PENINGKATAN POTENSI PADI BERAS MERAH WILAYAH SURAKARTA DI LAHAN KERING MELALUI KAJIAN MORFOLOGI

Budiastuti, Mth Sri and Pardono, and Sulistyo, Trijono Djoko (2012) PENINGKATAN POTENSI PADI BERAS MERAH WILAYAH SURAKARTA DI LAHAN KERING MELALUI KAJIAN MORFOLOGI. .

[img] Rich Text (RTF) - Published Version
Download (37Kb)

    Abstract

    Kata kunci: Padi Beras Merah, Lahan Kering, Morfologi Saat ini beras merah telah menjadi produk andalan dan dikonsumsi banyak orang seiring dengan kesadaran masyarakat yang tinggi akan kesehatan. Nilai gizi dan serat yang cukup tinggi dipandang sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan vitamin dan antioksidan dalam tubuh. Karena itu, ketersediaan beras merah secara kontinyu sangatlah diharapkan, terlebih ketersediaan di setiap wilayah seperti di Surakarta yang sampai saat ini belum banyak diketahui. Inventarisasi yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa beras merah di wilayah Surakarta hanya terdapat di tiga kabupaten yaitu Boyolali (kultivar Merah Wulung), Sragen (kultivar Cempo) dan Wonogiri (kultivar Slegreng) yang sebagian besar dibudidayakan secara tergenang seperti budidaya padi pada umumnya. Keterbatasan air khususnya pada musim kemarau menjadi kendala utama usaha budidaya padi secara tergenang dan hal inilah yang mendasari peneliti melakukan optimalisasi pemanfaatan lahan kering untuk budidaya padi beras merah melalui paket teknologi pemupukan. Sebagai langkah awal diperlukan informasi morfologi padi beras merah di lahan kering sebagai upaya menginventarisasi plasma nutfah dan kemudian dikembangkan dengan teknologi budidaya organik guna peningkatan hasil dan perluasan area penanaman. Hasil penelitian tahun pertama menunjukkan bahwa terdapat perbedaan morfologi dari ketiga kultivar padi beras merah dan ketiganya terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu pertama, kelompok Wonogiri (kultivar Slegreng) dan kedua, kelompok Boyolali (kultivar Merah Wulung) dan Sragen (kultivar Cempo) dengan tingkat kemiripan relatif rendah (65%). Pengelompokan ditentukan berdasarkan perbedaan utama pada tinggi tanaman, jumlah anakan per tanaman, dan warna biji. Kelompok pertama yaitu Wonogiri (Slegreng) menunjukkan kenampakan yang rendah dan jumlah anakan yang lebih rendah daripada kelompok kedua yaitu Merah Wulung dan Cempo. Namun demikian kedua kelompok ini mampu menghasilkan jumlah malai yang hampir sama. Khusus kultivar Slegreng dan kultivar Merah Wulung memiliki tingkat kemiripan yang dekat (75%) dan ditunjukkan dari tinggi tanaman, jumlah anakan dan jumlah malai yang relatif sama. Sedangkan tingkat kemiripan kultivar Slegreng dan kultivar Cempo relatif rendah yaitu kurang dari 70% dan ditentukan oleh pembeda utama berupa jumlah malai per tanaman.

    Item Type: Article
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Miftahful Purnanda
    Date Deposited: 26 Apr 2014 17:12
    Last Modified: 26 Apr 2014 17:12
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/13380

    Actions (login required)

    View Item