APLIKASI ZAT PEWARNA ALAMI PADA BATIK DENGAN MENGGUNAKAN KULIT KAYU MAHONI (SWIETENIA MAHOGANI), KULIT KAYU SOGA JAMBAL (PELTHOPHORUM FERRUGINUM), DAN KULIT KAYU SOGA TINGI (CERIOPS TAGAL)

Indriyani, Lita and Asrianing, Widak (2013) APLIKASI ZAT PEWARNA ALAMI PADA BATIK DENGAN MENGGUNAKAN KULIT KAYU MAHONI (SWIETENIA MAHOGANI), KULIT KAYU SOGA JAMBAL (PELTHOPHORUM FERRUGINUM), DAN KULIT KAYU SOGA TINGI (CERIOPS TAGAL). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (192Kb) | Preview

    Abstract

    LITA INDRIYANI, WIDAK ASRIANING, 2013. LAPORAN TUGAS AKHIR APLIKASI ZAT PEWARNA ALAMI PADA BATIK DENGAN MENGGUNAKAN KULIT KAYU MAHONI (SWIETENIA MAHOGANI), KULIT KAYU SOGA JAMBAL (PELTHOPHORUM FERRUGINUM), DAN KULIT KAYU SOGA TINGI (CERIOPS TAGAL) PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA. Kemajuan teknologi mengakibatkan zat warna alami semakin terkikis dengan adanya zat warna sintetis. Pewarna sintetis mempunyai keuntungan warna yang lebih mencolok, lebih seragam, dan lebih praktis dalam penggunaanya. Sedangkan kelemahan zat warna sintetis banyak terdapat logam yang berbahaya bagi lingkungan. Zat warna alami adalah zat warna (pigmen) yang diperoleh dari tumbuhan, hewan atau sumber-sumber mineral. Keuntungan zat warna alami adalah lebih ramah lingkungan karena tidak beracun dan aman bagi kesehatan. Kelemahan pewarna alami adalah kesulitan dalam penyimpanan. Ketika zat warna alami dalam bentuk cair disimpan terlalu lama, maka zat warna akan mudah terurai. Untuk itu, zat warna alami perlu disimpan dalam bentuk serbuk. Metode yang digunakan untuk mendapatkan zat warna alami adalah ekstraksi secara batch. Ekstraksi dilakukan dengan perbandingan bahan baku dan pelarut 1:10, 1:7, dan 1:5. Bahan baku yang digunakan adalah kulit kayu mahoni, jambal, dan tingi. Hasil ekstrak terbaik diperoleh dengan perbandingan 1:5 untuk semua bahan baku. Pembuatan serbuk dilakukan dengan memasukkan larutan ekstrak ke dalam spray dryer, sehingga diperoleh serbuk zat warna alami. Pengaplikasian serbuk zat warna digunakan 1 gram/100 ml, 2 gram/100 ml, 3 gram/100 ml, 4 gram/100 ml, dan 5 gram/100 ml. Pencelupan dengan zat pewarna alami dilakukan dengan 2 kondisi yaitu ekstrak dan serbuk. Pencelupan kain dilakukan sebanyak 5 kali dengan masing-masing perendaman selama 15 menit dan dikeringkan. Setelah itu dilakukan fiksasi (penguncian warna) pada batik. Fixer yang digunakan adalah tunjung (mengubah warna pada batik menjadi lebih gelap), tawas (mempertahankan warna pada batik), dan kapur (mengubah warna pada batik menjadi lebih muda). Kain batik yang telah difiksasi dilakukan pengujian kelunturan terhadap cucian dengan launderometer dan terhadap gosokan dengan crockmeter. Hasil pengujian dianalisa dengan staining scale (skala penodaan) dan grey scale (skala abu-abu). Pengujian dengan skala penodaan dibagi menjadi 2 yaitu dengan gosokan basah dan gosokan kering. Dari hasil pengujian gosokan basah dan kering , diperoleh hasil terbaik dengan pewarna jambal, larutan fixer tawas, dan pada kondisi serbuk. Sedangkan pada skala abu-abu diperoleh hasil terbaik dengan pewarna jambal, fixer tawas, dan pada kondisi serbuk. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengaplikasian serbuk optimum terhadap kain batik adalah 4 gram/100 ml air dengan 5 kali pencelupan. Hasil ketahanan luntur terbaik terhadap cucian dan gosokan adalah jambal dengan larutan fixer tawas dan pada kondisi serbuk.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: Q Science > QD Chemistry
    T Technology > T Technology (General)
    Divisions: Fakultas Teknik > D3 - Teknik Kimia
    Depositing User: Tri Wahyu Prasetyo
    Date Deposited: 16 Apr 2014 21:56
    Last Modified: 16 Apr 2014 21:56
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/11549

    Actions (login required)

    View Item