Eksplorasi Aspek Edukatif Dalam Lakon Wayang Menak Berbasis Struktural Genetik Dan Relevansinya Dengan Pembelajaran Sastra Multikultural

Andayani, and Ekowardani, E.Nugraheni (2014) Eksplorasi Aspek Edukatif Dalam Lakon Wayang Menak Berbasis Struktural Genetik Dan Relevansinya Dengan Pembelajaran Sastra Multikultural. .

[img] Microsoft Word - Published Version
Download (31Kb)

    Abstract

    Lakon wayang menak merupakan bentuk karya sastra yang bernuansa multikultural. Di dalamnya berbagai kultur termuat, yaitu kultur Arab Parsi, Melayu, dan Jawa. Adanya nuansa ini perlu dikaji relevansinya dengan pembelajaran sastra. Hal ini merupakan fenomena penting untuk diungkap mengingat kehadiran karya sastra mulitikultural dalam pembelajaran apresiasi sastra sudah tidak dapat ditunda lagi. Kehadiran sastra multikultural dapat menjadi sebuah media untuk membentuk keyakinan bahwa semua kelompok budaya dapat diwujudkan secara sosial, direpresentasikan, dan dapat hidup saling berdampingan. Kehadiran nuansa multikultural itu dapatlah diyakini bahwa sejumlah fenomena rasisme dapat direduksi oleh penetapan citra positif keanekaragaman etnik. Hal ini pula yang diharapkan dapat mengeliminasi isu-isu disintegrasi dalam berbagai lini melalui pemahaman terhadap pengetahuan kebudayaan-kebudayaan lain yang tersaji dalam pembelajaran sastra multikultural dan melalui eksplorasi aspek edukatif dalam lakon wayang menak. Adapun pemilihan nuansa multikultural dalam pembelajaran apresiasi sastra beralasan bahwa kekuatan karya sastra terletak pada pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan yang disampaikan melalui karya sastra dapat sangat kuat dan lebih bersifat abadi jika dibandingkan dengan pesan secara harfiah. Pesan yang dimaksud adalah pesan dalam aspek edukatif. Eksplorasi aspek edukatif dalam lakon wayang menak ini dikaji empiris dengan pendekatan strukturalisme genetik. Langkah-langkah penelitian dengan strukturalisme genetik ini dilaksanakan dengan cara: (1) lakon wayang menak diteliti strukturnya untuk membuktikan bahwa bagian-bagiannya merupakan suatu keseluruhan yang padu dan holistik; (2) menghubungkan dengan aspek edukatif beserta aspek sosial budaya yang relevan. Unsur-unsur kesatuan karya sastra tersebut kemudian dihubungkan dengan struktur mental yang menyangkut dunia pengarangnya; (3) untuk mencapai solusi atau kesimpulan digunakan metode induktif, yaitu metode pencarian kesimpulan dengan jalan melihat premis-premis yang sifatnya spesifik untuk selanjutnya mencari premis general. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview, observasi, dan content analysis, dan keabsahan data dijaga dengan triangulasi. Dari langkah-langkah tersebut dapat ditemukan hasil : (1) aspek edukatif yang dapat ditemukan di dalam lakon wayang menak meliputi aspek edukatif yang berkaitan dengan religi, sosial, etika, budi pekerti, dan estetika; (2) representasi multikulturalisme dalam lakon wayang menak ditandai dengan fenomena keberagaman budaya. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan menjadi inspirasi dan potensi bagi bangsa yang antidisintegrasi; (3) pandangan dunia pengarang menunjukkan bahwa Yasadipura sebagai pengarang “menak” adalah pencetus kitab-kitab pembangun 3 dan pengembang agama Islam. Karyanya memberi semangat juang dan keberanian para priyayi muslim dalam memperjuangkan tersebarnya agama Islam hingga terpatri kuat melalui pemahaman terhadap Serat Menak; (4) kelompok sosial pengarang (Yasadipura) merupakan pujangga sezaman dengan pujangga di luar keraton yaitu S.A. Dahlan , penyusun kitab Hikayat Amir Hamzah Melayu. Cerita Serat Menak yang ditulis Yasadipura merupakan bentuk intertekstualitas dari Hikayat Amir Hamzah yang menjadi karya sastra yang digemari di Kerajaan Malaka (Tanah Melayu); (5) struktur dalam lakon wayang menak meliputi tema, alur, penokohan, dan latar. Tema merupakan penyebaran agama Islam. Alur merupakan alur maju. Penokohan dilukiskan sebagai tokoh yang memiliki sikap tenang, mantap dalam mengambil keputusan, berani, dan pantang menyerah dalam berjuang, dan latar terjadi di Arab, antara lain Medayin (Medinah), Yaman, Mekkah, Melayu, Cina, dan Jawa; (6) relevansinya dengan bahan ajar sastra multikultural berdasarkan hasil wawancara dengan guru di tingkat sekolah dasar, SMP, dan SMA yang mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia diketahui bahwa para guru menyetujui apabila ada revitalisasi lakon-lakon atau kisah-kisah dalam wayang menak untuk memperkaya bahan ajar apresiasi sastra, karena di dalamnya termuat berbagai kultur, sehingga dapat menjadi bahan ajar sastra multikultural.

    Item Type: Article
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Miftahful Purnanda
    Date Deposited: 17 Apr 2014 17:43
    Last Modified: 17 Mar 2017 10:28
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/11707

    Actions (login required)

    View Item