ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN KINERJA SAHAM PERUSAHAAN BERSERTIFIKAT ISO (Studi Empiris Pada Perusahaan Di Bursa Efek Indonesia)

SARI, ARTIKA (2009) ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN KINERJA SAHAM PERUSAHAAN BERSERTIFIKAT ISO (Studi Empiris Pada Perusahaan Di Bursa Efek Indonesia). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (7Mb)

    Abstract

    Memasuki era globalisasi, perkembangan teknologi dan liberalisasi pasar modal dunia berlangsung semakin cepat sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan di dalam kehidupan usaha. Hal tersebut menyebabkan persaingan bisnis menjadi sangat tajam, baik pasar domestik (nasional) maupun pasar global (internasional). Oleh karena itu, banyak perusahaan berusaha memenangkan persaingan dengan meningkatkan mutu produk/jasa, sehingga dapat memberikan kepuasan bagi konsumen. Perusahaan yang tidak mempersiapkan diri untuk meningkatkan mutu kerjanya akan menemui kesulitan dalam bersaing. Salah satu modal penting bagi perusahaan untuk dapat bertahan dan bersaing di pasar modal adalah kualitas. Konsep kualitas sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri atas kualitas desain dan kualitas kesesuaian. Kualitas desain merupakan fungsi spesifikasi produk, sedangkan kualitas kesesuaian adalah suatu ukuran seberapa jauh suatu produk memenuhi persyaratan atau spesifikasi kualitas yang telah ditetapkan. Menurut Goetsch dan Davis dalam Tjiptono dan Diana (2003), kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas pada saat ini mungkin dianggap kurangberkualitas pada masa mendatang). Kualitas bukan hanya mencakup produk dan jasa, tetapi juga meliputi proses, lingkungan, dan manusia. Aspek terpenting dalam kualitas adalah aspek hasil yaitu memenuhi atau bahkan melebihi harapan pelanggan. Kualitas memiliki keterkaitan erat dengan kepuasan pelanggan. Kualitas memberi dorongan pelanggan untuk menjalin ikatan yang kuat dengan perusahaan dalam jangka panjang, ikatan ini memungkinkan perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan dan kebutuhan pelanggan. Dan pada gilirannya, kepuasan pelanggan dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas terhadap perusahaan. Peningkatan kualitas produk mempunyai tujuan untuk meminimalisasi jumlah produk cacat atau defect. Dengan berkurangnya jumlah produk cacat, maka biaya penanganan terhadap produk cacat pun dapat diminimalisasi dan dapat meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya meningkatkan profit bagi perusahaan serta daya saing perusahaan yang bersangkutan. Kualitas bagi konsumen cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Konsumen akan mencapai tingkat kepuasan yang tinggi ketika produk yang dikonsumsinya memiliki kualitas yang baik. Di sisi lain kualitas juga adalah unsur penting bagi perusahaan, sebab ketika produk yang dihasilkan perusahaan berkualitas maka akan tercipta loyalitas di dalam diri konsumen dan meningkatnya pangsa pasar. Dengan demikian kondisi ini akan berkontribusi terhadap pencapaian laba perusahaan serta memberikan kemampuan bagi perusahaan untuk tetap survive di bisnisnya.Semakin kritis konsumen, maka semakin banyak pula tuntutan kualitas akan suatu produk, diantaranya ada yang mensyaratkan sertifikat ISO bagi produk yang akan dibelinya. Konsumen akan merasa yakin untuk membeli produk yang bersertifikat ISO karena hal itu menunjukkan jaminan perusahaan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Semakin banyak perusahaan yang menerapkan sistem manajemen kualitas dengan tujuan untuk mendapatkan sertifikat ISO. Disamping karena permintaan konsumen, alasan lain suatu organisasi berusaha mendapatkan sertikat ISO adalah keuntungan yang didapat dari implementasi tersebut, diantaranya adalah peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas. Sistem manajemen kualitas merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk sistem manajemen mutu yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk terhadap kebutuhan atau persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan dan organisasi atau perusahaan. Isu mengenai lingkungan juga menjadi hal yang penting dari kegiatan bisnis saat ini. Meningkatnya pembicaraan mengenai lingkungan dalam agenda politik dan sosial, khususnya masalah pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas lingkungan hidup menjadi pertanda mengenai pentingnya isu lingkungan. Dalam dua dekade terakhir ini memang kerap muncul keprihatinan global terhadap dampak negatif akibat tingginya pertumbuhan agro industri maupun industri manufaktur yang mengakibatkan tercemarnya lingkungan. Itulah sebabnya, keberadaan suatu sistem standardisasi kian dirasakan urgensinya. Hal ini pulalah yang mendorong organisasi ISO mendirikan Strategic Advisory Group on Environment (SAGE)yang bertugas meneliti kemungkinan mengembangkan sistem standar di bidang lingkungan. Melihat upaya yang makin gencar untuk perlindungan lingkungan, semua negara sepakat terhadap pentingnya turut ambil bagian untuk melindungi dan memelihara kelestarian lingkungan hidup. Kenyataan ini menempatkan aspek lingkungan menjadi faktor yang berpengaruh dalam pola perdagangan barang dan jasa. Isu pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup dijadikan prasyarat bagi setiap negara yang ingin ikut berperan aktif dalam perdagangan dunia. Realitanya, kini lingkungan telah menjadi bagian yang sangat penting dalam berbisnis. Terkait hal ini, setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu green consumerism dan lingkungan sebagai non-tariff barrier. Green consumerism menuntut berbagai produk harus berorientasi lingkungan dan harus dibuat melalui proses yang ramah lingkungan. Di sisi lain, banyak negara, utamanya masyarakat Eropa, memasukkan faktor lingkungan ke dalam perdagangan. Dan, lingkungan menjadi non-tariff barrier. Artinya, untuk memasuki pasar dengan kedua karakteristik tersebut di atas diperlukan kaji ulang atas kinerja lingkungan yang telah dilakukan selama ini. Menurut Sun dalam Wibawa (2002), terdapat dua aliran besar dalam sistem manajemen kualitas yaitu Total Quality Management (TQM) dan Quality Standards dari ISO (International Organization for Standardization). TQM merupakan suatu sistem yang dapat dikembangkan menjadi pendekatan dalam menjalankan usaha untuk memaksimumkan daya saing organisasimelalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungannya (Tjiptono, 2003). TQM juga merupakan falsafah holistie yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, productivity teamwork, pengertian dan kepuasan pelanggan (Page dan Curry, 2000). Dengan demikian TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi. ISO (International Organization for Standardization) adalah organisasi internasional yang berkedudukan di Genewa, Swiss. Organisasi ini merupakan organisasi non-pemerintah yang didirikan pada tahun 1974. Organisasi ini mengeluarkan standar yang berlaku global adalah ISO 9000 yaitu standar mutu dan ISO 14000 yaitu standar manajemen lingkungan (Rothery, 1996). Sertifikasi ISO adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh pihak ketiga yang independen untuk menjamin bahwa sistem manajemen kualitas atau sistem manajemen lingkungan suatu perusahaan yang telah memenuhi standar ISO. Sertifikasi ISO tidak menjamin suatu proses atau produk pada tingkat kualitas maksimum, tetapi hanya menyatakan bahwa pada tersebut terdapat suatu sistem kualitas yang memberikan keyakinan kepada para pengguna bahwa perusahaan konsisten terhadap prosedur kualitas mereka (Brown dan Wiele, 1996). Pada tahun 1987, organisasi ini menerbitkan standar internasional untuk sistem kualitas yaitu ISO seri 9000. Tujuan utama ISO 9000 adalah untuk menyediakan kerangka pengukuran kualitas barang dan jasa yang universal, tanpa ada batasan antar negara, serta dapat diterapkan pada berbagaijenis dan ukuran perusahaan. Standar ISO 9000 menawarkan pada perusahaan kemampuan pengembangan dan penerapan sebuah sistem kualitas yang efektif dan dinamis dengan penekanan pada pengembangan dan adaptasi berkelanjutan selama perusahaan dan berkomitmen terhadap standar tersebut. Standar ISO 9000 memuat tiga aspek kualitas, yaitu sistem manajemen kualitas, metodologi sistem kualitas, dan pemeliharaan sistem kualitas (Brooks, 1995). Emulti dalam Wibawa (2002), menyatakan beberapa motivasi perusahaan dalam meningkatkan memperoleh kualitas produk sertifikat dan ISO efisiensi, 9000 adalah keunggulan untuk bersaing, meningkatkan pangsa pasar, meningkatkan harga jual produk, pengurangan biaya dan peningkatan harga saham. Kenyataan bahwa beberapa negara mensyaratkan kepada perusahaan-perusahaan untuk memperoleh sertifikat ISO 9000 dan di beberapa industri perusahaan juga mensyaratkan pemasoknya memperoleh sertifikat ISO 9000, menjadi motivasi bagi perusahaan untuk memperoleh sertifikat ISO 9000. Setelah sukses dengan ISO 9000, ISO mengeluarkan ISO seri 14000. Seri ini didasari atas semakin meningkatnya kesadaran akan lingkungan. ISO 14000 merupakan standar internasional tentang sistem manajemen lingkungan secara umum. Sistem manajemen lingkungan adalah suatu sistem yang digunakan oleh perusahaan untuk mengelola lingkungan. Tujuan dari sistem manajemen lingkungan adalah untuk mendukung perlindungan terhadap lingkungan atau pencegahan polusi dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan sosial ekonomi. ISO 14000 terdiri dari Standar Evaluasi Organisasi danStandar Evaluasi Produk. ISO seri 9000 dan seri 14000 merupakan sistem manajemen kualitas dan lingkungan yang telah diakui secara internasional, sehingga memberi nilai tambah bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan di pasar global (Joubert, 1998). Penelitian tentang sistem manajemen kualitas yang berupa market based research maupun fundamental based research telah banyak dilakukan baik di luar negeri maupun di Indonesia sendiri. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan di luar negeri diantaranya yaitu Sun (2000) dalam penelitiannya menemukan bukti bahwa Standar ISO 9000 dan TQM berpengaruh pada kinerja perusahaan baik dalam aspek internal (produktivitas) maupun aspek eksternal (marketing). Prabhu et al. dalam Pramudyawati (2008) menyimpulkan bahwa keberhasilan akreditasi ISO 9000 dan dilanjutkan dengan penerapan TQM adalah penting untuk meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan. Kemudian Wruck dan Jensen dalam Carr (2000), melakukan studi kasus terhadap implementasi TQM dan menyimpulkan bahwa implementasi TQM melibatkan perubahan pada sistem alokasi hak keputusan, akibatnya sistem pengukuran kinerja dan sistem reward dan punishment perlu dirancang kembali. Hendricks dan Singhal (1996) dalam penelitiannya menemukan bukti bahwa investor bereaksi positif terhadap pengumuman quality award. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Aart dan Vos (2001) membuktikan bahwa pasar tidak bereaksi terhadap pengumuman sertifikat ISO 9000 tetapi pasar bereaksi terhadap pengumuman sertifikat ISO 14001.Menurut Ebrahimpour dalam Ahmar dan Pujiati (2003), menunjukkan bahwa perusahaan bersertifikat ISO mengharapkan sistem kualitas mereka akan menghasilkan peningkatan desain produk, desain proses, kualitas produk, public image dan hubungan pemasok. Serta menunjukkan bahwa perusahaan bersertifikat ISO meyakini adanya dua keuntungan keuntungan eksternal dan dua keuntungan internal. Dua keuntungan eksternal mencakup peningkatan kualitas dan keunggulan kompetitif, sedangkan dua keuntungan internal adalah peningkatan dokumentasi dan kesadaran akan kualitas. Casadesus dan Gimenez (2000) menemukan bukti bahwa perusahaan yang menerapkan standar kualitas ISO 9000 memperoleh manfaat internal dan eksternal. Manfaat internal tersebut adalah peningkatan penentuan dan standarisasi prosedur kerja, peningkatan penentuan tanggung jawab dan tugas pekerja, peningkatan keyakinan perusahaan akan kualitas, dan peningkatan keterlibatan dalam pekerjaan. Manfaat eksternal adalah memenuhi permintaan konsumen, peningkatan kemampuan untuk memasuki pasar baru, peningkatan hubungan dengan pelanggan, peningkatan pelayanan kepada pelanggan dan berkurangnya audit oleh pelanggan. LRQA (Lloyd’s Register Quality Assurance) survey dalam Wibawa (2002) melalui survei deskriptif mendapatkan data bahwa perusahaan- perusahaan yang memperoleh sertifikat ISO 9000 mengalami peningkatan kinerja di atas rata-rata industri. Sun (2000) menemukan bukti bahwa ISO 9000 berhubungan dengan kinerja perusahaan dalam aspek produktivitas dan profitabilitas.Penelitian yang dilakukan oleh Carr et al. (2000) menyimpulkan bahwa perusahaan bersertifikat ISO lebih mementingkan praktek manajemen kualitas dibandingkan dengan perusahaan yang tidak bersertifikat ISO, perusahaan bersertifikat ISO maupun non-sertifikat ISO cenderung memilih strategi bisnis yang berfokus pada biaya atau efisiensi biaya dan bukan pada strategi kualitas, serta perusahaan bersertifikat ISO maupun non-ISO cenderung mengarah pada pelaporan kinerja secara fisik dan bukan unit finansial. Menurut Levine dan Toffel (2008), menyatakan bahwa ISO mampu menurunkan tingkat kematian organisasional, penjualan dan lapangan pekerjaan tumbuh dengan pesat, total biaya gaji dan pendapatan tahunan setiap pegawai bertambah besar, dan rata-rata biaya kerugian menjadi lebih rendah pada saat mengadopsi ISO 9001. Sedangkan pada penelitian Heras et al. (2002) berkesimpulan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah memperoleh sertifikat ISO, serta kinerja keuangan perusahaan yang bersertifikat ISO lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan non-ISO. Isu tentang sistem manajemen kualitas bukan hanya menarik perhatian peneliti dari luar negeri. Beberapa peneliti dari Indonesia yang melakukan penelitian diantaranya yaitu Wibawa (2002) menyimpulkan bahwa pasar bereaksi positif terhadap pengumuman sertifikat ISO 9000 selama periode sebelum krisis dan pasar bereaksi negatif terhadap pengumuman ISO 9000 selama periode krisis moneter di Indonesia. Hasil penelitian selanjutnya dilakukan oleh Wibawa (2005) yaitu terdapat perbedaan praktek manajemenkualitas antara perusahaan bersertifikat ISO 9000 dengan perusahaan non-ISO 9000, tetapi untuk dua variabel lainnya yaitu strategi bisnis dan pelaporan kinerja tidak menemukan adanya perbedaan yang signifikan antara perusahaan bersertifikat ISO 9000 dengan perusahaan non-ISO 9000. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmar (2003) mengindikasikan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kinerja keuangan sebelum dan sesudah perusahaan memperoleh sertifikat ISO 9000 untuk keseluruhan data, namun ada perbedaan yang signifikan untuk kinerja keuangan sebelum dan sesudah perusahaan memperoleh sertifikat ISO 9000 untuk pengelompokan data berdasarkan tahun perolehan sertifikat ISO 9000, dan berdasarkan jenis sektor industri. Mengukur secara langsung nilai perolehan sertifikat ISO cukup sulit karena nilai perolehan sertifikat ISO tidak sama bagi semua perusahaan. Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh sertifikat ISO merupakan salah satu penyebabnya. Proses pendokumentasian memerlukan pengeluaran baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Investor mungkin berpikir bahwa perusahaan lebih tertarik untuk memperoleh sertifikasi daripada peningkatan kualitas itu sendiri, atau dengan penjelasan lain pemegang saham memperkirakan bahwa dalam jangka panjang perusahaan tidak dapat mengatasi biaya tambahan untuk memperbaharui sertifikasi meskipun telah terjadi pengurangan biaya perbaikan dan peningkatan dalam penjualan. Bila terjadi hal demikian, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah kinerja saham perusahaan bersertifikat ISO akan lebih buruk bila dibandingkan sebelum perusahaan memperoleh sertifikat ISO.Menurut Schipper dan Vincent dalam Boediono (2005), laporan keuangan menjadi alat utama bagi perusahaan untuk menyampaikan informasi keuangan mengenai pertanggungjawaban pihak manajemen. Penyampaian informasi melalui laporan keuangan tersebut perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak eksternal maupun internal yang kurang memiliki wewenang untuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan dari sumber langsung perusahaan. Metode yang paling sering digunakan untuk mengukur kinerja keuangan adalah financial ratio, yang di

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > HF Commerce > HF5601 Accounting
    Divisions: Fakultas Ekonomi
    Depositing User: neno sulistiyawan
    Date Deposited: 23 Aug 2013 18:57
    Last Modified: 23 Aug 2013 18:57
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/10467

    Actions (login required)

    View Item