collected is then selected, analyzed, and interpreted by using the approach of economics, sociology, and political science approach. The results showed that the development can not be separated from the processing of forest tidal cultural and economic conditions that directly affect the lives of forest communities. In 1970 to 1990 the state's role is very dominant in the forest processing, centralized system is the foundation on which the forest processing raises complex social problems. New Order centralized system more menekankannpada economic aspects stem from the decline of forest and forest potential elimination pesanggem communities in accessing forest. Other social issues that arise from the centralized system is poverty, marginalization of communities, internal and external conflicts in forest processing lead to the criminalization of the social, economic and cultural changes in forest communities. Orde Baru government power shifts toward reform as a momentum for the community forest to illegal logging and massive destruction. The threat of dissolution KPH make local government change its staff. The assumption that KPH welfare of society and can not cause damage forests initiative KPH make up the program in its staff. The new program established by the KPH named PHBM (Pengelola Hutan Bersama Masyarakat). PHBM program was considered successful by the local government as a result of the PHBM program showed a gradual improvement in the economy, as evidenced by the PHBM program established, LMDH, KPDH, JPKMDH change society for the better, in public health through a forest village JPKMDH, creative communities in get KPDH with economy, and knowledge of planting and caring for plants through LMDH. commit to user Nugrahaningdyah Martina Susilo Putri. C.0508039. 2013. Transformasi Masyarakat Hutan Di Wilayah KPH Ngawi Tahun 1966-1998. Skripsi: Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini berjudul Transformasi Masyarakat Hutan Di Wilayah KPH Ngawi Tahun 1966-1998. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1). Transformasi sosial ekonomi yang terjadi pada masyarakat hutan di wilayah KPH Ngawi. (2). Transformasi sosial budaya masyarakat hutan di wilayah KPH Ngawi. (3). Dinamika perubahan petani pesanggem di wilayah KPH Ngawi. Penelitian ini merupakan penelitian historis, sehingga langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen, studi pustaka, dan wawancara dengan beberapa informan sebagai sumber sekunder. Data-data yang terkumpul kemudian diseleksi, dianalisa, dan diinterpretasikan dengan menggunakan pendekatan ekonomi, sosiologi, dan pendekatan ilmu politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pengolahan hutan tidak terlepas dari pasang surut kondisi budaya dan perekonomian yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat hutan. Pada tahun 1970 hingga tahun 1990 peran negara sangat dominan dalam pengolahan hutan, sistem sentralistik yang menjadi dasar tumpuan pengolahan hutan menimbulkan permasalahan sosial yang kompleks. Sistem sentralistik masa Orde Baru lebih menekankan pada aspek ekonomi yang bersumber pada hutan yang menyebabkan menurunnya potensi hutan dan tersisihnya masyarakat pesanggem dalam mengakses hutan. Permasalahan sosial lain yang timbul dari sistem sentralistik adalah kemiskinan, marginalisasi masyarakat, konflik eksternal maupun internal dalam pengolahan hutan hingga kriminalisasi yang mengakibatkan perubahan sosial ekonomi dan budaya masyarakat hutan. Peralihan kekuasaan pemerintah Orde Baru menuju Reformasi dijadikan momentum bagi masyarakat hutan untuk melakukan penebangan liar dan perusakan besar-besaran. Ancaman pembubaran KPH oleh pemerintah daerah menjadikan KPH mengubah kepengurusannya. Asumsi bahwa KPH tidak dapat mensejahteerakan masyarakat dan menyebabkan kerusakaan hutan menjadikan KPH berinisiatif membentuk program dalam kepengurusannya. Program baru yang dibentuk oleh KPH bernama PHBM (Pengelola Hutan Bersama Masyarakat). Program PHBM dinilai berhasil oleh Pemerintah Daerah karena hasil dari program PHBM menunjukkan perbaikan perekonomian secara bertahap pada masyarakat, terbukti dari program yang dibentuk PHBM yaitu, LMDH, KPDH, JPKMDH mengubah masyarakat menjadi lebih baik, dalam kesehatan masyarakat desa hutan melalui JPKMDH, kreatifitas masyarakat dalam mendapatkan perekonomian melaiu KPDH, dan pengetahuan becocok tanam serta merawat tanaman melalui LMDH.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: D History General and Old World > D History (General) > D051 Ancient History
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Ilmu Sejarah
    Depositing User: Nur Anisah
    Date Deposited: 29 Apr 2014 06:32
    Last Modified: 29 Apr 2014 06:32
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/13927

    Actions (login required)

    View Item