STUDI POLA PERGERAKAN PERABOT DALAM RUANG GUNA PERENCANAAN JALUR PENYELAMATAN TERHADAP BENCANA GEMPA

Sumadyo, Amin and Setyawan, Hadi and Yuliarso, Hari (2010) STUDI POLA PERGERAKAN PERABOT DALAM RUANG GUNA PERENCANAAN JALUR PENYELAMATAN TERHADAP BENCANA GEMPA. H STRANAS DIPA. pp. 1-9.

[img] Microsoft Word (jalur sirkulasi, penataan perabot) - Published Version
Download (4Mb)

    Abstract

    Pada saat terjadi gempa bumi sebagian orang berpikiran bagaimana dia dapat berlindung dari reruntuhan bangunan, baik berupa reruntuhan dinding maupun genteng dari atas bangunan. Cara ini bisa dilakukan dengan melindungi diri dengan menempatkan diri dibawah meja atau benda-benda lain yang kuat yang sekiranya dapat melindungi kita dari reruntuhan. Adapun cara kedua yaitu dengan keluar bangunan secepat mungkin dari bangunan untuk menghindari reruntuhan. Sebenarnya kedua cara ini mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Pada cara pertama diatas mungkin penghuni rumah berpikir bahwa rumahnya cukup kuat untuk menahan getaran gempa. Tetapi jika kita berpikir secara realistis apakah mungkin rumah tersebut bisa bertahan menahan goncangan jika gempa berlangsung dalam rentang waktu hingga 5 menit atau lebih. Jika getaran gempa tidak cukup kuat (3-5 SR) kemungkinan rumah bisa bertahan hingga waktu tersebut. Jika gempa yang terjadi terasa kuat (6-8 SR) apakah anda mau bertahan di dalam bangunan dengan berlindung? Pada cara kedua mungkin terasa lebih realistis, yaitu dengan langsung berlari keluar rumah jika terjadi gempa. Bagi kebanyakan orang yang wilayahnya sering mengalami gempa bumi, cara ini secara reflek sering ditempuh dibanding dengan berlindung di dalam bangunan sambil menunggu gempa pertama selesai. Kendala yang dihadapi pada saat keluar dari bangunan, adalah terhalangnya akses keluar akibat pergerakan perabot rumah Berikut adalah hal-hal yang mungkin terjadi dalam bangunan ketika gempa : 1. situasi furniture dalam rumah mengalami pergerakan yang tidak dapat ditebak (kemungkinan besar bergeser dari tempat awalnya) 2. benda-benda yang tergantung di dinding rumah berjatuhan. 3. perabotan tinggi berjatuhan atau mengalami pergerakan. 4. kemungkinan listrik padam jika terjadi gempa bumi. Berdasarkan simulasi kejadian saat gempa, dapat disusun konsep perencanaan interior tanggap gempa, artinya ketika gempa terjadi sisa waktu kritis sebelum keruntuhan dapat dimaksimalkan sebagai jalur aman penyelamatan diri. Konsep praktis ini dapat dijadikan panduan penataan interior bangunan antara lain dengan merencanakan jalur penyelamatan sesingkat mungkin keluar, meminimalisir perabot yang jatuh dan menghalangi pergerakan, memberikan ikatan perabot tinggi agar tidak bergeser dan terguling, serta merencanakan pintu darurat.

    Item Type: Article
    Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
    T Technology > TH Building construction
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Lia Primadani
    Date Deposited: 26 Apr 2014 17:29
    Last Modified: 26 Apr 2014 17:29
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/13423

    Actions (login required)

    View Item