Ajaran Tasawuf dalam Singir Tanpa Waton (STW); Kajian Aspek Objektif dan Genetif

Sumarlam, and Widodo, Wahyu (2012) Ajaran Tasawuf dalam Singir Tanpa Waton (STW); Kajian Aspek Objektif dan Genetif. .

[img] Rich Text (RTF) - Published Version
Download (40Kb)

    Abstract

    Penelitian ini mengkajidalami Singir Tanpa Waton (STW) dengan menggunakan ancangan penelitian kritik holistik. Yang mendeskripsikan dan menjelaskan STW dari aspek kebahasaan (objektif), kesejarahan (genetif) dan perspektif masyarakat (afektif). Pada tahun pertama ini memerikan dua aspek yaitu objektif dan genetif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa secara umum aspek kebahasan STW (objektif) dengan menggunakan bahasa yang lugas dan menggunakan leksikon ngoko alus. Secara spesifik adanya penggunaan repetisi semantik yang dominan dengan formasi kata dengan kata, kata dengan frasa, dan frasa dengan frasa. Selain itu, penggunaan kata serapan bahasa Arab dan bahasa Kawi. Penyadingan kosakata Arab dan Jawa dalam satu baris mempunyai peran semantis eksplanatif yaitu penjelasan kosakata Arab agar mudah dipahami dan dihayati oleh penyimak STW yang mayoritas berbahasa Jawa, sedangkan penggunaan kosakata kawi mempunyai fungsi mendekatkan (intimacy) yaitu usaha mendekatkan isi kandungannya agar terpahami oleh penghayat kebatinan. Karena buku pedoman mereka menggunakan bahasa Kawi, sehingga mereka lebih mendalami Islam secara komprehensif tanpa merasa asing. STW didayagunakan sebagai media dakwah untuk mensyiarkan Islam tasawuf yang komprehensif meliputi penahapan syariat, tarekat, makrifat dan hakikat. Aspek genetif STW merefleksikan dunia penciptanya dan lingkunganya (zeitgest) yaitu K.H. Muhammad Nizam As-Shofa (Gus Nizam) dan kaitanya dengan aktivitasnya. Ada dua hal yang secara signifikan terefleksikan dalam STW: pertama tarekat Naqsyabandiyah Mujaddadiyah al-Khalidiyah (tarekat khalidiyah) dengan kitab utamanya Jami’ul Ushul fil Auliya’ sebagai sumber rujukan utama. Kedua pondok pesantren Ahlus shofa wal wafa, sebagai pesantren yang berbasis pendidikan tasawuf. STW mempunyai kaitan erat dengan institusi ini sebagai wadah institusional yaitu usaha untuk melembagakan ajaran tasawuf. Dalam kaitannya dengan STW, ia sebagai media kultural untuk mensyiarkan ajaran tasawuf. Ajaran tasawuf yang terkandung dalam STW yaitu ikhtiar untuk memahami Islam secara komprehensif yang meliputi penahapan syariat, tarekat, makrifat, dan hakikat. Di dalamnya ada dua fokus kesadaran: kesadaran diri dan kesadaran sosial. Kesadaran diri terdiri atas empat anasir (1) kebersihan hati dan pikiran, (2) zuhud terhadap dunia, (3) kesabaran dan keikhlasan, dan (4) keridhoan dalam menerima takdir Allah. Keempat anasir tersebut sebagai cikal bakal pembentukan pribadi yang berbudi pekerti yang tumbuh dari kesalehan diri. Kontribusi STW dalam pembentukan pekerti masyarakat berakar dari kesalehan diri yang bertransformasi dan terefleksi dalam tata nilai di lingkungan masyarakat (kesalehan sosial) yang tecermin melalui sikap sosial (1) toleransi antarsesama, (2) rukun terhadap sesama, (3) larangan iri hati terhadap kekayaan tetangga, dan (4) memuliakan sesama.Terwujudnya kesalehan diri dan kesalehan sosial sebagai tanda pribadi yang tuntas dan paripurna (Insan Kamil). Hal ini selaras dengan tujuan dibuatnya STW yaitu nglahiraken jiwa Muhammad lan mujudaken pakartining Gusti ‘melahirkan Jiwa Muhammad dan membentuk budi pekerti Illahi’.

    Item Type: Article
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Miftahful Purnanda
    Date Deposited: 26 Apr 2014 18:08
    Last Modified: 26 Apr 2014 18:08
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/13520

    Actions (login required)

    View Item