ABNORMAL RETURN SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA SEBELUM DAN SESUDAH PERISTIWA PELEDAKAN BOM DI BALI 12 OKTOBER 2002

Hayati, Afidah (2009) ABNORMAL RETURN SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA SEBELUM DAN SESUDAH PERISTIWA PELEDAKAN BOM DI BALI 12 OKTOBER 2002. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (707Kb)

    Abstract

    Pasar modal merupakan tempat perusahaan yang membutuhkan dana untuk menjual surat berharga jangka panjangnya dan tempat para investor berinvestasi. Para investor sangat memperhatikan informasi yang dapat mempengaruhi perdagangan di pasar modal. Informasi atau fakta material didefinisikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 pasal 1 sebagai “Informasi atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek pada bursa efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut.” Informasi tersebut dapat berasal dari internal perusahaan maupun eksternal perusahaan. Informasi dari internal perusahaan misalnya pengumuman laba, dividen, stock split (pemecahan saham), merger (penggabungan perusahaan) dan sebagainya. Informasi dari eksternal perusahaan dapat berupa pengumuman peristiwa ekonomi maupun peristiwa non ekonomi. Pengumuman peristiwa ekonomi misalnya pengumuman peraturan baru oleh pemerintah, kondisi perekonomian baik nasional maupun internasional serta 12 peristiwa lain yang mampu memberi pengaruh positif atau negatif terhadap perdagangan di pasar modal. Peristiwa non ekonomi juga dapat mempengaruhi perdagangan di pasar modal. Beberapa penelitian yang telah membuktikan adanya pengaruh dari peristiwa non ekonomi terhadap perdagangan di pasar modal antara lain dilakukan oleh Suryawijaya dan Faizal (1998) yang meneliti peristiwa politik dalam negeri tanggal 27 Juli 1996, Hasmawati (1999) yang meneliti peristiwa pengunduran diri Presiden Soeharto, Gunawan (2001) yang meneliti peristiwa peledakan bom di gedung Bursa Efek Jakarta, Suyatno (2001) yang meneliti rekomendasi Sidang Istimewa, Umar dan Putu (2002) yang meneliti peristiwa Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia tanggal 30 Mei 2001, Sutarto (2002) yang meneliti Pemilihan Presiden dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 2001, Purnasari (2002) dan Nugrahini (2002) yang meneliti tragedi WTC (World Trade Center) 11 September 2001,dan Lamasigi (2002) yang meneliti peristiwa pergantian Presiden Republik Indonesia 23 Juli 2001. Informasi mempunyai peran penting bagi investor dalam membuat keputusan investasi, namun tidak semua informasi yang tersedia di pasar modal merupakan informasi yang berharga, bahkan sebagian besar tidak relevan dengan aktivitas pasar modal. Para investor harus pandai dalam memilahkan semua informasi yang ada, apakah informasi tersebut relevan dengan perdagangan di pasar modal (Suryawijaya dan Faizal, 1998). Salah satu peristiwa penting yang baru saja terjadi di akhir tahun 2002 adalah peristiwa peledakan bom di Bali tanggal 12 Oktober 2002. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa dalam negeri yang menjadi pusat perhatian dunia internasional. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2003: 34)3 Berkaitan dengan tragedi Bali, dunia internasional menyatakan keprihatinan dan mengutuk aksi terorisme tersebut. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi No. 1438 yang meminta agar seluruh anggota Dewan Keamanan PBB membantu Indonesia untuk menangkap pelaku dan pengorganisasi teror Bali serta mengajukannya ke pengadilan. Resolusi tersebut juga mengingatkan kepada seluruh anggota PBB untuk bekerjasama memerangi terorisme sebagaimana tertera pada resolusi sebelumnya yang terkait dengan Tragedi WTC, New York, 11 September 2001. Peristiwa peledakan bom di Bali tersebut menurut Biro Pengelolaan Investasi dan Riset BEJ serta BAPEPAM (2002: 42) “mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) turun tajam sebesar 38, 991 poin atau sebesar 10,36 menjadi 337,475 yang merupakan indeks terendah sejak Desember 1998.” Pengaruh peristiwa peledakan bom di Bali tersebut diperkirakan tidak hanya berdampak negatif bagi propinsi Bali saja tetapi diperkirakan berdampak negatif bagi Indonesia. Para pengamat ekonomi mengkhawatirkan peristiwa tersebut akan berpengaruh terhadap proses pemulihan perekonomian Indonesia. Ketua umum KADIN (Kamar Dagang Indonesia) Aburizal Bakrie mengatakan bahwa Peledakan bom itu berdampak luar biasa terhadap upaya pemulihan ekonomi Indonesia. “KADIN meminta pemerintah bertindak tegas dan keras terhadap upaya terorisme yang menginginkan Indonesia tidak aman”tegasnya. Akibat peledakan itu, tuturnya, industri pariwisata akan hancur dan akan terasa bagi seluruh perekonomian Indonesia (Bisnis Indonesia, 14 Oktober 2002:1). Sementara itu, menurut analisis Danareksa Research Institute, Paling pertama dibuyarkan bom Bali adalah semua proyeksi perkembangan ekonomi di tahun 2002 ini yang oleh Danareksa Research Institute diperkirakan bakal mencapai 3,2 persen, terpaksa harus direvisi menjadi 3,03 persen. Sedangkan untuk tahun 2003, angka estimasi pertumbuhan 4,1 persen harus diturunkan menjadi 3,43 persen, itu dengan catatan, apabila tidak ada kebijakan responsif dari pemerintah, baik mengenai masalah keamanan, stabilitas politik, maupun kebijakan ekonomi Tiga sektor mengalami nasib berat. Yaitu, sektor transportasi dan komunikasi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor keuangan.4 Kerugian langsung pada ekspor komoditas diperkirakan mencapai nilai Rp 1,8 trilyun di tahun 2002 ini dan Rp 7,63 trilyun rupiah di tahun 2003. diperkirakan pula, kita akan kehilangan kesempatan menciptakan lapangan kerja bagi 100.000 pengangguran di tahun 2002 ini dan 400.000 di tahun 2003(Latuhihin, 11 November 2002). Melihat besarnya dampak peristiwa peledakan bom di Bali tersebut, maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian event study (studi peristiwa) untuk menguji kandungan informasi dari peristiwa peledakan bom di Bali dengan melihat pengaruh peristiwa tersebut terhadap abnormal return (keuntungan tidak normal) saham di BEJ. Alasan peneliti memilih peristiwa tersebut adalah karena peristiwa peledakan bom di Bali merupakan peristiwa dalam negeri yang menjadi pusat perhatian dunia internasional dan pengaruhnya sangat besar baik terhadap perdagangan di pasar modal maupun perekonomian Indonesia. Pengujian kandungan informasi yang dimaksudkan untuk melihat reaksi dari suatu pengumuman. Jika suatu pengumuman mengandung informasi (information content), maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya perubahan harga dari sekuritas yang bersangkutan. Jika digunakan abnormal return, maka dapat dikatakan bahwa suatu pengumuman yang mempunyai kandungan informasi akan memberikan abnormal return kepada pasar. Sebaliknya yang tidak mengandung informasi tidak memberikan abnormal return kepada pasar. (Hartono, 2000: 392-393). Peristiwa peledakan bom di Bali dikatakan mempunyai kandungan informasi jika memberikan abnormal return saham dan sebaliknya, peristiwa tersebut tidak mempunyai kandungan informasi jika tidak memberikan abnormal return saham. Abnormal return saham merupakan selisih antara actual return (keuntungan yang sesungguhnya yang terjadi) saham dengan expected return (keuntungan yang diharapkan) saham. Expected Return saham merupakan return yang harus5 diestimasi. Ada tiga model yang dapat digunakan untuk mengestimasi expected return saham yaitu menggunakan mean-adjusted model (model disesuaikan rata- rata), market model (model pasar) dan market-adjusted model (model disesuaikan- pasar) (Hartono, 2000: 416). Penelitian ini menggunakan ketiga model penghitungan expected return saham untuk melihat apakah ketiga model menghasilkan hasil yang sama, karena berdasarkan penelitian Gunarsih dan Bambang (2002), market model dan market adjusted model menghasilkan hasil yang berbeda. Penelitian ini menggunakan sampel saham LQ 45 karena penelitian event study memerlukan sampel yang bersifat liquid dengan kapitalisasi besar, sehingga pengaruh suatu peristiwa dapat diukur dengan segera dan relatif akurat, selain itu saham LQ 45 juga merupakan saham yang aktif diperdagangkan. Saham-saham LQ 45 merupakan saham-saham terpilih yang dapat mewakili pasar. Selain itu dengan menggunakan sampel saham LQ 45 maka indeks yang digunakan adalah indeks LQ 45 yang lebih mencerminkan perubahan nilai pasar. Indeks LQ 45 merupakan indeks yang lebih akurat mencerminkan perubahan nilai pasar dari seluruh saham yang aktif diperdagangkan di BEJ daripada IHSG yang mencakup semua saham yang sebagian besar kurang aktif diperdagangkan sehingga kurang tepat digunakan sebagai indikator kegiatan pasar modal (Hartono, 2000:64). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah sebagai berikut. 1. Variabel independen dalam penelitian ini adalah peristiwa peledakan bom di Bali 12 Oktober 2002, sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya adalah peristiwa-peristiwa non ekonomi lainnya, dan6 2. Penelitian ini menggunakan tiga model dalam menghitung expected return saham dan ketiganya diuji dalam setiap pengujian hipotesis, sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya hanya menggunakan satu model kecuali Gunarsih dan Bambang (2002) yang menggunakan dua model yaitu market model dan market-adjusted model.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > HC Economic History and Conditions
    Divisions: Fakultas Ekonomi
    Depositing User: neno sulistiyawan
    Date Deposited: 22 Aug 2013 22:00
    Last Modified: 22 Aug 2013 22:00
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/10390

    Actions (login required)

    View Item