Review: Biodiversity conservation strategy in a native perspective; case study of shifting cultivation at the Dayaks of Kalimantan

SETYAWAN, AHMAD DWI (2010) Review: Biodiversity conservation strategy in a native perspective; case study of shifting cultivation at the Dayaks of Kalimantan. NUSANTARA BIOSCIENCE, 2 (2). pp. 97-108. ISSN 2087-3940 (print), 2087-3956 (electronic)

[img] PDF - Published Version
Download (1758Kb)

    Abstract

    Abstrak. Setyawan AD. 2010. Review: Strategi konservasi biodiversitas dalam pandangan suku asli; studi kasus perladangan berpindah Suku Dayak di Kalimantan. Nusantara Bioscience 1: 97-108. Suku asli umumnya konservasionis sejati, mereka membangun strategi konservasi sumberdaya alam hayati dan lingkungan yang berkelanjutan. Dayak adalah suku asli Kalimantan yang telah tinggal selama ribuan tahun dan menggunakan sistem perladangan berpindah untuk mengelola hutan ulayat, karena tanah Kalimantan miskin hara mineral, dimana keberadaan fosfor menjadi faktor pembatas budidaya tanaman pangan. Di hutan tropis, kandungan terbesar fosfor tersimpan dalam pepohonan, sehingga untuk melepaskannya dilakukan pembakaran hutan. Hara yang terlepas ke dalam tanah dapat digunakan untuk bertanam padi gogo, hingga terserap habis, lalu peladang membuka hutan baru, sedangkan lahan lama ditinggalkan (bera) agar menjadi hutan kembali (selama 20-25 tahun). Pembukaan lahan yang berurutan, menyebabkan terbentuknya mosaik-mosaik lahan dengan umur suksesi dan keanekaragaman hayati beragam. Proses ini seringkali digabungkan dengan sistem agroforestri (kebun hutan multikultur), dimana ladang yang hendak ditinggalkan ditanami berbagai pohon berguna yang dapat terintegrasi pada ekosistem hutan, terutama karet dan buah-buahan. Sistem perladangan berpindah sering dikambinghitamkan sebagai faktor utama degradasi dan kebakaran hutan, namun dalam 300 tahun terakhir sistem ini berdampak kecil pada kerusakan hutan. Namun, produktivitas sistem ini relatif rendah dan subsisten, sehingga tidak sesuai dengan pertanian modern dimana produktivitas harus tinggi, hasil panen harus terukur, masal dan kontinyu, serta terkait dengan pasar. Peningkatan penduduk dan perkembangan industri kehutanan, perkebunan, pertambangan, dan lain-lain telah mempersempit luasan hutan ulayat untuk perladangan berpindah, sehingga masa bera diperpendek (5- 15 tahun) dan lahan terdegradasi menjadi padang alang-alang. Di masa depan, perladangan berpindah tetap menjadi salah satu pilihan suku Dayak untuk memenuhi kebutuhan padi, namun agroforestri perlu dikembangkan karena bernilai ekonomi lebih tinggi. Kata kunci: perladangan berpindah, agroforestri, Dayak, Kalimantan, konservasi, keanekaragaman hayati.

    Item Type: Article
    Subjects: Q Science > QH Natural history > QH301 Biology
    Divisions: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam > Biologi
    Depositing User: Vera Suryaningsih
    Date Deposited: 08 Jul 2013 23:29
    Last Modified: 08 Jul 2013 23:29
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/1017

    Actions (login required)

    View Item