PERBANDINGAN ANGKA KEJADIAN POST OPERATIVE NAUSEA VOMITUS (PONV) ANTARA PENGGUNAAN ANESTESI INHALASI HALOTAN DAN SEVOFLURAN

WICAKSONO, NUR JIWO (2013) PERBANDINGAN ANGKA KEJADIAN POST OPERATIVE NAUSEA VOMITUS (PONV) ANTARA PENGGUNAAN ANESTESI INHALASI HALOTAN DAN SEVOFLURAN. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (256Kb) | Preview

    Abstract

    Latar Belakang : Anestesi inhalasi telah berkembang begitu pesat sampai saat ini. Kemampuannya untuk menjadi agen anestesi yang aman, efektif, ekonomis dan waktu pemulihan yang cepat membuat salah satu metode anestesi tertua ini tetap bertahan di tengah pesatnya perkembangan ilmu anestesi, tetapi sebagaimana metode anestesi lainnya, anestesi inhalasi ini tetap memiliki beberapa efek samping, salah satunya adalah Post Operative Nausea and Vomitus (PONV). Halotan dan Sevofluran merupakan dua agen anestesi inhalasi yang cukup banyak digunakan. Banyak penelitian telah dilakukan untuk meneliti efektivitas maupun efek samping dari kedua agen anestesi tersebut, namun sampai saat ini masih banyak kontroversi mengenai potensi kedua obat di atas dalam memicu PONV. Kontroversi yang timbul ini mendesak perlunya penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan kejadian nausea vomitus antara penggunaan Halotan dan Sevofluran sebagai anestesi inhalasi. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani pembedahan dengan anestesi umum (general anesthesi) di IBS (Instalasi Bedah Sentral) RSUD dr Moewardi Surakarta. Penelitian dengan purposive sampling ini menggunakan 48 sampel yang terdiri dari 24 orang yang mendapat Halotan, dan 24 orang yang mendapat Sevofluran. Data nausea dan vomitus dianalisis menggunakan uji analisis Chi Square. Hasil : Hasil penelitian didapatkan tidak ada perbedaan yang signifikan kejadian nausea antara kelompok sevofluran dan halotan pada menit ke 30 (p = 0,441) dan menit ke 60 (p = 0,155) pasca operasi. Tidak ada kejadian vomitus pada kedua kelompok, baik pada menit ke-30 pertama maupun menit ke-30 kedua, maka perbedaan kejadian vomitus tidak dapat dianalisis Simpulan : Tidak didapatkan perbedaan bermakna kejadian nausea antara sevofluran dan halotan sebagai anestesi inhalasi. Hal ini berarti kejadian nausea halotan tidak lebih besar dari sevofluran sehingga halotan tetap dapat digunakan sebagai anestesi inhalasi.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran
    Depositing User: Vera Suryaningsih
    Date Deposited: 25 Apr 2014 13:18
    Last Modified: 25 Apr 2014 13:18
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/13112

    Actions (login required)

    View Item