Tanah Sende: Respon Dan Strategi Adaptasi Masyarakat Pedesaan Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Di Daerah Istimewa Yogyakarta

Hastuti, Tiwuk Kusuma and Kusumawiranti, Retno (2011) Tanah Sende: Respon Dan Strategi Adaptasi Masyarakat Pedesaan Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Di Daerah Istimewa Yogyakarta. .

[img] Microsoft Word - Published Version
Download (33Kb)

    Abstract

    Krisis ekonomi telah mendorong munculnya berbagai bentuk respons masyarakat. Respons dan adaptasi penduduk pedesaan antara daerah yang satu dengan yang lain berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia. Beberapa bentuk respon dalam mengatasi kesulitan itu terutama menyangkut pemenuhan kebutuhan subsisten adalah menjual harta kekayaan, menggadaikan barang-barang miliknya (tanah, emas, perabotan, dan lain-lain), mengungsi, mengemis, dan lain-lain. Krisis ekonomi di satu sisi menyebabkan tertutupnya peluang bagi satu golongan dan sekaligus memunculkan kesempatan baru bagi golongan lain. Di sisi lain muncullah kelompok yang berhasil menguasai sumberdaya desa khususnya tanah dan barang-barang lainnya yang dijual oleh golongan miskin. Di DIY disamping menjual harta milik, tindakan yang dilakukan masyarakat adalah menggadaikan barang-barang berharga. Lembaga pergadaian menjadi salah satu katup pengaman yang cukup populer. Orang-orang kaya memberi pinjaman kepada orang-orang yang membutuhkan uang dengan agunan tanah Inilah kearifan lokal yang menjadi kapital sosial penting bagi kelangsungan hidup penduduk pedesaan yang perlu digali dan dikembangkan. Ketika institusi negara tidak mampu menolong penderitaan penduduk miskin, lembaga keluarga dan adat menjadi salah satu katup pengaman yang penting Tujuan penelitian yaitu: (1)memberikan mode pemahaman baru terhadap potensi dan kemampuan masyarakat desa dalam upaya menghadapi krisis atau kesulitan hidup dengan mengembangkan strategi-strategi adaptasi yang sesuai dengan kondisi/tantangan yang dihadapi; (2) menawarkan alternatif perspektif dalam memahami masalah-masalah orang desa, strategi kelangsungan hidup, dan lembaga perdesaan,(3) menghasilkan suatu model pengembangan desa mandiri dengan lebih memperhatikan keberadaan lembaga-lembaga perdesaan yang tumbuh dari bawah. Tanah dan pola pemilikannya bagi masyarakat pedesaan merupakan suatu factor yang krusial bagi perkembangan kehidupan social, ekonomi, dan politik masing-masing warga desa. Hal tersebut menyebabkan petani tidak ingin melepaskan tanahnya (jual lepas) karena memiliki tanah berarti mempunyai kedudukan social tertentu dalam masyarakat. Sende terjadi karena pemilik tanah memerlukan uang tetapi tidak ingin melepaskan tanahnya untuk selama-lamanya. Dengan transaksi tanah sende, pemilik tanah tidak akan kehilangan status sosialnya sebagai pemilik tanah, karena meskipun tanahnya dijual secara sende terus-menerus, statusnya sebagai pemilik tetap dihormati. Maka dengan menggadaikan tanah di satu pihak kebutuhan yang sangat mendesak akan uang kontan dapat dipenuhi dengan mudah tanpa melepaskan tanah untuk selama-lamanya karena sewaktu-waktu dapat ditebus. Di lain pihak pemilik masih tetap menggarap tanah sebagai buruh upahan atau penyakap, sehingga masih mempunyai penghasilan untuk menopang hidupnya. Dalam hal demikian ia masih merasa sebagai seorang petani, karena masih ikut bertanggung jawab atas pekerjaannya. Selain itu petani juga masih dapat aktif dalam proses pengambilan keputusan desa, karena secara de yure masih sebagai pemilik tanah meski secara de facto tidak menguasai tanah. Bagi pemilik modal, landasan untuk membeli sende yang selalu ada ialah bahwa si calon penjual sudah dikenal betul dan pembeli tanah percaya bahwa uang yang diserahkan akan dikembalikan secara utuh. Dengan membeli tanah sende, maka pemilik modal akan mendapatkan keuntungan sebagai bunga tanah, yaitu hak pakai, sehingga dapat meningkatkan penghasilannya. Pemilik modal pun tidak akan menderita rugi, meskipun mengalami kegagalan panen, karena uangnya akan kembali secara utuh. Adanya pandangan kemasyarakatan, bahwa pemilikan tanah dapat berarti peningkatan kedudukan social, menyebabkan pemilik modal berusaha keras untuk mendapatkan tanah meskipun hanya untuk sementara waktu. Transaksi tanah sende juga memberikan keuntungan tidak langsung kepada pemilik modal, misalnya pemanfaatan ternak, waktu dan tenaga kerja yang ada secara baik. Cukup banyak petani yang sukses dalam memperkembangkan usaha taninya melalui sende atau gadai tanah. Karena dengan jumlah modal yang sama besarnya ia tidak akan memperoleh tanah yasan yang sama luasnya dengan tanah garapan yang diperolehnya dari sende. Lazimnya harga dalam gadai tanah lebih rendah jika dibanding dengan pembelian tanah yasan. Sehingga pemilik modal mempunyai keuntungan karena tidak memerlukan modal yang besar untuk pembelian tanah dan modal lainnya dapat digunakan untuk biaya pengelolaan secara intensif.

    Item Type: Article
    Subjects: H Social Sciences > HC Economic History and Conditions
    Divisions: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - LPPM
    Depositing User: Miranda Nur Q. A.
    Date Deposited: 15 Apr 2014 03:03
    Last Modified: 15 Apr 2014 03:03
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/11065

    Actions (login required)

    View Item