ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KONTRASEPSI JENIS VASEKTOMI DAN TUBEKTOMI

HIDAYATI, NUR LAILI (2013) ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KONTRASEPSI JENIS VASEKTOMI DAN TUBEKTOMI. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (321Kb) | Preview

    Abstract

    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mekanisme cara ber- KB dengan vasektomi dan tubektomi dan bagaimana kedudukan vasektomi dan tubektomi sebagai cara ber-KB dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif dan terapan. Penelitian yang bersifat preskriptif merupakan penelitian hukum dalam rangka untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dari bahan pustaka. Sumber data sekunder yang digunakan mencakup bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui studi kepustakaan yaitu pengumpulan data dengan membaca, mempelajari, mengkaji dan menganalisis serta membuat catatan dari buku literatur, perundang-undangan, koran, majalah, jurnal, dokumen maupun arsip-arsip yang berkesesuaian dengan penelitian yang dibahas dan serta pengumpulan data melalui media elektronik dan hal-hal lain yang relevan dengan masalah yang diteliti yaitu vasektomi dan tubektomi sebagai cara ber-KB dalam hukum Islam. Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan teknik deduksi data dan mempergunakan interpretasi data. Berdasarkan hasil penelitian maupun pembahasan dan analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa hukum asal vasektomi dan tubektomi sebagai cara ber-KB dalam hukum Islam pada prinsipnya dilarang (haram), karena vasektomi dan tubektomi ini menimbulkan akibat pemandulan yang tetap sehingga seorang suami atau istri yang melakukannya tidak dapat memiliki keturunan lagi. Dalam hukum Islam yang diperbolehkan adalah KB yang merupakan bentuk dari tanzhim an-nasl (merencanakan keturunan) dan bukan merupakan tahdid an-nasl (memutus keturunan, pemandulan). Dalam hal ini vasektomi dan tubektomi adalah masuk dalam kategori tahdid an-nasl (memutus keturunan, pemandulan) sehingga hukumnya adalah haram. Tapi dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka berkembang pula suatu cara teknologi ilmu kedokteran dalam melakukan vasektomi dan tubektomi ini yang kemudian tidak menimbulkan akibat pemandulan selamanya. Yaitu bahwa kedua metode tersebut dapat dibuka dan disambung kembali secara aman (rekanalisasi). Sehingga perubahan fatwa hukum suatu masalah bisa dimungkinkan, karena illat hukum yang menjadi alasan hukum ijtihad itu telah berubah, atau karena zaman, waktu dan situasi kondisinya yang telah berubah pula. Maka hukum mengenai vasektomi dan tubektomi ini pun juga bergeser dari haram menjadi bergeser hukumnya. Juga dalam keadaaan yang darurat maka vasektomi dan tubektomi ini boleh dilakukan, misalnya seorang istri yang mengidap suatu penyakit yang dapat menurun jika hamil. Maka hukum vasektomi dan tubektomi ini adalah asalnya haram, kecuali : 1. Untuk tujuan yang tidak menyalahisyariat 2. Tidak menimbulkan kemandulan permanen 3. Ada jaminan dapat dilakukan rekanalisasi yang dapat mengembalikan fungsi reproduksi seperti semula 4. Tidak menimbulkan bahaya (mudharat) bagi yang bersangkutan, dan/atau 5. Tidak dimasukkan ke dalam program dan metode kontrasepsi mantap. Kata kunci : Vasektomi, Tubektomi, Hukum Islam. ABSTRACT This study aimed to know how does the mechanism of family planning method with vasectomy and tubectomy and how do vasectomy and tubectomy position as a family planning method in Islamic Law Perspective. This study is included in prescriptive and applied normative law study. This study is prescriptive constitutes a law research to find law rules, law principles and also law doctrines in answering emerging law issues. Types of data used are secondary data, it is the data from literature study. Secondary data source used includes primary law materials, secondary law materials and tertiary law materials. Data collection technique is through literature study, that is data collection by read, learn, review and analyze and also recording from literatures, ordinance, newspaper, magazines, journals, documents and also archives relevant with topics under study and also through electronic media and others which are relevant with topic under study, that is vasectomy and tubectomy as family planning method in Islamic law. Data analysis technique used is using data deduction technique and data interpretation. Based on the results of study and discussion and also data analysis, then there can be concluded that originated law of vasectomy and tubectomy as a family planning method in Islamic law in principally prohibited (forbidden) because vasectomy and tubectomy can result in permanent infertility so that a husband or wife can not have further reproduce. In Islamic law, those allowed for family planning are the form of tanzhim an-nasl (planning for reproduce), rather than tahdid an-nasl (stopping to reproduce, making infertility). In such case, vasectomy and tubectomy are included in tahdid an-nasl so that they are prohibited. But with advancement of science and technology, then there developed in medical technology in holding vasectomy and tubectomy from which then not result in permanent infertility. That is that both methods can be reopen and reconnect in safe way (recanalization), so that the alteration of law norm on a topic can be allowed because illati of law which become the reason of ijtihad law had changed, or because of altered periods, times and circumstances. Then law on vasectomy and tubectomy has also transformed. It is also in emergency situation, then vasectomy and tubectomy are allowed to be implemented, such like a wife with a disease which can infecting the child if she got pregnant. Then vasectomy and tubectomy which are forbidden, with the exception of: 1. For purposes which are not violating Islamic law 2. There would be no permanent infertility 3. There is an insurance for recanalization 4. Not resulting in danger (mudharat) for person concerned, and/or 5. Not included in permanent contraception program and method. Keywords: Vasectomy, tubectomy, Islamic law

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: K Law > K Law (General)
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Nurrahma Restia
    Date Deposited: 03 May 2014 17:47
    Last Modified: 03 May 2014 17:47
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/12399

    Actions (login required)

    View Item