Revitalisasi Wayang Beber untuk Memperkokoh Identitas Budaya Bangsa dan untuk Mendukung Pengembangan Pariwisata Daerah di Kabupaten Pacitan

Warto, and Supariadi, and Margana, (2011) Revitalisasi Wayang Beber untuk Memperkokoh Identitas Budaya Bangsa dan untuk Mendukung Pengembangan Pariwisata Daerah di Kabupaten Pacitan. .

[img] Microsoft Word (identitas budaya, pariwisata, revitalisasi, wayang beber) - Published Version
Download (30Kb)

    Abstract

    Wayang beber Pacitan adalah salah satu kekayaan budaya bangsa yang terancam punah. Seni tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu itu semakin tergerus oleh arus zaman yang terus berubah. Sama seperti jenis kesenian tradisi yang lain, wayang beber semakin ditinggalkan penonton karena berbagai alasan. Sebagai warisan budaya yang unik dan langka, wayang beber menghadapi beberapa persoalan untuk bertahan hidup. Sehubungan dengan hal itu, penelitian ini mengkaji beberapa aspek yang berkaitan dengan wayang beber Pacitan dan menemukan model revitalisasi yang relevan untuk pelestarian seni tradisi itu. Bentuk penelitiannya kualitatif deskriptif, data digali melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Validitas data dilakukan dengan triangulasi data/sumber dan triangulasi metode. Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan, Wayang Beber Pacitan termasuk salah satu warisan seni tradisi yang langka dan unik karena tidak ditemukan di tempat lain. Kelangkaan dan keunikan Wayang Beber Pacitan dapat dilihat dari bentuk, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya. Bentuknya sederhana, berupa lukisan tokoh-tokoh cerita di atas kertas (dluwang) yang terdiri atas enam gulung dan setiap gulung memuat empat adegan. Isinya menceritakan kisah cinta Jaka Kembang Kuning (Raden Panji) dan Dewi Sekartaji. Wayang Beber Pacitan berfungsi sebagai sarana upacara adat seperti “ngruwat”, “ngluwari nadzar”, atau penolak bala lainnya. Kesenian ini sangat disakralkan oleh pendukungnya khususnya keluarga dalang Wayang Beber yang tinggal di Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo. Namun dalam perkembangannya, kesenian tradisi ini terancam punah karena terdesak oleh nilai-nilai budaya modern. Usaha revitalisasi Wayang Beber telah dilakukan oleh Pemda setempat dan pihak lain, misalnya melalui Gelar Budaya Tradisi, pembangunan Geo-park dengan menjadikan Wayang Beber sebagai trek budaya, mendirikan sanggar seni, memasukkan ke dalam materi pelajaran di sekolah, serta melalui kegiatan pariwisata. Meskipun demikian, usaha revitalisasi Wayang Beber Pacitan belum berhasil seperti yang diharapkan karena masih menghadapi beberapa hambatan internal dan eksternal. Pandangan lama atas wayang beber dan desakan budaya modern menghambat revitalisasi wayang beber. Demikian pula mentransformasikan Wayang Beber dari seni sakral (community art) menjadi seni hiburan (tourist art) menjadi hambatan lain yang belum sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, revitalisasi Wayang Beber harus dimulai dengan kebijakan yang tepat, komitmen pemimpin daerah, dukungan masyarakat dan swasta, serta dilakukan secara sinergis antarpara pihak yang peduli terhadap Wayang Beber. Dengan demikian wayang beber berkembang menjadi sumber inspirasi bagi terciptanya industri kreatif yang mampu menjamin keberlanjutan seni tradisi itu.

    Item Type: Article
    Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GF Human ecology. Anthropogeography
    G Geography. Anthropology. Recreation > GR Folklore
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Miranda Nur Q. A.
    Date Deposited: 18 Apr 2014 01:23
    Last Modified: 18 Apr 2014 01:23
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/11872

    Actions (login required)

    View Item