ANALISIS WACANA KRITIS PADA IKLAN DEMOGRAFIS DI TELEVISI

Ni'mah, Sofwatin (2014) ANALISIS WACANA KRITIS PADA IKLAN DEMOGRAFIS DI TELEVISI. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (675Kb) | Preview

    Abstract

    Sofwatin Ni‟mah. C0206049. 2013. Analisis Wacana Kritis pada Iklan Demografis di Televisi. Skripsi: Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) Bagaimana realitas (substansi, musik dan gambar, paralanguage, situasi, koteks, interteks, partisipan, dan fungsi) wacana iklan demografis di televisi? (2) Bagaimana penggambaran realitas (denotasi, konotasi, metafora, dan paralelisme) wacana iklan demografis di televisi? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan realitas (substansi, musik dan gambar, paralanguage, situasi, koteks, interteks, partisipan, dan fungsi) wacana iklan demografis di televisi (2) Mendeskripsikan penggambaran realitas (denotasi, konotasi, metafora, dan paralelisme) wacana iklan demografis di televisi. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis wacana. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan wacana iklan di televisi yang ditujukan untuk balita, anak-anak, laki-laki, perempuan, untuk laki-laki dan perempuan, dan keluarga. Sampel dalam penelitian ini berupa wacana yang terdapat dalam sebagian iklan di televisi yang ditujukan untuk balita, anak-anak, laki-laki, perempuan, laki-laki dan perempuan, dan keluarga. Sumber data dalam penelitian ini adalah wacana iklan demografis yang terdapat di televisi, khususnya yang ditayangkan di Antv, Trans 7, Indosiar, SCTV, RCTI, dan Trans TV. Data dalam penelitian ini adalah wacana pada iklan Cussons Baby, Hufagripp, Surya 16 versi Visi Awal Keberhasilan, Kotex Pas, Kartu As, dan Nuvo Family, yang mengandung denotasi, konotasi, metafora, dan paralelisme. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan metode simak, yang diwujudkan lewat teknik rekam dan catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis wacana dengan kerangka kerja pada teori wacana kritis Guy Cook. Teknik penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini adalah penyajian secara formal dan informal. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa (1) Realitas wacana iklan demografis di televisi meliputi substansi, musik dan gambar, paralanguage, situasi, koteks, interteks, partisipan, dan fungsi. Dengan adanya substansi (suara model iklan dan narator, layar, karton, plastik (kemasan), stiker, papan, banner, dan sabun), diketahui materi fisik yang digunakan untuk menyampaikan bahasa iklan. Dengan adanya musik dan gambar, diketahui hubungan antara bahasa iklan dengan musik dan visualisasi gambarnya. Dengan adanya paralanguage, diketahui bahasa iklan yang ditonjolkan dan yang tidak. Dengan adanya situasi, diketahui di mana dan kapan iklan itu ditayangkan. Dengan adanya koteks, diketahui hubungan antara teks satu dengan teks yang lain. Dengan adanya interteks, diketahui hubungan antara peristiwa di dalam iklan yang satu dengan peristiwa di dalam iklan yang lain dan antara peristiwa di dalam iklan dengan peristiwa di luar iklan. Dengan adanya partisipan, diketahui siapa orang yang menyampaikan pesan (sender dan addresser) dan siapa orang yang menerima pesan (receiver dan addressee). Dengan adanya fungsi, diketahui untuk apa bahasa iklan itu dimaksudkan oleh sender dan addresser, atau untuk apa teks itu diperhatikan oleh receiver dan addressee. Penelitian mengenai kedelapan konteks tersebut berfungsi untuk mendekatkan bahasa iklan kepada calon konsumen, sehingga nantinya mereka tidak akan mudah terbujuk oleh bahasa iklan dan dapat lebih selektif dalam memilih produk yang dibutuhkan (2) Realitas wacana iklan demografis di televisi digambarkan dengan adanya denotasi, konotasi, metafora, dan paralelisme. Di antara denotasi, konotasi, dan metafora, denotasi merupakan realitas paling dominan yang digunakan untuk menggambarkan wacana iklan demografis di televisi. Pada iklan Cussons Baby, denotasi paling dominan karena target produknya adalah para balita dan target iklannya adalah para ibu, sehingga digunakan bahasa yang mudah dipahami. Begitu juga pada iklan Hufagripp, yang target produknya adalah anak usia 2-12 tahun dan target iklannya adalah para ibu. Pada iklan Surya 16, denotasi dan konotasi seimbang karena iklan rokok dibatasi oleh UU, sehingga tidak boleh menggunakan bahasa yang transparan. Pada iklan Kotex Pas, Kartu As, dan Nuvo Family, denotasi juga paling dominan digunakan untuk menggambarkan realitas iklan. Hal itu dimaksudkan supaya bahasa iklan mudah dipahami oleh calon konsumen. Metafora hanya dapat ditemui pada iklan Cussons Baby, Hufagripp, dan Kotex Pas. Sementara itu, paralelisme pada keenam iklan yang diteliti meliputi paralelisme grafologi (tulisan), fonologi, leksikal, semantik, gramatikal, dan wacana. Paralelisme grafologi dan fonologi terdapat pada iklan Cussons Baby. Paralelisme leksikal dan semantik terdapat pada iklan Cussons Baby, Hufagripp, dan Kotex Pas. Paralelisme gramatikal terdapat pada iklan Cussons Baby, Hufagripp, Surya 16, Kotex Pas, dan Kartu As.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Mohammad Fatchurrohman
    Date Deposited: 26 Apr 2014 20:27
    Last Modified: 26 Apr 2014 20:27
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/13720

    Actions (login required)

    View Item