Penataan Kembali Morfologi Bahasa Indonesia Dengan Perspektif Baru (Derivasional Dan Infleksional) Proses Afiksasi

Abdullah, Wakit and Subroto, D. Edi and Mulyanto, (2014) Penataan Kembali Morfologi Bahasa Indonesia Dengan Perspektif Baru (Derivasional Dan Infleksional) Proses Afiksasi. .

[img] Microsoft Word - Published Version
Download (33Kb)

    Abstract

    Penelitian difokuskan pada morfologi derivasional dan infleksional proses afiksasi. Data penelitian ini berupa kalimat-kalimat bahasa Indonesia baku yang mengandung bentuk-bentuk berafiks. Data dapat diperoleh pada media massa (cetak dan elektronik), pemakaian bahasa lisan sehari-hari oleh masyarakat penutur bahasa Indonesia, serta data yang dibangkitkan oleh peneliti sebagai penutur bahasa Indonesia dengan validasi tertentu yang berlaku bagi penelitian bahasa. Pengumpulan data dilakukan dengan cara simak dan catat, serta wawancara mendalam. Simak dan catat dilakukan terhadap sumber data tertulis dan lisan, sedangkan wawancara mendalam dilakukan untuk menguji kembali kebenaran/kesahihan data yang diperoleh terutama terhadap data yang dibangkitkan. Wawancara mendalam juga disertai penyimakan dan pencatatan. Pembentukan yang menghasilkan jenis kata baru yang berbeda dari dasarnya atau pembentukan yang menghasilkan identitas leksikal berbeda. Pembentukan tersebut berarti pula menghasilkan arti leksikal yang berbeda dari dasarnya dengan referen (yang diacu) juga berbeda. Di samping itu terdapat pula pembentukan yang menghasilkan jenis kata yang sama dengan dasarnya (misalnya: lurah vs kelurahan). Dalam hal ini juga termasuk pembentukan derivasional karena arti leksikalnya berbeda dan yang diacu juga berbeda. Kata “lurah” mengacu ke orang, sedangkan “kelurahan” mengacu pada sistem/tidak mengacu pada orang". Pembentukan yang terakhir tersebut (lurah vs kelurahan) tidak mengubah jenis kata, namun mengubah identitas leksikal. Melalui ciri-ciri tersebut di atas, afiksasi dalam bahasa Indonesia dikenal adanya pembentukan menjadi Nom dan pembentukan menjadi V, sedangkan pembentukan menjadi kelas kata selain Nom dan V tidak ditemukan. Pembentukan derivasional menjadi Nom berasal dari beberapa kategori D, yakni dari V (V I dan V II), dari Nom-lain, dari Adj, dari Num, dan dari Adv. Pembentukan V I menjadi Nom terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori peng-D, kategori peng-D-an, kategori D-an, kategori pe-D, kategori ke-D-an, dan kategori per-D-an. Pembentukan V II menjadi Nom terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori peng-D, kategori peng-D-an, kategori D-an, kategori pe-/per-D, kategori pe-/per-D-an, dan kategori ke-D-an. Pembentukan Nom dari Nom-lain terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori ke-D-an, kategori per-/pe-D-an, kategori D-wan/-wati, kategori D-isme, kategori D-isasi, dan kategori D-an. Pembentukan Adj menjadi Nom terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori ke-D-an, kategori D-an, kategori peng-D, kategori D-isasi, kategori D-isme, kategori ke-D, dan kategori pe-D. Pembentukan dari Num menjadi Nom terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori D-an, kategori ke-D-an, dan kategori per-D-an. Pembentukan Adverbia menjadi Nomina terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori ke-D-an, kategori ke-D. Pembentukan menjadi Nom juga dapat melibatkan sufiks {-nya} dari berbagai kategori D V, Adj, Num, dan Adv. Pembentukan derivasional menjadi V juga berasal dari beberapa kategori D, yakni dari V-lain (V I dan V II), dari Nom, dari Adj, dari Num, dan dari Adv. Pembentukan menjadi V dari V-lain kategori D V I terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D–i, kategori D–kan, kategori ke-D-an, dan kategori ber-D. Pembentukan menjadi V yang dari V-lain kategori D V II terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D–i, kategori D–kan, dan kategori ke-D-an. Pembentukan menjadi V dari D Nom terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori zero-D, kategori D-kan, kategori D-i, kategori ber-D, kategori meng-D, kategori per-D, kategori per-D-kan, dan kategori ber-D-kan. Pembentukan menjadi V dari D Adj terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D-i, kategori D-kan, kategori per-D, kategori per-D-kan, kategori per-D-i, kategori meng-D, kategori ber-D, kategori ber-D-an, dan kategori ke-D-an. Pembentukan menjadi V dari D Num terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D-kan, kategori per-D-kan, kategori per-D, kategori meng-D, dan kategori ber-D. Pembentukan menjadi V dari D Adv/atributif terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D-i dan kategori D-kan. Pembentukan infleksional adalah pembentukan yang tidak menghasilkan leksem baru atau pembentukan yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari leksem yang sama. Pembentukan semacam itu mempunyai sifat dapat diramalkan berdasarkan kondisi-kondisi tertentu. Melalui afiksasi, pembentukan infleksional dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam lingkup V, yakni V I dan V II. Pembentukan infleksional dengan dasar V I terdapat pada V kategori TEMBAK, V kategori TEMBAKI, V kategori TEMBAKKAN, dan V kategori AMBILKAN. Pembentukan Infleksional dengan Dasar V II terdapat dalam kategori ber-D, kategori D-i, kategori D-kan „lokatif‟, dan kategori D-kan „kausatif‟. Afiks-afiks infleksi yang kemunculannya dapat diramalkan melekat dalam kategori V tersebut adalah afiks {meng-, di-, ku-, kau-, dia-

    Item Type: Article
    Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Miftahful Purnanda
    Date Deposited: 17 Apr 2014 17:47
    Last Modified: 02 Sep 2016 12:26
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/11710

    Actions (login required)

    View Item