Pemanfaatan Limah Pati Aren dan Zeolit Lokal sebagai Varian Biosorben Kolom Kontinyu untuk Menanggulangi Limbah Industri Tekstil dan Pelapisan Logam

Ashadi, and Martini, Kus Sri and M. Masykuri, (2012) Pemanfaatan Limah Pati Aren dan Zeolit Lokal sebagai Varian Biosorben Kolom Kontinyu untuk Menanggulangi Limbah Industri Tekstil dan Pelapisan Logam. .

[img] Microsoft Word - Published Version
Download (28Kb)

    Abstract

    Industri tekstil dan pelapisan logam memberikan dampak penurunan kualitas air yang sangat signifikan di daerah Surakarta. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan alternatif penanggulangan limbah cair yang efektif dan efisien. Penelitian ini mengembangkan biosorben kolom kontinyu dengan memanfaatkan limbah pati aren dan zeolit lokal untuk menanggulangi kedua jenis limbah tersebut. Penelitian difokuskan pada kajian isoterm adsorpsi adsorben, pengaruh aktivator, komposisi kolom, dan derajat keasaman, terhadap unjuk kinerja biosorben kolom kontinyu. Kolom kontinyu yang dikembangkan memiliki sisi positif antara lain tidak beracun, tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (lower toxicity, less environmental impact), ketersediaan bahan baku yang melimpah (abundance of raw material), serta prospek pengembangan ke arah komersial yang sangat terbuka (commercially feasible). Fokus riset tahun pertama meliputi pengembangan biosorben kolom kontinyu, pengaruh aktivator, komposisi kolom, dan derajat keasaman. Pada tahap ini dilakukan karakterisasi morfologi permukaan limbah pati aren dan zeolit lokal sebelum dan sesudah aktivasi dengan SEM, XRD dan Spektrofotometer IR, sedangkan serapan polutan oleh biosorben secara kuantitatif ditentukan melalui isoterm adsorpsi dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Limbah Pati aren diambil dari Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, sedangkan Zeolit Lokal diambil dari daerah Bayat Klaten. Hasil penelitian menunjukkan citra SEM memperlihatkan bahwa zeolit dan limbah aren memiliki struktur muka yang berongga (porous) dan berlapis-lapis dengan ukuran variatif sehingga memiliki luas permukaan dan kapasitas serap (adsorption capability) sangat besar. Proses aktivasi baik dengan H2SO4 maupun NaOH mengakibatkan jumlah dan ukuran pori bertambah besar, namun penggunaan aktivator H2SO4 lebih baik, karena lebih mampu memperbesar jumlah dan ukuran pori dibanding NaOH. Pengamatan dengan FTIR menunjukkan Zeolit sebelum dan sesudah aktivasi dengan H2SO4 dan NaOH memiliki pita serapan yang identik. Limbah aren memiliki struktur utama selulosa (kadar C sekitar 65,11%) , Zeolit lokal memiliki kandungan SiO2 (80,78%) dan Al2O3 (11,97%). Lama waktu aktivasi baik dengan NaOH maupun H2SO4, aktivasi 1 jam lebih baik daripada 2 jam, hal ini ditunjukkan oleh kadar besi(Fe) maupun Krom (Cr) yang terabsorbsi.

    Item Type: Article
    Subjects: T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Depositing User: Lynda Rahmawati
    Date Deposited: 28 Apr 2014 18:07
    Last Modified: 28 Apr 2014 18:07
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/13873

    Actions (login required)

    View Item