MISKONSEPSI IPA (FISIKA) PADA GURU SD

Pujayanto, (2013) MISKONSEPSI IPA (FISIKA) PADA GURU SD. , 1 (1). pp. 22-28. ISSN

[img] PDF - Published Version
Download (54Kb)

    Abstract

    Penelitian ini dilakukan penelitian untuk: 1). Mengetahui ada tidaknya miskonsepsi IPA (Fisika) guru Kelas 5 SD di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar; 2). Mendiskripsikan profil miskonsepsi IPA (Fisika) pada guru Kelas 5 SD di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini dilakukan di SD yang berada di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar tahun ajaran 2006/2007, dengan menerapkan metode penelitian expose facto. Sumber data yang digunakan merupakan sumber data primer, karena penelitian memperoleh data langsung dari subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru Kelas 5 Sekolah Dasar di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar. Sampel diambil secara acak dari guru-guru kelas 5 SD di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar.Sampel terdiri dari 20 orang guru. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah tes. Instrumen tes yang digunaka berupa tes diagnostik miskonsepsi pada pokok bahasan Gaya dan Cahaya. Untuk menjawab hipotesis penelitian digunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif, yaitu berupa analisis kualitatif tentang ada tidaknya miskonsepsi. Dari hasil analisis data ternyata terbukti bahwa guru mengalami miskonsepsi IPA (Fisika) pada pokok bahasan Gaya dan Cahaya. Adapun profil miskonsepsi yang dimiliki guru (lebih dari 30%) dan besar persentase miskonsepsinya sebagai berikut adalah sebagai berikut: 1). gaya dapat berupa tarikan atau dorongan, gaya magnet selalu berupa tarikan (45%); 2). gaya gravitasi dapat berupa dorongan maupun tarikan (40 %); 3). massa benda di bumi sama dengan massa benda di bulan, berat benda di bumi sama dengan berat benda di bulan (60%); 4). setiap dua benda bersentuhan muncul gaya gesekan (60%); 5). pesawat sederhana meringankan kerja manusia, berarti pada umumnya dengan menggunakan pesawat sederhana gaya (kuasa) dan energi yang digunakan menjadi lebih kecil (100 %); 6). cahaya merambat lurus, berarti cahaya tidak dapat dipantulkan oleh permukaan tembok tetapi dapat dibiaskan oleh sebuah medium (85%); 7). benda dapat dilihat jika benda tersebut sebagai sumber cahaya atau ada cahaya dari mata yang sampai ke benda (50%); 8). cahaya lampu neon dapat diurai menjadi cahaya warna pelangi, karena cahaya lampu neon adalah cahaya putih seperti cahaya putih matahari (55%).

    Item Type: Article
    Subjects: Q Science > QC Physics
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Fisika
    Depositing User: Users 834 not found.
    Date Deposited: 25 Jul 2013 16:25
    Last Modified: 25 Jul 2013 16:25
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/1268

    Actions (login required)

    View Item