Pengentasan Kemiskinan Melalui Pendekatan Pembangunan Sistem Nafkah Berkelanjutan (Sustainable Livelihoods Approach-SLA) (Kasus Petani Tembakau di Lereng Gunung Merapi-Merbabu, Propinsi Jawa Tengah)

Widiyanto, and Suwarto, and Setyowati , Retno (2014) Pengentasan Kemiskinan Melalui Pendekatan Pembangunan Sistem Nafkah Berkelanjutan (Sustainable Livelihoods Approach-SLA) (Kasus Petani Tembakau di Lereng Gunung Merapi-Merbabu, Propinsi Jawa Tengah). .

[img] Microsoft Word (kemiskinan, petani tembakau, pemberdayaan, SLA, kelembagaan) - Published Version
Download (27Kb)

    Abstract

    Pengentasan kemiskinan harus berbasis pada semua aspek kehidupan orang miskin (sosio-culture-ekonomi-ekologi)-bersifat holistic-. Petani miskin memiliki berbagai mekanisme dan sistem penghidupan yang berpijak pada pentagon asset (human capital, natural capital, physical capital, financial capital, dan social capital). Aset-aset tersebut direproduksi (diperbaharui) secara terus-menerus dalam rangka membangun sistem nafkah yang berkelanjutan. Asset nafkah juga diperbaharui oleh sistem kelembagaan (local-national-international institutution) yang membantu petani dalam mentransformasikan asset rumahtangga petani sehingga memunculkan kemudahan dalam membangun asset-asset penting. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menganalisis system kelembagaan yang ada di komunitas petani tembakau (2) menganalisis strategi nafkah dan dampak yang menyertainya, (3) menyusun strategi pemberdayaan. Pendekatan yang digunakan adalah sustainable livelihood approach (SLA). Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) petani menghadapi situasi kerentanan (vurnerability context), antara lain: fluktuasi harga; perubahan cuaca dan musim; kecenderungan luas kepemilikan dan penguasaan lahan yang sempit; dan degradasi lingkungan. Berbagai situasi kerentanan tersebut akan berpengaruh terhadap mekanisme rumahtangga petani dalam “memainkan” berbagai asset yang dimiliki (modal alami, modal sumberdaya manusia, modal fisik, modal finansial, dan modal sosial). Pada petani lahan luas lebih mengunakan strategi akumulasi sedangkan pada petani lahan sedang dan sempit menerapkan strategi konsolidasi (pada situasi normal) dan bertahan hidup (pada situasi krisis). (2) peran kelembagaan menjadi sangat urgen dalam rangka mentransformasi asset rumahtangga dalam membentuk dan mentransformasi asset. Oleh karena itu, maka: (1) untuk memberdayakan petani perlu menggunakan pendekatan yang holistik dengan memperhatikan berbagai aspek, yaitu: bagaimana tingkat kerentanan (vurnerability context), kepemilikan asset (livelihood asset); Kelembagaan (institution and organization) dan strategi nafkah (livelihood strategies); dan (2) perlunya peningkatan peran system kelembagaan pemangku kepentingan (pemerintah, masyarakat, swasta) dalam upaya meningkatkan kapabilitas petani.

    Item Type: Article
    Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GF Human ecology. Anthropogeography
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Miranda Nur Q. A.
    Date Deposited: 20 Apr 2014 03:14
    Last Modified: 01 Sep 2016 13:21
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/12582

    Actions (login required)

    View Item