PEMANFAATAN VARIETAS INTRODUKSI DALAM PENGEMBANGAN LENGKENG DATARAN RENDAH (Dimocarpus longan Lour) MELALUI METODA KULTUR JARINGAN

Retno B, Arniputri and Endang S, Muliawati and W, Muji (2010) PEMANFAATAN VARIETAS INTRODUKSI DALAM PENGEMBANGAN LENGKENG DATARAN RENDAH (Dimocarpus longan Lour) MELALUI METODA KULTUR JARINGAN. HBL DIPA BLU APBN UNS. p. 1.

Full text not available from this repository.

Abstract

Lengkeng dalam negeri perlu dikembangkan untuk mengganti besarnya pangsa pasar lengkeng impor yang membanjiri Indonesia. Melihat besarnya potensi pengembangan lengkeng daerah-daerah dataran rendah yang luas maka perlu segera dilakukan upaya percepatan dalam penyediaan bibit lengkeng dataran rendah, melalui penggunaan varietas introduksi di Indonesia dengan teknik kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan tunas pucuk lengkeng melalui multiplikasi tunas sebagai bahan batang atas dalam penyambungan dengan penggunaan berbagai jenis ZPT. Penelitian dilaksanakan di Lab Kultur Jaringan Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian UNS, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktor ZPT, BAP (0, 0.5, 1,2,3 ppm) dan IBA(0, 0.5, 1,2,3 ppm), dengan media dasar WPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan eksplan satu buku cukup lambat, semua perlakuan membentuk kalus, dan penggunaan BAP 0.5 tanpa IBA menghasilkan tunas yang paling baik, tetapi pertumbuhan akhir sampai 6 bulan pengamatan menunjukan bahwa penambahan 2 ppm IBA dengan BAP 0.5 ppm menghasilkan pertumbuhan tunas yang lebih baik. The Longan in Indonesia need to be develope for replacing the big marked domestic section on longan which is filled up by Import, and the introduction of varieties on Longan from others could be use, and the supplying of seed need by means of tissue culture. The aim of this research is to get shoot of longan by tissue culture multiplication with the use of growth regulators. The research was carryied out at Tissue Culture Laboratoty of Departement of Agronomy UNS by CRD with 2 factors: BAP (0, 0.5, 1, 2, 3 ppm) ang IBA (0, 0.5, 1, 2, 3 ppm) on WPM media. The result showed that the growth of explant was slowly, all treatment formed callus and media with BAP 0.5 ppm without IBA formed shoots, but in the end of growth till 6 mounth showed that the addition of 2 ppm IBA and 0.5 ppm BAP formed the best shoot growth.

Item Type: Article
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
S Agriculture > SB Plant culture
Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
Depositing User: Lia Primadani
Date Deposited: 22 Apr 2014 18:54
Last Modified: 22 Apr 2014 18:54
URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/12843

Actions (login required)

View Item