ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA ( TAHUN 1994:1-2008:4 )

Rahayu, Tri (2010) ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA ( TAHUN 1994:1-2008:4 ). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1878Kb)

    Abstract

    Usaha-usaha pembangunan yang dilakukan oleh negara sedang berkembang pada umumnya berorientasi pada bagaimana memperbaiki atau meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, maka untuk mempercepat pembangunan ekonomi diperlukan modal yang besar. Namun dengan adanya keterbatasan modal di suatu negara akan menyebabkan rendahnya produktivias perekonomian sehingga berakibat pada rendahnya pendapatan yang diterima masyarakat. Selanjutnya pendapatan yang rendah akan berpengaruh pada keterbatasan tabungan yang diperlukan dalam kegiatan investasi periode berikutnya. Ciri negara terbelakang ialah “modal kurang” atau “tabungan rendah” dan “investasi rendah”, tidak hanya persediaan modal yang sangat kecil tetapi juga laju pembentukan modal uang sangat rendah. Kelangkaan alat modal merupakan ciri umum lain dari Negara terbelakang diartikan sebagai perekonomian yang “miskin modal” atau dengan “tabungan dan investasi yang rendah”, bukan saja persediaan modal yang sangat kecil tetapi tingkat pemupukan modal yang sangat rendah. Investasi bruto hanya berkisar 5% sampai 6% dari pendapatan nasional bruto, sedangkan di Negara industri adalah kira-kira sebesar 15% sampai 20% ( Jhingan, M.L, 1996:32 ) . Laju tabungan yang rendah seperti itu hampir tidak cukup untuk menghadapi pertumbuhan penduduk yang cepat dengan laju 2% sampai 2,5% per tahun, apalagi berinvestasi di proyek-proyek modal baru. Akumulasi modal sangat diperlukan bagi terciptanya suatu iklim investasi yang bertujuan bagi pembangunan ekonomi negara, apabila terdapat banyak investasi maka diharapkan kegiatan ekonomi dan outputnya juga meningkat. Oleh karena itu, pemerintah negara berupaya mencari dana pembangunan yang berasal dari luar negeri. Langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah terus berupaya mencari sumber- sumber pembiayaan baru bagi pembangunan baik yang berasal dari dalam negeri ataupun luar negeri. Pembiayaan yang berasal dari luar negeri ini dapat berupa investasi ( Kustitanto dan Komariah, 1999:1 ) . Salah satu cara yang dapat ditempuh dalam pemenuhan kebutuhan akan investasi adalah dengan penanaman modal asing. Untuk negara-negara yang belum maju seperti Indonesia, penanaman modal asing memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan pinjaman komersil untuk pembiayaan pembangunan. Penanaman modal asing merupakan salah satu sumber dana dan jasa pembangunan di negara sedang berkembang berkait sifat khususnya berupa paket modal, teknologi dan keahlian manajemen yang selektif serta pemanfaatannya dapat disinkronkan dengan tahapan pembangunan negara yang bersangkutan ( Sumantoro, 1984:9 ) . Perekonomian indonesia saat ini masih dirasa tertinggal sehingga mendorong pemerintah untuk mencari sumber-sumber pembiayaan 2 pembangunan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu alternatifnya adalah berusaha untuk menggalakkan masuknya investasi langsung ( FDI ) . Sumber dana eksternal ( FDI ) ini dimanfaatkan oleh negara sedang berkembang ( Indonesia ) sebagai dana tambahan disamping tabungan domestik. Rendahnya tingkat pendapatan di negara nerkembang menyebabkan Indonesia mengalami kekurangan kapital guna pembiayaan pembangunan. Akumulasi tabungan domestik yang ada saat ini tidak mampu memenuhi kebutuhan biaya yang dibuthkan dalam proses memicu pertumbuhan ekonomi. Dan disisi lain adalah kekurangan dalam memenuhi kebutuhan devisa untuk membiayai kebutuhhan impor barang-barang modal ( capital goods ) dan impor barang-barang intermdeiate ( intermediate goods ) . Dengan demikian untuk menutupi kedua kekurangan tersebut, indonesia mengusahakan sumber dana eksternal berupa investasi asing. Disamping itu FDI juga mempunyai peranan penting bagi peningkatan ekspor suatu negara. Peranannya adalah menyediakan akses bagi perusahaan-perusahaan domestik di pasar internasional ( Pratomo, 2005:78 ) . Penggairahan iklim investasi di Indonesia dimulai dengan diundangkannya Undang-undang No. 1 /Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing ( PMA) dan Undang-Undang No. 6 /Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri ( PMDN) . Pemberlakuan kedua undang-undang ini membawa dampak bagi investasi di Indonesia yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Adanya pemberlakuan kedua undang-undang tersebut diatas, telah menciptakan iklim 3 investasi penanaman modal yang yang kondusif selama proses pembangunan ekonomi Indoesia yang dimulai sejak pelita I. Bisa dikatakan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia selama periode tersebut telah mengalami suatu proses pembangunan ekonomi yang spektakuler pada tingkat makro ( Istikomah, 2003 ) . Terakhir, adanya UU PM No.25 2007 yang merupakan suatu kemajuan besar dalam upaya selama ini menyederhanakan proses perizinan penanaman modal untuk meningkatkan investasi di dalam negeri yang diharapkan dapat mengakomodasi keinginan investor/pengusaha untuk memperoleh pelayanan yang lebih efisien, mudah, dan cepat. Inisiatif kebijakan investasi pada akhirnya berkembang pada kebijakan investasi yang mampu mendorong ekspor non-migas yang kemudian dikenal dengan paket 6 Mei yang efektif diumumkan pada tahun 1986. paket 6 Mei tersebut pada dasarnya memiliki beberapa poin penting, yaitu mendorong usaha yang sekurang-kurangnya 85% outputnya diekspor dalam bentuk pengadaan impor input dengan biaya murah melalui subsidi, memberikan fasilitas pinjaman dana bank apabila sekurang-kurangnya 75% modal saham ( equity ) dimiliki oleh orang Indonesia, bila sekurang-kurangya 51% equity ditawarkan di Jakarta Stock Exchange ( JSE ) , dan bila sekurang-kurangnya 51% equity dimiliki oleh orang Indonesia plus sekurang-kurangnya 51% dari equity yang ditawarkan 20% diantaranya ditawarkan di Jakarta Stock Exchange (Poot, Kuyvenhoven, dan Janesen dalam Sarwedi, 2002). Selain itu,dalam bentuk peraturan pemerintah seperti PP No.20 tahun 1994 tentang pemilikan saham dalam perusahaan yang didirikan asing, menetapkan bahwa investasi asing dapat dilakukan dalam bentuk yusaha patungan ( joint venture ) antara peserta indonesia dengan peserta asing, dimana peserta indonesia atau asing dapat berbentuk badan hukum atau perseorangan. Investasi asing juga dapat dibentuk sebagai investasi langsung, yang modalnya bisa dimiliki oleh warga negara dan atau badan hukum asing ( Sastrowadoyo, 1994:13 ) Keberhasilan ini dapat diukur dengan sejumlah indikator makro. Sepanjang Pembangunan Jangka Panjang I ( PJP I ) tahun 1969 sampai tahun 1993 inflasi terkendali pada persentase satu digit, laju pertumbuhan mencapai rata-rata 6,8% per tahun. Neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus sampai tahun 1996. perkembangan investasi sepanjang PJP I melebihi perkembangan pertumbuhan produksi nasional, terhitung secara komulatif telah disetujui 9.237 proyek PMDN dan 3.383 proyek PMA. Secara makro, fundamental ekonomi Indonesia dimasa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia ( World Bank, 1994:Bab 2 dalam Istikomah, 2003 ) . Namun, kemampuan menciptakan iklim investasi dan iklim ekonomi Indonesia yang kondusif tersebut tidak mampu dipertahankan. Sejak bulan Juli 1997, ketika krisis moneter yang merupakan contagion effect dari krisis moneter di Thailand mulai melanda Indonesia. Krisis moneter ini telah menyebabkan ketidakstabilan politik dan krisis sosial di masyarakat yang telah menyebabkan keberhasilan pembangunan ekonomi yang dicapai sebelumnya tidak mampu lagi dipertahankan. Akibatnya indikator-indikator ekonomi Indonesia selama krisis moneter berlangsung memperlihatkan suatu gambaran ekonomi Indonesia yang terburuk selama 32 tahun terakhir. Ketidakstabilan politik dan krisis sosial telah menjadi pendorong berkurangnya kepercayaan masyarakat luas terhadap nilai rupiah. Ketidakpercayaan tersebut didasarioleh ekspektasi masyarakat akan mekin melemahnya nilai tukar rupiah dimasa depan karena ditunjang oleh semakin tidak stabilnya iklim ekonomi dan investasi. Dalam kondisi demikian, akan tidak menguntungkan bagi seorang investor untuk memegang rupiah dan melakukan investasi di Indonesia. Motivasi investor dalam melakukan investasi hanya dalam jangka pendek saja, sehingga sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor jangka pendek misalnya tingkat suku bunga ( interest rate ) dan perilaku kebijakan. Karena bagaimanapun, resiko memegang mata uang rupiah dan kegiatan investasi di dalam negeri dalam kondisi yang sangat merugikan. Selain itu Indonesia juga dihadapkan pada masalah tenaga kerja, yaitu tingginya jumlah pengangguran. Kondisi ini terjadi karena jumlah penduduk usai kerja dan kasus pemutusan hubungan kerja yang terus meningkat akibat krisis ekonomi. Sekitar februari 2005 dan 2006 penduduk usia kerja tumbuh dari 155,6 juta orang menjadi 159, 3 orang atau bertambah 3,7 juta orang. Melihat kondisi ini, pemerintah berupaya untuk membuka peluang masuknya penanaman modal asing guna menyediakan lapangan pekerjaan yang mulai terlihat dengan menggeliatnya iklim investasi asing di Indonesia. Dari penjelasan di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi penanaman modal asing di Indonesia. Diharapkan dengan adanya penelitian ini adalah bertambahnya pengetahuan dari penulis dan pembaca mengenai penanaman modal asing di Indonesia beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini mengambil periode waktu dari tahun 1994-2008. atas dasar permasalahan di atas, peneliti mengambil judul “ Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penanaman Modal Asing di Indonesia ( Tahun 1994-2008 ) ”.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HB Economic Theory
    Divisions: Fakultas Ekonomi
    Fakultas Ekonomi > Ekonomi Pembangunan
    Depositing User: Ardhi Permana Lukas
    Date Deposited: 12 Jul 2013 09:08
    Last Modified: 12 Jul 2013 09:08
    URI: http://eprints.uns.ac.id/id/eprint/2528

    Actions (login required)

    View Item