Pengaruh Faktor Risiko terhadap Gangguan Muskuloskleletal pada Pekerja Wanita Batik Tulis di Kabupaten Sragen

Sumardiyono, and Probandari, Ari and Hanim, Diffah and Handayani, Selfi (2012) Pengaruh Faktor Risiko terhadap Gangguan Muskuloskleletal pada Pekerja Wanita Batik Tulis di Kabupaten Sragen. .

[img] Microsoft Word - Published Version
Download (33Kb)

    Abstract

    Salah satu risiko bahaya kesehatan pada pekerja batik, khususnya batik tulis adalah sikap kerja duduk yang monoton dengan ukuran tinggi kursi (dingklik) setinggi 14,2 cm, sedangkan tinggi lekuk lutut duduk adalah 36,1 cm, menyebabkan posisi membungkuk saat bekerja. Ketidaksesuaian ukuran dimensi antropometri pekerja dengan sarana kerja, dapat berakibat timbulnya gangguan muskuloskeletal. Menurut Helander (1995), posisi membungkuk dalam waktu lama akan menyebabkan keluhan pada joint angle, yang berkaitan dengan gangguan muskuloskeletal. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang dapat menimbulkan gangguan muskuloskeletal dan produktivitas kerja, mendesain sarana kerja sesuai standar ergonomi, dan mengevaluasi efektifitas disain sarana kerja terhadap perubahan gangguan muskuloskeletal pada pekerja batik tulis. Studi tentang gangguan muskuloskeletal (MSDs) telah menjelaskan bahwa bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot rangka yang meliputi otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Keluhan sistem muskuloskeletal yang paling banyak dialami oleh pekerja adalah otot-otot bagian pinggang (low back pain = LBP). Selain itu juga ada laporan prevalensi gejala MSDs pada bahu (47,8%), punggung bagian bawah (45,2%), pergelangan tangan (38,2%), leher (35,2%) dan lutut (34,6%). Beberapa penyebab terjadinya gangguan pada sistem muskuloskeletal antara lain umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, kekuatan fisik, dan ukuran tubuh dapat menjadi penyebab terjadinya keluhan muskuloskeletal. Pada umumnya gangguan muskuloskeletal mulai dirasakan pada usia 25 - 35 tahun, dan akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur hingga 60 - 65 tahun. Secara fisiologis, jenis kelamin mempengaruhi tingkat gangguan muskuloskeletal karena kemampuan otot wanita 2/3 lebih rendah dibanding pria, sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Kebiasaan Merokok berpengaruh terhadap meningkatnya gangguan otot. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat gangguan muskuloskeletal yang dirasakan. Tingkat gangguan muskuloskeletal juga dipengaruhi oleh tingkat kesegaran tubuh, dimana tingkat kesegaran tubuh yang rendah mempunyai risiko terjadinya gangguan muskuloskeletal 7,1%, tingkat kesegaran tubuh sedang 3,2%, dan tingkat kesegaran tubuh tinggi hanya 0,8%. Selain itu faktor penyebab gangguan muskuloskeletal yang lain adalah kurang ergonomisnya sarana kerja, sehingga perlu pendesainan sarana kerja berdasarkan prinsip ergonomi, hal ini diperkuat dengan hasil penelitian bahwa wanita yang gemuk mempunyai risiko dua kali lipat dibanding wanita kurus. Penelitian ini menggunakan jenis eksperimental quasi dengan pendekatan intervensi preventif, dengan desain rancangan perlakuan ulang (one group pre and posttest design). Teknik sampling digunakan quota sampling, dengan kriteria inklusi. Jumlah sampel 50 orang wanita pekerja batik tulis. Dilakukan pengukuran gangguan muskuloskeletal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis. Sebelum menggunakan kursi egonomis, pekerja menggunakan dingklik, kemudian pekerja diminta untuk memakai kursi ergonomis selama 2 bulan, selanjutnya dilakukan uji statistik perbedaan gangguan muskuloskeletal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis menggunakan uji Wilcoxon test, McNemar test, dan Ancova test. Selain itu juga dilakukan uji statistik faktor-kator lain yang menyebabkan gangguan muskuloskeletal menggunakan Chi Square test. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara gangguan muskuloskeleltal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis. Secara statistik, faktor umur dan masa kerja tidak berpengaruh baik sebelum maupun sesudah pekerja menggunakan kursi ergonomis. Sementara faktor indeks massa tubuh secara statistik berpengaruh. Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih lanjut pengaruh kursi ergonomis terhadap gangguan muskuloskeletal dengan mengendalikan variabel indeks massa tubuh dilakukan uji Ancova. Hasil uji Ancova menunjukkan nilai yang signifikan, namun mendekati 0,05. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya kursi ergonomis untuk menurunkan tingkat gangguan muskuloskeletal, sehinggapengusaha batik, sebaiknya menyediakan kursi yang ergonomis sesuai dengan ukuran antropometri pekerjanya.

    Item Type: Article
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran
    Depositing User: Lynda Rahmawati
    Date Deposited: 19 Apr 2014 21:25
    Last Modified: 19 Apr 2014 21:25
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/12555

    Actions (login required)

    View Item