Studi banding kejadian nausea vomitus antara penggunaan isofluran dan halotan Sebagai anestesi inhalasi

Wibowo, Andry (2009) Studi banding kejadian nausea vomitus antara penggunaan isofluran dan halotan Sebagai anestesi inhalasi. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (280Kb)

    Abstract

    Andry Wibowo, G00050502, 2009 STUDI BANDING KEJADIAN NAUSEA VOMITUS ANTARA PENGGUNAAN ISOFLURAN DAN HALOTAN SEBAGAI ANESTESI INHALASI. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Anestesi inhalasi telah berkembang begitu pesat sampai saat ini. Kemampuannya untuk menjadi agen anestesi yang aman, efektif, ekonomis dan waktu pemulihan yang cepat membuat salah satu metode anestesi tertua ini tetap bertahan di tengah pesatnya perkembangan ilmu anestesi, tetapi sebagaimana metode anestesi lainnya, anestesi inhalasi ini tetap memiliki beberapa efek samping, salah satunya adalah Post Operative Nausea and Vomitus (PONV). Isofluran dan Halotan merupakan dua agen anestesi inhalasi yang cukup banyak digunakan. Banyak penelitian telah dilakukan untuk meneliti efektivitas maupun efek samping dari kedua agen anestesi tersebut, namun sampai saat ini masih banyak kontroversi mengenai potensi kedua obat di atas dalam memicu PONV. Kontroversi yang timbul ini mendesak perlunya penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan kejadian nausea vomitus antara penggunaan Isofluran dan Halotan sebagai anestesi inhalasi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani pembedahan dengan anestesi umum (general anesthesi) di IBS (Instalasi Bedah Sentral) RSUD dr Moewardi Surakarta. Data nausea dianalisis menggunakan metode Mann Whitney, sementara data vomitus dianalisis menggunakan metode Chi Square. Penelitian dengan quota sampling ini menggunakan 30 sampel yang terdiri dari 15 orang yang mendapat Isofluran, dan 15 orang yang mendapat Halotan. Hasil penelitian didapatkan pada menit ke-30 pertama, 1 orang dari kelompok Isofluran mengalami nausea kategori 5, dan 1 orang dari kelompok Halotan mengalami nausea kategori 6. Sedangkan pada menit ke-30 kedua, tidak diketemukan kejadian nausea pada kedua kelompok. Tidak ada kejadian vomitus pada kedua kelompok, baik pada menit ke-30 pertama maupun menit ke-30 kedua, maka perbedaan kejadian vomitus tidak dapat dianalisis. Simpulan dalam penelitian ini, tidak didapatkan perbedaan bermakna kejadian nausea antara Isofluran dan Halotan sebagai anestesi inhalasi. Hal ini berarti kejadian nausea Halotan tidak lebih besar dari Isofluran sehingga Halotan tetap dapat digunakan sebagai anestesi inhalasi. Kata Kunci : Isofluran-Halotan-Nausea-Vomitus-PONV

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran > Pendidikan Kedokteran
    Depositing User: neno sulistiyawan
    Date Deposited: 22 Aug 2013 21:13
    Last Modified: 22 Aug 2013 21:13
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/10382

    Actions (login required)

    View Item