BATIK KLIWONAN DI KABUPATEN SRAGEN ( Studi Nilai-nilai Filsafati Jawa Dalam Batik Kliwonan)

PURYANTI , (2010) BATIK KLIWONAN DI KABUPATEN SRAGEN ( Studi Nilai-nilai Filsafati Jawa Dalam Batik Kliwonan). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF
Download (5Mb)

    Abstract

    Puryanti, BATIK KLIWONAN DI KABUPATEN SRAGEN (Studi Nilai- nilai Filsafati Jawa Dalam Batik Kliwonan). Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2010. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan: (1) Deskripsi latar batik Kliwonan di Kabupaten Sragen. (2) Sejarah penciptaan motif batik Kliwonan di Kabupaten Sragen. (3) Nilai-nilai Filsafati Jawa yang terkandung dalam batik Kliwonan di Kabupaten Sragen. Penelitian ini mengambil lokasi di desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sample yang digunakan bersifat purposive sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Validitas data yang digunakan ialah teknik trianggulasi yaitu trianggulasi sumber data dan trianggulasi metode. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisa kualitatif dan analisa interaktif. Berdasarkan pada hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan: (1) Kerajinan batik Kliwonan di desa Kliwonan berkaitan dengan Ki Ageng Butuh. Atas jasa-jasa Ki Ageng Butuh, akhirnya desa Butuh-Kuyang dijadikan sebagai desa perdikan. Sejak dijadikan sebagai desa perdikan, maka di desa Butuh dan Kuyang berkembang juga budaya keraton yaitu batik. Dengan dijadikannya desa Butuh dan Kuyang sebagai desa perdikan, kemudian banyak orang yang menjadi abdi dalem keraton, termasuk kaum wanita. Akhirnya ada abdi dalem kriya yang menjadi tenaga pembatik di Keraton. Ketrampilan membatik kemudian dikembangkan di daerah asalnya yaitu desa Butuh-Kuyang, sehingga banyak orang khususnya kaum wanita yang dapat membatik. Ketrampilan membatik diwariskan secara turun- temurun di daerah Butuh dan Kuyang yang hanya dibatasi oleh sungai bengawan Solo. (2) Proses penciptaan motif batik meliputi beberapa hal atau aspek sampai terciptanya suatu bentuk motif, yaitu fungsi, bahan, bentuk, tehnik atau proses dan estetis. Beragam aspek ini merupakan faktor internal yang menyangkut karya batik itu sendiri. Keseluruhan aspek tersebut diawali dari ide yang dipengaruhi oleh beragam faktor eksternal (luar), misalnya budaya dan sosial. Pada batik tulis tradisional di Kliwonan ide pembuatan motifnya dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa faktor budaya dan adat. Desain motif batik tradisi yang dibuat berdasarkan tradisi secara turun-temurun sebagai salah satu wujud pelestarian budaya Jawa (khususnya) dan untuk memenuhi permintaan sehubungan dengan keperluan adat istiadat. Maka dalam motif batik tradisi di samping adanya keindahan visual, terdapat pula makna yang terkandung di dalamnya. Aspek-aspek internal pada pembuatan motif batik tulis tradisi maupun kreasi baru adalah sama, tetapi dengan ide penciptaan yang berbeda mempengaruhi keseluruhan bentuk visualnya. (3) Batik Kliwonan merupakan bagian dari batik Surakarta, sehingga motif yang ada di dalam batik sarat juga akan nilai-nilai Filsafati Jawa. Motif batik tulis tradisional di daerah Kliwonan terdiri dari : (a) Motif Semen merupakan batik klasik Semen Surakarta yang penuh dengan simbolisme yang menunjukkan pujaan terhadap kesuburan dan tata tertib alam semesta, maksud dan tujuan dari batik klasik semen terwujud dan tertuang dalam nama-nama daripada batik klasik itu sendiri, misalnya semen rama, semen cuwiri, dan semen gendhong, (b) Motif Parang dan Lereng merupakan motif batik tulis tradisional yang bermotif garis, nama parang sangat erat kaitannya dengan keberadaan Ingkang sinuhun Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram, setelah pindahnya pusat pemerintahan Jawa dari Demak ke Mataram yang merupakan tempat “teteki” atau bertapanya raja Mataram pertama yang mengilhami munculnya batik lereng atau parang sebagai ciri ageman Mataram yang berbeda dengan batik sebelumnya, (c) Motif Ceplokan artinya sekuntum yang memiliki makna tentang “kekuasaan”, interpretasi simbolisme ini diilhami dari konsep kekuasaan pada keempat ornamen utama dan satu titik yang berada di tengah- tengah motif ceplok yang menggambarkan kekuasaan raja terhadap rakyatnya serta tentang rakyat yang selalu mengelilingi dan melindungi raja.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: D History General and Old World > D History (General)
    L Education > L Education (General)
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Sejarah
    Depositing User: Afif Wandala
    Date Deposited: 25 Jul 2013 11:34
    Last Modified: 25 Jul 2013 11:34
    URI: http://eprints.uns.ac.id/id/eprint/9455

    Actions (login required)

    View Item