WAYANG BEBER PACITAN: FUNGSI, MAKNA, DAN USAHA REVITALISASI

Warto, (2011) WAYANG BEBER PACITAN: FUNGSI, MAKNA, DAN USAHA REVITALISASI. Paramita, 22 (1). pp. 56-68. ISSN 0854-0039

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (257Kb) | Preview

    Abstract

    Wayang beber Pacitan is considered as one of the unique traditional heritage because it is not found in other places. The uniqueness of wayang beber Pacitan can be seen from its shape, function, and meaning. Wayang beber is considered sacred by its community, particularly the relatives of the dalang (puppeter) of wayang beber who lives in Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo. However, in its development the existence of the traditional arts is threathened because of the influence of modern cultural values. The efforts to revitalize wayang beber has been undertaken by the local government and other related stakeholders. However, the effort to revitalize wayang beber is not yet successful because there are still constraints, both internal and external. The former view of wayang beber as well as the pressure of modern culture has constrained the revitalization of wayang beber. Similarly, transforming wayang beber from community art to tourist art is another constraint. Key words: cultural identity, revitalization, tourism, wayang beber. Wayang beber Pacitan termasuk salah satu warisan seni tradisi yang langka dan unik karena tidak ditemukan di tempat lain. Kelangkaan dan keunikan wayang beber Pacitan dapat dilihat dari bentuk, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya. Kesenian ini sangat disakralkan oleh pendukungnya khususnya keluarga dalang Wayang beber yang tinggal di Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo. Namun kesenian tradisi ini terancam punah karena terdesak oleh nilai-nilai budaya modern. Usaha revitalisasi wayang beber telah dilakukan walaupun belum optimal karena beberapa hambatan. Pandangan lama atas wayang beber dan desakan budaya modern menghambat revitalisasi wayang beber. Demikian pula mentransformasikan Wayang beber dari seni sakral (community art) menjadi seni hiburan (tourist art) menjadi hambatan lain yang belum sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, revitalisasi wayang beber harus dimulai dengan kebijakan yang tepat, komitmen pemimpin daerah, dukungan masyarakat dan swasta, serta dilakukan secara sinergis antarpara pihak yang peduli terhadap wayang beber. Kata Kunci: wayang beber, revitalisasi, identitas

    Item Type: Article
    Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > Ilmu Sejarah
    Depositing User: Arissa Aprilia Nurcahyani
    Date Deposited: 18 Apr 2014 19:59
    Last Modified: 07 May 2014 17:40
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/11994

    Actions (login required)

    View Item